Menu

Mode Gelap
Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

Kolom Angker

Kisah Tawa Anak Kecil dari Balik Pintu Terkunci

badge-check


					Foto: Ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto: Ilustrasi (Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – KOLOM ANGKER –Nama saya Arif Rahman. Saya tidak tahu apakah menulis ini keputusan yang benar. Setiap kata seperti mengetuk pintu yang seharusnya tetap terkunci. Tapi ada sesuatu dari penginapan itu yang tidak suka dilupakan. Ia selalu mencari jalan untuk diingat.

Jalan yang Terlalu Sunyi

Kabut turun sebelum kami sampai. Bukan kabut biasa terlalu tebal, terlalu berat. Lampu mobil seperti ditelan putih. Jalan Puncak yang seharusnya ramai terasa kosong, mati, seolah kami satu-satunya yang masih bergerak.

Ketika papan kayu bertuliskan Penginapan Keluarga muncul, mesin mobil mendadak mati.

Saya ingat jantung saya berdetak terlalu keras saat itu.

Bangunan itu berdiri menyendiri, jendelanya gelap seperti mata yang sengaja dipejamkan. Ada perasaan kuat bahwa tempat itu sedang menunggu.

Peringatan Pertama

Pemiliknya keluar tanpa suara. Pria tua dengan mata cekung, wajahnya seperti belum tidur bertahun-tahun. Ia memberikan kunci kamar tanpa senyum.

“Lewat jam sebelas,” katanya pelan,

“jangan buka pintu… walaupun dipanggil.”

Saya tertawa canggung.

Ia tidak ikut tertawa.

Lorong yang Bernapas

Lorong lantai dua sempit, lampunya redup, berwarna kuning sakit. Setiap langkah kami memantul aneh, seolah lorong itu mengulang suara kami dengan napasnya sendiri.

Anak bungsu saya berhenti mendadak.

“Ayah… ada yang berdiri di belakang kita.”

Lampu mati.

Gelap total.

Saya mendengar napas tepat di belakang telinga saya.

Lampu menyala kembali.

Lorong kosong.

Tapi bau tanah basah tertinggal.

Malam Pertama: Sesuatu Masuk

Tepat pukul sebelas malam, udara kamar berubah. Dingin yang menusuk tulang. Bau melati dan besi karat bercampur.

Ibu saya berbisik dengan suara gemetar,

“Ada yang duduk di kursi itu…”

Kursi kosong.

Lalu kursi itu bergerak sendiri.

Beberapa sentimeter.

Pelan.

Seperti diduduki sesuatu yang sangat berat.

Tengah Malam: Ketukan yang Salah

Saya terbangun karena suara ketukan keras.

Bukan dari pintu.

Dari dinding.

DUK. DUK. DUK.

Dari balik dinding, terdengar suara anak kecil menangis.

“Tolong… aku kedinginan…”

Istri saya menutup mulut anak-anak agar tidak bersuara.

Ketukan itu berpindah.

Sekarang dari plafon.

Malam Kedua: Di Bawah Tempat Tidur

Anak sulung saya menunjuk ke bawah tempat tidur.

“Ayah… tangannya panjang.”

Saya menunduk

DUA TANGAN HITAM mencengkeram kaki ranjang dari bawah.

Jarinya kurus, kukunya panjang, dan perlahan bergerak naik.

Saya berteriak.

Lampu mati.

Dalam gelap, saya mendengar sesuatu merangkak keluar.

Dan tertawa.

Pukul Sebelas: Mereka Bangun

Malam ketiga.

Tepat pukul sebelas.

SELURUH PENGINAPAN TERDIAM.

Listrik padam.

Jam tangan saya berhenti.

Dari lorong terdengar suara banyak kaki berjalan bersamaan.

Bukan satu.

Puluhan.

Suara anak-anak tertawa, bercampur tangisan orang dewasa.

Pintu kamar diketuk dari luar.

Lalu suara ibu saya

padahal ia pingsan di ranjang.

“Arif… buka pintunya.”

Pegangan pintu diputar.

Dari celah bawah pintu, cairan hitam merembes masuk.

Berbau busuk.

Mereka Sudah Masuk

Saya membaca doa keras-keras.

Tiba-tiba anak bungsu saya menjerit.

“Ayah! Mereka di belakang Ayah!”

Saya berbalik

SEMUA JENDELA DIPENUHI WAJAH.

Mata hitam.

Mulut tersenyum terlalu lebar.

Lampu menyala mendadak.

Semua hilang.

Ibu saya terbaring kaku. Napasnya hampir tidak ada.

Pagi yang Salah

Di lorong, ada bekas telapak tangan di dinding. Tinggi melebihi orang dewasa.

Di depan kamar kami, tertulis dengan lumpur:

“KALIAN SUDAH KELUARGA.”

Foto Terakhir

Di tas saya, sebuah foto lama muncul.

Kami semua ada di foto itu.

Berdiri di depan penginapan.

Dengan satu anak tambahan.

Wajahnya hitam.

Saya bertanya pada pemilik penginapan.

Ia menangis.

“Mereka tidak suka ditinggal,” katanya.

“Yang pergi… biasanya kembali.”

Setelah Pulang

Anak saya kini sering tertawa sendiri di tengah malam.

Ia berkata,

“Mereka nggak suka kalau lampu dinyalakan.”

Dan setiap pukul sebelas,

pintu kamar kami selalu diketuk.

Dari dalam.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

26 Maret 2026 - 16:05 WIB

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Teror Mencekam Lantai 15 Sudirman–Thamrin: Sosok Pria Melayang dan Wanita di Plafon Menghantui Shift Malam

26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Trending di Kolom Angker