Menu

Mode Gelap
Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT Kisah Horor Rumah Tanpa Bayangan Jejak Angka di Laporan Pelindo: Gaji dan Bonus Arman Depari Rp3,2 Miliar

News

Utang Membengkak, Laba Menyusut: PLN di Persimpangan Krisis Keuangan 2024

badge-check


					Kondisi keuangan PLN dinilai memburuk pada 2024. Center for Budget Analysis (CBA) mencatat total utang PLN mencapai Rp711,2 triliun, naik Rp56,2 triliun dibanding 2023, sementara laba bersih justru menurun. Level utang disebut mengkhawatirkan dan memberi tekanan serius pada kesehatan keuangan PLN.(Istimewa) Perbesar

Kondisi keuangan PLN dinilai memburuk pada 2024. Center for Budget Analysis (CBA) mencatat total utang PLN mencapai Rp711,2 triliun, naik Rp56,2 triliun dibanding 2023, sementara laba bersih justru menurun. Level utang disebut mengkhawatirkan dan memberi tekanan serius pada kesehatan keuangan PLN.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau ada perusahaan yang hidupnya kayak orang selalu bilang “aku baik-baik saja kok”, padahal tiap bulan gali lubang tutup lubang, mungkin namanya adalah PT PLN (Persero). Perusahaan listrik kesayangan negara ini yang monopoli sudah di tangan, pelanggan nggak punya pilihan lain—ternyata kondisi keuangannya justru lagi ngos-ngosan.

Data dari Center for Budget Analysis (CBA) bikin alis ikut naik. Sepanjang 2024, utang PLN tembus Rp711,2 triliun. Iya, betul. Triliun. Angka yang kalau dituliskan di papan tulis, gurunya capek duluan sebelum selesai.

Kenaikannya pun bukan kaleng-kaleng: ada tambahan sekitar Rp56,2 triliun dibanding 2023. Katanya sih, sebagian besar disumbang dari dua jenis utang:

  • Utang jangka pendek naik jadi Rp172 triliun
  • Utang jangka panjang membengkak sampai Rp539,1 triliun

Ibarat orang yang kredit motor, mobil, rumah, dan kos-kosan sekaligus, PLN seperti sedang mencoba mode financial survivor tingkat dewa.

Masalahnya, di saat utang naik kaya grafik perekonomian negara tetangga, laba bersih PLN malah turun drastis. Jadi ini seperti bekerja lebih keras, tapi gaji malah menciut. Bedanya, kalau kita masih bisa pindah kerja, PLN? Ya tetap harus nyalain listrik se-Indonesia.

Menurut CBA, posisi utang di level segini sudah masuk kategori:

“Yang sabar ya, semoga kuat.”

Alias: mengkhawatirkan.

Tekanan keuangan PLN kelihatan makin berat, meski statusnya perusahaan negara yang memonopoli listrik dari Sabang sampai Merauke. Ironisnya, pelanggan tetap terima SMS tagihan tiap bulan dengan penuh keteguhan iman, sementara perusahaannya sendiri sedang megap-megap mengatur napas.

Singkatnya, listrik memang tetap nyala.

Tapi laporan keuangannya… kayaknya butuh charger juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen

16 Januari 2026 - 11:14 WIB

Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD

16 Januari 2026 - 10:50 WIB

Jejak Angka di Laporan Pelindo: Gaji dan Bonus Arman Depari Rp3,2 Miliar

15 Januari 2026 - 15:25 WIB

KUHAP Baru Berlaku, KPK Tak Lagi Tampilkan Tersangka dalam Konferensi Pers

13 Januari 2026 - 07:12 WIB

Tersangka Korupsi Kuota Haji, Harta Yaqut Cholil Qoumas Melonjak Jadi Rp13,7 Miliar

13 Januari 2026 - 07:04 WIB

Trending di News