PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Selama ini banyak orang menganggap pengguna iPhone lebih aman dari berbagai ancaman digital. Sayangnya, rasa percaya diri itu justru bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. Kali ini, yang dijadikan senjata bukan virus atau celah keamanan sistem, melainkan kepanikan korbannya sendiri.
Modus penipuan terbaru menyasar pengguna iPhone melalui panggilan FaceTime. Pelaku berpura-pura menjadi petugas bank dan menggiring korban mengikuti proses yang disebut sebagai “verifikasi data”. Ujung-ujungnya bukan rekening yang aman, melainkan saldo yang justru berpotensi terkuras habis.
Mengutip CNET, Minggu (19/7/2026), aksi ini sebenarnya tidak memanfaatkan kelemahan FaceTime. Pelaku mengandalkan teknik social engineering atau rekayasa sosial, yakni memanipulasi psikologis korban agar secara sukarela memberikan informasi penting.
Biasanya, drama dimulai dari pesan singkat atau telepon yang mengatasnamakan bank maupun penerbit kartu kredit. Korban diberi tahu ada transaksi mencurigakan, rekening terancam diblokir, atau diminta melakukan verifikasi tambahan demi alasan keamanan.
Saat korban mulai yakin, pelaku mengarahkan percakapan ke panggilan video FaceTime. Alasannya terdengar meyakinkan: proses verifikasi harus dilakukan melalui video agar identitas nasabah bisa dipastikan.
Padahal, di titik inilah jebakan sebenarnya dimulai.
Direktur Kebijakan Teknologi Consumer Reports, Justin Brookman, menjelaskan bahwa pelaku sengaja menciptakan situasi yang membuat korban panik sehingga kehilangan waktu untuk berpikir jernih.
“Mereka menciptakan rasa panik atau situasi yang seolah-olah sangat mendesak agar Anda segera mengambil tindakan. Jika tidak, mereka mengancam akan terjadi sesuatu yang dianggap sangat buruk atau merugikan,” ujarnya kepada CNET.
Screen Sharing Jadi Pintu Masuk Penjahat
Saat panggilan FaceTime berlangsung, korban biasanya diminta mengaktifkan fitur screen sharing ketika membuka aplikasi mobile banking.
Sekilas permintaan itu terdengar biasa. Namun, dengan layar yang dibagikan, pelaku bisa melihat hampir semua informasi penting yang muncul di ponsel korban, mulai dari nama pengguna, kata sandi, nomor rekening, hingga kode OTP yang seharusnya bersifat rahasia.
Begitu data tersebut berhasil diperoleh, akses ke rekening korban bisa diambil alih dalam waktu singkat.
Ironisnya, korban sering kali baru menyadari dirinya tertipu setelah saldo rekening mulai berkurang atau bahkan habis.
Apple: Jangan Percaya FaceTime yang Datang Tiba-Tiba
Apple mengingatkan pengguna agar selalu bersikap waspada terhadap setiap panggilan FaceTime maupun pesan yang datang tanpa diduga, terutama jika berisi permintaan pembayaran, pengembalian dana, reset kata sandi, atau meminta informasi pribadi.
Perusahaan juga menegaskan bahwa organisasi resmi, termasuk Apple maupun pihak bank, tidak akan pernah meminta kata sandi, kode keamanan, maupun data finansial melalui panggilan FaceTime yang tidak diminta sebelumnya.
Karena itu, pengguna iPhone disarankan tidak membagikan layar kepada orang yang tidak dikenal, tidak memberikan kode OTP maupun kata sandi kepada siapa pun, dan segera mengakhiri panggilan apabila seseorang mengaku sebagai petugas bank tetapi meminta informasi sensitif.
Jika muncul keraguan, langkah paling aman adalah menutup panggilan dan menghubungi layanan pelanggan resmi bank melalui nomor yang tertera di situs resmi atau di kartu ATM maupun kartu kredit.
Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak membantu jika penggunanya dipaksa panik. Di dunia digital, rasa tenang sering kali menjadi lapisan keamanan pertama yang justru paling ampuh.











