PRABAINSIGHT.COM – Kalau selama ini kecerdasan buatan (AI) dikenal rakus listrik, ternyata ada “tagihan” lain yang mulai bikin pemerintah waswas: air bersih.
Di Inggris, ambisi besar menjadi salah satu pusat pengembangan AI dunia kini mulai dibayangi persoalan yang jauh lebih membumi. Bukan soal chip, bukan soal listrik, melainkan apakah masih ada cukup air untuk mendinginkan ribuan server yang bekerja tanpa henti.
Peringatan itu datang dari Water UK, organisasi yang mewakili perusahaan penyedia air di Inggris dan Irlandia Utara. Dalam dokumen yang disampaikan kepada anggota parlemen, organisasi tersebut menilai rencana pemerintah mempercepat pembangunan data center demi menopang industri AI berpotensi memicu krisis pasokan air jika kebijakan yang ada tidak segera diperbaiki.
Masalahnya, menurut Water UK, pemerintah terlalu sibuk menghitung pertumbuhan ekonomi digital, tetapi lupa memasukkan satu variabel penting: kebutuhan air.
Organisasi itu menyebut proyeksi kebutuhan air nasional yang digunakan pemerintah masih “sangat keliru” karena sama sekali tidak memperhitungkan lonjakan konsumsi air dari pusat-pusat data yang terus bertambah.
Padahal, di balik kecanggihan chatbot, layanan cloud, hingga teknologi AI generatif, terdapat ribuan server yang menghasilkan panas luar biasa. Agar tetap beroperasi stabil, server-server tersebut membutuhkan sistem pendingin yang mengandalkan air dalam jumlah besar.
Air digunakan secara langsung untuk sistem pendingin, chiller, hingga pengatur kelembapan ruangan. Belum lagi konsumsi air tidak langsung yang muncul akibat kebutuhan listrik pusat data yang sangat tinggi.
Ironisnya, menurut Water UK, berbagai kebijakan pemerintah mengenai pengembangan AI juga belum secara serius membahas bagaimana menjamin ketersediaan air bagi industri tersebut.
“Tampaknya ada asumsi bahwa negara akan selalu memiliki cukup air untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Kenyataannya justru jauh dari itu,” tulis Water UK, dikutip dari The Guardian, Selasa (21/7).
Data Center Dibangun di Wilayah yang Justru Kekurangan Air
Yang membuat situasi semakin pelik adalah lokasi pembangunan pusat data.
Water UK mencatat lebih dari 75 persen data center di Inggris berada di wilayah selatan dan timur negara itu. Sayangnya, kawasan tersebut juga merupakan daerah yang paling rentan mengalami tekanan pasokan air.
Beberapa wilayah bahkan telah memberlakukan larangan penggunaan selang air menyusul gelombang panas berkepanjangan dan minimnya curah hujan.
Dalam kondisi seperti itu, pembangunan pusat data baru dinilai hampir mustahil dilakukan tanpa perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya air.
Jaringan distribusi air yang ada, menurut Water UK, sudah bekerja di bawah tekanan tinggi bahkan sebelum gelombang pembangunan data center berikutnya dimulai.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh laporan House of Lords yang diterbitkan pada Mei lalu. Laporan itu memperkirakan Inggris berpotensi mengalami defisit pasokan air publik hingga 5 miliar liter per hari pada 2055 apabila tidak ada langkah mitigasi yang memadai.
Satu Data Center Bisa Menghabiskan Air Setara Ribuan Rumah
Gambaran kebutuhan air itu semakin terasa ketika melihat data dari Affinity Water, perusahaan penyedia air yang melayani wilayah Slough, kawasan dengan konsentrasi pusat data terbesar di Inggris.
Perusahaan tersebut mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 125 proyek pusat data yang sedang diajukan maupun dibangun di wilayah layanannya.
Sebagian pengembang bahkan mengajukan kebutuhan hingga 3 juta liter air per hari untuk satu fasilitas.
Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air sekitar 3.500 rumah tangga ketika konsumsi berada pada titik tertinggi.
Saat ini, Water UK memperkirakan seluruh pusat data di Inggris mengonsumsi sekitar 6,6 juta liter air minum setiap hari.
Jika target pemerintah untuk melipatgandakan kapasitas pusat data hingga tiga kali lipat pada 2030 benar-benar terealisasi, konsumsi air diperkirakan melonjak menjadi sekitar 19,8 juta liter per hari.
AI Tumbuh, Air Harus Tetap Ada
Water UK meminta pemerintah segera menetapkan prioritas penggunaan air ketika musim kering melanda.
Tanpa aturan yang jelas, organisasi tersebut menilai konflik kepentingan antarsektor bisa muncul. Industri membutuhkan air untuk menjaga operasionalnya, sementara masyarakat juga membutuhkan air bersih sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.
Di sisi lain, pemerintah Inggris menegaskan pengembangan AI tetap harus berjalan seiring dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Juru bicara pemerintah mengatakan pihaknya akan terus menjaga ketersediaan pasokan air sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Pemerintah juga mengaku tengah mencari berbagai alternatif untuk mengurangi konsumsi air dan limbah yang dihasilkan pusat data.
“Kami juga mengambil langkah-langkah tegas untuk menjamin pasokan air dan memenuhi permintaan yang semakin tinggi, termasuk investasi infrastruktur dalam jumlah yang mencapai rekor tertinggi serta pembangunan sembilan bendungan baru,” ujar juru bicara pemerintah.
Pada akhirnya, perlombaan mengembangkan AI ternyata bukan sekadar soal siapa memiliki teknologi paling canggih atau komputasi paling cepat. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: secanggih apa pun kecerdasan buatan, server tetap butuh didinginkan. Dan untuk itu, air bersih menjadi sumber daya yang tidak bisa digantikan begitu saja.











