PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Kecelakaan KRL di Bekasi Timur belum benar-benar selesai ceritanya. Setelah hiruk-pikuk di lokasi kejadian mereda, drama justru berlanjut di ruang-ruang rumah sakit sunyi, tapi penuh ketegangan.
Di RSUD Chasbullah Abdulmadjid, hingga Kamis (30/4/2026) pukul 15.00 WIB, masih ada 17 korban yang menjalani perawatan. Jumlah ini memang sudah berkurang dibanding hari sebelumnya, tapi bukan berarti semuanya baik-baik saja.
Wakil Direktur Utama RSUD CAM, Sudirman, memastikan angka itu turun lima pasien dari hari sebelumnya.
“Sisanya 17 (pasien),” kata dr. Sudirman kepada awak media.
Di balik angka itu, ada cerita yang tidak sederhana. Dari 17 pasien, tiga di antaranya harus masuk ruang operasi hari ini. Bukan karena pilihan, tapi karena kondisi luka yang cukup berat.
“Tentunya kalau perawatan kan dengan kondisi sedang berat ya. Kalau kondisi ringan kan kita boleh pulangkan,” ucap dr. Sudirman.
Artinya jelas: yang masih bertahan di ruang perawatan bukan mereka yang sekadar luka gores. Mereka yang masih di sana adalah yang benar-benar butuh perhatian lebih.
Antara Pulang dan Bertahan di Ruang Rawat
Meski begitu, ada secercah harapan. Secara bertahap, pasien akan dipulangkan tentu setelah melewati serangkaian observasi medis yang ketat.
Untuk pasien tanpa operasi, masa rawat biasanya berkisar lima hari sampai satu minggu. Tapi bagi yang baru keluar dari meja bedah, ceritanya beda.
“Kalau yang pasca-operasi biasanya bisa sampai satu minggu, sampai 10 hari gitu kan. Tapi kalau cuma observasi tanpa operasi, biasanya sekitar 5 hari lah. 5 hari sampai 1 minggu,” jelasnya.
Di titik ini, waktu jadi penentu. Sabar jadi obat tambahan.
Dua Pasien Dirujuk, Bukan Tanpa Alasan
Di tengah keterbatasan, rumah sakit juga harus realistis. Ada kondisi yang memang butuh penanganan lebih canggih.
Dua pasien Dewi Suryani dan Endang Kuswati akhirnya dirujuk ke rumah sakit tipe A, yakni Primaya Hospital dan Eka Hospital.
“Kemarin (29/4) ada dua pasien dirujuk. Itu perlu pemantauan lebih ketat dan butuh sarana yang lebih canggih lagi,” kata dr. Sudirman.
Alasannya bukan main-main. Keduanya mengalami kondisi yang disebut compartment syndrome—semacam penyumbatan pembuluh darah yang bisa berujung fatal jika terlambat ditangani.
“Ada compartment syndrome. Jadi ada semacam penyumbatan pembuluh darah. Nah, itu yang kita khawatirkan jadi harus ditangani khusus. Perlu observasi yang lebih ketat dengan peralatan yang lebih lengkap dan dokter ahli yang lebih memadai, gitu. Jadi kita khawatir terjadi perburukan, ya kemarin kita rujuk dua pasien tersebut,” ungkapnya.
Ketika Sistem Kesehatan Ikut Diuji
Di balik keputusan rujukan itu, ada realita yang tidak bisa dihindari: kapasitas.
RSUD CAM memang rumah sakit tipe B. Sementara untuk kasus yang lebih kompleks, rumah sakit tipe A jelas punya fasilitas dan tenaga yang lebih lengkap.
“Kita mencari yang lebih memadai (penanganannya). Jadi kita kan kemarin banyak, banyak korban, jadi dokter-dokter spesialis juga kan fokusnya terbagi. Jadi kami berkoordinasi dengan PT KAI supaya nanti perawatannya lebih intens, mungkin ini (dirujuk), ke yang tipe A ya, kalau kita kan masih tipe B. Ya jadi tentunya dari sisi sarana prasarana lebih memadai di sana,” imbuh dr. Sudirman.
Di titik ini, kecelakaan bukan cuma soal rel dan kereta. Tapi juga soal seberapa siap sistem kesehatan menampung dampaknya.
Dan sejauh ini, pertarungan itu masih berlangsung di ruang operasi, di ruang observasi, dan di antara harapan yang belum selesai.







