Menu

Mode Gelap
Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol Rayakan Idul Adha, DKM Grand Center Point Bekasi Rajut Toleransi Antar Umat Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti Zimperium Bongkar 250 Aplikasi Android Palsu yang Diam-Diam Daftarkan Korban ke Layanan Premium Hotman Paris Balas Natalius Pigai: “Gajimu Enggak Sebanding dengan Pendapatanku” Kemenkeu Mengaku Tak Tahu Soal APBN untuk Kurban Prabowo: “Tanya Mensesneg”

Kolom Angker

Kisah Horor Rumah Tanpa Bayangan

badge-check


					Foto ilustrasi (istimewa) Perbesar

Foto ilustrasi (istimewa)

KOLOM ANGKER – Tidak semua rumah memiliki bayangan.

Sebagian… menelannya.

Di ujung desa yang bahkan tak tercatat di peta, berdiri sebuah rumah kayu tua. Rumah itu sendirian. Terlalu sendirian. Di belakangnya, hutan lebat membentang seperti mulut raksasa yang selalu terbuka, menunggu siapa pun lengah untuk ditelan.

Tak ada listrik.

Tak ada jalan.

Tak ada manusia lain dalam radius ratusan meter.

Hanya Aldo, Amira, dan bayi mereka yang baru berusia empat bulan.

Malam selalu datang lebih cepat di sana. Dan ketika gelap tiba, gelap itu tidak pernah benar-benar pergi.

MALAM ITU, SUNYI TERLALU SEMPURNA

Pukul sebelas malam.

Aldo berjalan menuju danau dengan lampu minyak di tangan. Ia menoleh ke rumah sekali lagi. Jendela gelap. Istrinya pasti sudah tertidur bersama bayi mereka.

Ia tidak tahu…

Itu adalah terakhir kalinya ia melihat rumah itu dalam keadaan “normal”.

Beberapa menit setelah Aldo menghilang di balik pepohonan WAAAAAAAAAAAHHHHH!!!

Tangisan bayi pecah seperti teriakan orang disembelih.

Amira terbangun dengan jantung nyaris copot. Bayinya menangis bukan seperti biasa. Tangis itu melengking, panjang, seperti menjerit minta tolong.

Ia menggendong anaknya.

Menyusui.

Mengayun.

Membacakan doa.

Tak ada yang berhasil.

Mata bayi itu… terbuka lebar, terlalu lebar untuk bayi empat bulan. Bola matanya tak berkedip. Menatap langit-langit rumah yang gelap.

Padahal…

tidak ada apa-apa di sana.

Atau setidaknya…

tidak seharusnya ada.

Tiba-tiba

DUK!

Suara keras dari atap.

Amira menjerit kecil.

Bayinya menangis semakin kencang, seolah sesuatu di atas sana baru saja mendarat.

TANGIS YANG BERHENTI TERLALU TIBA-TIBA

Pukul tiga dini hari.

Aldo pulang dengan langkah ringan dan ember penuh ikan. Senyumnya mengembang… lalu langsung menghilang.

Rumah itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Tak ada tangis.

Tak ada suara ayunan.

Tak ada napas bayi.

“A… Amira?” panggilnya.

Tak ada jawaban.

Lalu ia melihatnya.

Amira duduk di dapur, membelakanginya, membersihkan ikan di bawah cahaya lampu minyak. Gerakannya halus… terlalu halus. Seperti boneka.

Aldo mendekat.

Dan saat itulah

JANTUNGNYA HAMPIR BERHENTI.

Amira mengupas sisik ikan dengan kuku.

Kuku itu panjang, hitam, melengkung seperti cakar.

Setiap goresannya mengeluarkan suara…

krssss… krssss…

Dan kaki Amira…

MELAYANG.

Tidak menyentuh lantai.

Tidak menjejak bumi.

Aldo menoleh ke ayunan.

Tangannya gemetar saat membuka selimut.

Dan

BAYI ITU BIRU.

Dingin.

Kaku.

Tak bernapas.

Saat itulah Aldo sadar.

Makhluk itu bukan sedang membersihkan ikan.

Ia sedang kenyang.

“DIA MELIHATMU”

Aldo mundur pelan, memeluk jasad bayinya.

Tiba-tiba

“KAMU LIHAT APA?”

Suara Amira terdengar…

tapi bukan dari mulutnya.

Suara itu datang dari belakang Aldo.

Ia membeku.

Perlahan…

kepalanya menoleh.

Wajah Amira kini menghadapnya.

Mata merah menyala.

Mulutnya terbelah sampai telinga.

Giginya runcing, basah oleh sesuatu yang hitam.

“GILIRANMU.”

KEJARAN DALAM GELAP

Pintu rumah berderit keras.

KRRRIIIEEETTT!!!

Makhluk itu menjerit—

jeritan yang terdengar seperti tulang patah dicampur tawa.

Aldo berlari.

Hutan menelan cahaya.

Cabang mencakar wajahnya.

Napasnya tersengal.

Di belakangnya—

SESUATU MELAYANG CEPAT.

Ia jatuh.

Tubuhnya terjerembab ke tanah basah.

Langkah itu berhenti tepat di belakangnya.

Napas panas menyentuh tengkuknya.

Cakar hampir menyentuh lehernya

LALU…

ALLAHU AKBAR…

Adzan Subuh.

Suara itu memecah malam.

Makhluk itu menjerit keras

jeritan yang membuat dedaunan gugur.

Dan…

menghilang.

PAGI YANG TIDAK PERNAH SAMA

Aldo selamat.

Bayinya tidak.

Warga desa menemukan Aldo duduk membatu di pinggir jalan, memeluk tubuh kecil yang sudah tak bernyawa.

Rumah itu kini kosong.

Tak ada yang berani mendekat.

Karena kata warga

setiap malam,

lampu minyak di dapur rumah itu masih menyala sendiri.

Dan dari dalam…

kadang terdengar suara kuku menggores baskom.

krssss… krssss…

Seperti seseorang…

yang masih lapar.

Editor : Irfan Ardhiyanto 


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti

28 Mei 2026 - 22:04

Teror Rumah Bekas Makam: Sosok Bermulut Sobek Itu Menyamar Jadi Anak Pak Sawon

15 Mei 2026 - 00:53

Keangkeran Telaga Sunyi: Makhluk Peniru Wajah Mengintai di Dasar Telaga Gunung Slamet

8 Mei 2026 - 02:23

“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi”

29 April 2026 - 01:01

Rumah Dokter Tua di Pakem Orderan yang Tidak Pernah Selesai

16 April 2026 - 21:27

Trending di Kolom Angker