Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

News

17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis

badge-check

Sebanyak 17 korban kecelakaan KRL Bekasi Timur masih dirawat di RSUD CAM, 3 jalani operasi dan 2 dirujuk ke RS tipe A karena kondisi serius. Perbesar

Sebanyak 17 korban kecelakaan KRL Bekasi Timur masih dirawat di RSUD CAM, 3 jalani operasi dan 2 dirujuk ke RS tipe A karena kondisi serius.

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Kecelakaan KRL di Bekasi Timur belum benar-benar selesai ceritanya. Setelah hiruk-pikuk di lokasi kejadian mereda, drama justru berlanjut di ruang-ruang rumah sakit sunyi, tapi penuh ketegangan.

Di RSUD Chasbullah Abdulmadjid, hingga Kamis (30/4/2026) pukul 15.00 WIB, masih ada 17 korban yang menjalani perawatan. Jumlah ini memang sudah berkurang dibanding hari sebelumnya, tapi bukan berarti semuanya baik-baik saja.

Wakil Direktur Utama RSUD CAM, Sudirman, memastikan angka itu turun lima pasien dari hari sebelumnya.
“Sisanya 17 (pasien),” kata dr. Sudirman kepada awak media.

Di balik angka itu, ada cerita yang tidak sederhana. Dari 17 pasien, tiga di antaranya harus masuk ruang operasi hari ini. Bukan karena pilihan, tapi karena kondisi luka yang cukup berat.

“Tentunya kalau perawatan kan dengan kondisi sedang berat ya. Kalau kondisi ringan kan kita boleh pulangkan,” ucap dr. Sudirman.

Artinya jelas: yang masih bertahan di ruang perawatan bukan mereka yang sekadar luka gores. Mereka yang masih di sana adalah yang benar-benar butuh perhatian lebih.

Antara Pulang dan Bertahan di Ruang Rawat

Meski begitu, ada secercah harapan. Secara bertahap, pasien akan dipulangkan tentu setelah melewati serangkaian observasi medis yang ketat.

Untuk pasien tanpa operasi, masa rawat biasanya berkisar lima hari sampai satu minggu. Tapi bagi yang baru keluar dari meja bedah, ceritanya beda.

“Kalau yang pasca-operasi biasanya bisa sampai satu minggu, sampai 10 hari gitu kan. Tapi kalau cuma observasi tanpa operasi, biasanya sekitar 5 hari lah. 5 hari sampai 1 minggu,” jelasnya.

Di titik ini, waktu jadi penentu. Sabar jadi obat tambahan.

Dua Pasien Dirujuk, Bukan Tanpa Alasan

Di tengah keterbatasan, rumah sakit juga harus realistis. Ada kondisi yang memang butuh penanganan lebih canggih.

Dua pasien Dewi Suryani dan Endang Kuswati akhirnya dirujuk ke rumah sakit tipe A, yakni Primaya Hospital dan Eka Hospital.

“Kemarin (29/4) ada dua pasien dirujuk. Itu perlu pemantauan lebih ketat dan butuh sarana yang lebih canggih lagi,” kata dr. Sudirman.

Alasannya bukan main-main. Keduanya mengalami kondisi yang disebut compartment syndrome—semacam penyumbatan pembuluh darah yang bisa berujung fatal jika terlambat ditangani.

“Ada compartment syndrome. Jadi ada semacam penyumbatan pembuluh darah. Nah, itu yang kita khawatirkan jadi harus ditangani khusus. Perlu observasi yang lebih ketat dengan peralatan yang lebih lengkap dan dokter ahli yang lebih memadai, gitu. Jadi kita khawatir terjadi perburukan, ya kemarin kita rujuk dua pasien tersebut,” ungkapnya.

Ketika Sistem Kesehatan Ikut Diuji

Di balik keputusan rujukan itu, ada realita yang tidak bisa dihindari: kapasitas.

RSUD CAM memang rumah sakit tipe B. Sementara untuk kasus yang lebih kompleks, rumah sakit tipe A jelas punya fasilitas dan tenaga yang lebih lengkap.

“Kita mencari yang lebih memadai (penanganannya). Jadi kita kan kemarin banyak, banyak korban, jadi dokter-dokter spesialis juga kan fokusnya terbagi. Jadi kami berkoordinasi dengan PT KAI supaya nanti perawatannya lebih intens, mungkin ini (dirujuk), ke yang tipe A ya, kalau kita kan masih tipe B. Ya jadi tentunya dari sisi sarana prasarana lebih memadai di sana,” imbuh dr. Sudirman.

Di titik ini, kecelakaan bukan cuma soal rel dan kereta. Tapi juga soal seberapa siap sistem kesehatan menampung dampaknya.

Dan sejauh ini, pertarungan itu masih berlangsung di ruang operasi, di ruang observasi, dan di antara harapan yang belum selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Delapan Jam Menunggu Kamar Rawat, Dihujat karena BPJS, Kisah Yurizal Berakhir Pilu

5 Agustus 2026 - 10:48

Trending di News