KOLOM ANGKER – Dua minggu menjelang akhir Desember, jalanan Pantura seperti tak pernah tidur dan aku sudah terlalu lama terjaga untuk peduli.
Namaku Beno. Sopir ekspedisi. Bandung, Jakarta, Cirebon, Semarang, berulang seperti lingkaran setan. Tiga hari. Lebih dari seribu kilometer. Mataku perih, punggungku seperti dipukul palu. Hujan rintik menyamarkan lampu kota Semarang jadi garis-garis buram, seperti air mata yang ditarik panjang.
Pukul 22.30, ponselku bergetar.
“Pak Beno, maaf ya… hotel dekat gudang penuh semua. Coba ke Jalan Diponegoro. Masih ada satu. Hotel Siranda.”
Biasanya aku tidur di hotel depan gudang. Atau, kalau penuh, numpang di rumah teman jaraknya cuma lima belas menit jalan kaki. Tapi malam itu, entah kenapa, aku tak ingin ke mana-mana lagi. Aku ingin kasur. Pintu tertutup. Sunyi.
Aku mengangguk sendiri dan memutar kemudi.
Hotel Siranda berdiri di ujung Jalan Diponegoro seperti bangunan yang lupa mati. Catnya pudar. Jendela-jendelanya berdebu tebal. Lampu neon di sisi bangunan berkedip tak tentu tek… tek… tek seolah menolak menyala penuh. Papan nama akrilik emasnya kusam, satu huruf menggantung miring, siap jatuh kapan saja.
Begitu aku turun dari mobil box, angin berubah dingin. Bukan dingin biasa dingin yang menembus jaket, langsung ke tulang. Suara kota mendadak terasa jauh, seperti ditelan ruang kosong.
Resepsionis menyambutku. Pria kurus. Senyumnya terlalu datar. Matanya tak berkedip saat menyerahkan kunci.
Kamar 307.
Koridor lantai tiga panjang dan sempit. Lampunya redup. Setiap langkahku membuat lantai kayu berderit pelan, seolah ada yang ikut berjalan di belakang tapi ketika aku menoleh, lorong itu kosong.
Pintu 307 terbuka.
Bau apek menyergap. Campuran kapur barus tua, jamur, dan sesuatu yang asam bau kamar yang terlalu lama ditinggalkan. Lampu menyala setengah hati. AC berdengung rendah, seperti napas seseorang yang tertahan.
Kasurnya besar. Terlalu besar untuk satu orang.
Seperti kebiasaanku, aku mencopot anak kunci dan menyelipkannya di bawah bantal. Entah sugesti atau kebodohan aku selalu merasa aman begitu.
Aku mandi singkat. Jam 23.45. Tubuhku roboh ke kasur.
Dan saat mataku hampir tertutup…
ssrrrrtt…
Seperti kain kasar diseret di lantai.
Pelan. Tepat… di bawah ranjangku.
Aku membuka mata. Menahan napas. Suara itu bergerak beberapa detik, lalu berhenti. Sunyi kembali menelan kamar.
“Capek,” gumamku. “Halusinasi.”
Aku menarik selimut dan memejamkan mata.
Aku tertidur.
Entah berapa lama tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang sama.
Kali ini lebih dekat.
Lebih jelas.
SSRRRRT… SSRRRT…
Kulitku merinding. Itu bukan tikus. Bukan kucing. Ada ritme. Ada niat.
Aku turun dari kasur dan berlutut. Melongok ke bawah ranjang.
Kosong.
Tak ada apa-apa.
Aku menghela napas dan saat itulah rasa kebelet menyerang. Aku ke toilet. Baru saja berdiri di depan kloset
SSRRRRT…
Suara itu lagi. Dari arah kamar.
Aku menyelesaikan urusan secepat mungkin dan keluar. Sunyi. Aku duduk di tepi kasur, menyalakan rokok. Tangan sedikit gemetar.
Belum habis setengah batang
Sesuatu menyentuh pergelangan kakiku.
Dingin.
Lengket.
Seperti tangan yang baru diangkat dari air kotor.
Aku melonjak berdiri dan menunduk.
TANGAN.
Hitam. Keriput.
Mencengkeram kakiku dari kolong ranjang.
Aku menjerit dan mengibaskan kaki. Genggamannya tak lepas. Dan saat aku melihat lebih jelas
Tangan itu buntung.
Terpotong di bawah siku.
Tak ada tubuh. Tak ada lengan.
Aku menariknya dengan dua tangan dan melemparkannya ke arah pintu toilet.
BRAK!
Tapi… tangan itu tidak diam.
Jarinya bergerak.
Merayap di lantai.
Mendekat.
Aku mundur, napasku tercekik. Aku berlari ke pintu lalu teringat.
Anak kunci. Di bawah bantal.
Panik. Otakku seperti dipukul. Tangan buntung itu semakin dekat. Gerakannya cepat sekarang bukan diseret, tapi merangkak.
Aku meloncat, meraih bantal, menemukan kunci. Saat aku menoleh
Tangan itu berhenti.
Diam.
Seperti… menunggu.
Berjarak setengah meter dari pintu.
Lalu
MELAYANG.
Dalam sekejap, tangan itu menghantam wajahku.
Dingin.
Lengket.
Bau busuk menyambar hidung bau bangkai basah yang lama terendam hujan.
Aku menjerit dan melemparnya entah ke mana. Aku tak peduli lagi. Pintu terbuka. Aku lari ke tangga.
Kupikir sudah selesai.
Aku salah.
Di tengah tangga, dari langit-langit gelap, sesuatu melayang turun.
Kain putih.
Bukan pocong.
Tak berbentuk manusia.
Kain itu berputar, membentuk siluet aneh, bergerak pelan ke arahku. Udara di sekitarnya terasa berat, seperti ditekan dari segala arah.
Aku menunduk dan lari.
Lantai satu. Lorong. Resepsionis kosong.
Aku keluar. Parkiran. Mobil box. Aku tancap gas tanpa menoleh. Beberapa barangku tertinggal aku tak peduli.
Aku sampai di rumah teman menjelang subuh. Wajahku pucat. Tanganku masih gemetar. Setelah mendengar ceritaku, wajahnya berubah serius.
“Siranda?” katanya pelan.
“Orang jarang nginep di situ. Banyak kejadian. Ada yang jatuh dari lantai dua… katanya lihat pocong melayang di koridor.”
Paginya, kami kembali. Matahari menyinari Jalan Diponegoro. Hotel itu terlihat… biasa.
Resepsionis ada.
Bapak yang sama.
“Kenapa keluar malam-malam, Pak?” tanyanya. “Saya di sini terus. Nggak lihat Bapak turun.”
Aku tak menjawab.
Beberapa tahun kemudian, Hotel Siranda menghilang dari pembicaraan. Papan namanya lenyap. Bangunannya sunyi. Seperti ditelan waktu.
Orang bilang tempat itu sudah lama tak beroperasi.
Katanya, penghuninya tak ramah.
Aku tak tahu mana yang benar.
Tapi sampai sekarang, kadang saat aku tertidur…
aku masih bisa merasakan dingin di pergelangan kaki.
Dan bau busuk itu.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi mengambil rute Semarang.
Dan mungkin…
itu keputusan paling bijak dalam hidupku.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











