PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Dalam hidup, ada dua hal yang sering datang belakangan: kesadaran dan penyesalan. Dan kali ini, keduanya tampaknya sedang mampir ke karier Radja Nainggolan.
Pemain yang dulu dikenal dengan gaya main “galak tapi elegan” itu tiba-tiba membuka kembali lembar lama yang mungkin selama ini sengaja ia lipat rapat-rapat. Dalam sebuah wawancara, ia tidak lagi bicara soal taktik atau pertandingan, tapi soal hal yang lebih sensitif: rasa tidak dihargai oleh negaranya sendiri.
Ketika Loyalitas Nggak Selalu Dibalas
Kalau sepak bola itu soal dedikasi, maka Nainggolan sebenarnya sudah menyerahkan cukup banyak untuk Timnas Belgia. Ia bermain dengan karakter, tenaga, dan mungkin juga ego yang tidak kecil sesuatu yang justru sering dibutuhkan dalam pertandingan besar.
Tapi hasil akhirnya? Hanya sekitar 30 penampilan.
Jumlah yang, kalau dipikir-pikir, terasa janggal untuk pemain dengan kualitas dan pengaruh seperti dia di masa jayanya.
Dalam wawancara bersama Voetbal Primeur, Nainggolan mengaku sudah memberikan segalanya. Waktu, tenaga, bahkan mungkin kompromi terhadap gaya hidupnya. Tapi yang ia dapat justru perasaan seperti “dipakai seperlunya, lalu dilupakan”.
Dan dari situlah kalimat yang cukup menggelitik itu muncul:
“Kalau saya tahu akan berakhir seperti ini, saya akan memilih Indonesia lebih awal.”
Kalimat yang terdengar sederhana, tapi kalau dibaca pelan-pelan, isinya campuran antara kecewa, jujur, dan sedikit getir.
Dicoret dari Panggung Terbesar
Puncak kekecewaan itu terjadi menjelang Piala Dunia 2018. Saat banyak pemain bermimpi masuk skuad, Nainggolan justru harus menerima kenyataan dicoret.
Alasannya? Bukan karena kualitas, tapi karena dianggap bisa mengganggu suasana tim dari bangku cadangan.
Di titik ini, ceritanya jadi agak ironis. Pemain yang dikenal penuh energi dan karakter justru dianggap terlalu “berisik” untuk sebuah tim yang butuh warna.
Dan mungkin, sejak saat itu, hubungan antara Nainggolan dan tim nasionalnya mulai retak—pelan tapi pasti.
Indonesia dan Rasa Dihargai yang Sederhana
Menariknya, justru ketika kariernya tidak lagi berada di puncak Eropa, Nainggolan menemukan sesuatu yang selama ini terasa hilang: apresiasi.
Dalam perbincangan di De Tafel van Gert, ia mengaku merasakan atmosfer yang berbeda saat berinteraksi dengan publik Indonesia. Lebih hangat, lebih tulus, dan mungkin lebih manusiawi.
Sebuah kontras yang cukup jauh dibandingkan dengan pengalaman profesionalnya di Belgia yang ia sebut terasa “dingin”.
Di sini kita jadi ingat satu hal sederhana: kadang, yang dicari pemain bukan cuma trofi atau menit bermain, tapi juga rasa dihargai.
Dan itu tidak selalu datang dari tempat yang paling “prestisius”.
Sepak Bola, Ego, dan Pilihan yang Terlambat
Cerita Nainggolan ini pada akhirnya bukan cuma soal sepak bola. Ini soal pilihan, ego, dan waktu yang tidak bisa diputar ulang.
Karena dalam karier seperti juga dalam hidup tidak semua keputusan bisa dikoreksi di akhir. Ada yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, meski rasanya kurang adil.
Dan mungkin, di antara semua hal yang ia sesali, satu yang paling terasa adalah ini: bukan soal tidak cukup bagus, tapi soal tidak cukup dipercaya.











