Menu

Mode Gelap
Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

Regional

Putri Ditipu, Lapor Polisi Ditolak, Hanya Damkar yang Mau Mendengar

badge-check

Putri Ditipu, Lapor Polisi Ditolak, Hanya Damkar yang Mau Mendengar Perbesar

 

PRABAINSIGHT.-JATENG- Dari Nastar hingga Damkar: Kisah Pilu Putri yang Ditolak Polres Pemalang

Malam itu, Putri (23) datang ke Kantor Damkar Kota Pekalongan bukan untuk melaporkan kebakaran, melainkan kebakaran hati.

Bukan karena asmara, tapi karena uang Rp450 ribu yang melayang, dibawa entah ke mana oleh seorang penipu di Facebook.

Ceritanya bermula dari keinginannya membeli sepeda listrik murah meriah di marketplace. Rp1.650.000 harganya, dan Putri sudah menyetor uang muka Rp450 ribu lewat dua kali transfer.

Sebagai bukti transaksi, ia menerima faktur pembelian dan diminta mengambil sepedanya di sebuah toko di Pemalang.

Berangkatlah Putri dengan semangat. Tapi sesampainya di toko, ia hanya mendapatkan tatapan bingung dari pemiliknya. “Maaf, Mbak, kami nggak kenal faktur ini.” Bahkan, ada lima orang lain yang mengalami nasib serupa.

Tak ingin menyerah, Putri pun menuju Polres Pemalang untuk melaporkan kasusnya. Siapa tahu, masih ada keadilan yang bisa ditegakkan. Namun, alih-alih mendapat bantuan, ia malah ditawari… kue nastar.

“Iya, saya kesel, Pak. Laporan saya ditolak, malah disodorin nastar sama salah satu polisi,” curhatnya kepada petugas damkar dengan nada getir.

Putri bukan hanya kehilangan uang, tapi juga kepercayaan pada sistem yang seharusnya melindunginya. Di tengah keputusasaannya, ia mengambil langkah yang mungkin tidak biasa: menghubungi Damkar Kota Pekalongan.

Petugas yang menerima telepon sempat mengira ada kebakaran. Tapi ternyata yang terbakar adalah hati seorang warga yang merasa tidak dipedulikan.

“Kalau ke psikolog kan bayar lagi, Pak. Saya cuma mau curhat biar tenang,” ujarnya lirih.

Petugas damkar dengan sabar mendengarkan. Tak ada laporan resmi, tak ada berita acara, hanya telinga yang siap menampung keluh kesah.

Dan malam itu, di tengah ruangan yang biasanya dipenuhi laporan kebakaran, hadir kisah seorang perempuan yang berusaha mencari keadilan, tapi malah berakhir dengan tawaran kue lebaran.

Kisah Putri yang viral membuat beberapa warga dan wartawan tersentuh. Mereka akhirnya menggalang donasi agar ia bisa kembali berdagang. Awalnya ia menolak, tapi akhirnya menerima bantuan itu sambil menangis.

Di negeri ini, mencari keadilan kadang seperti berburu harta karun—sulit, penuh teka-teki, dan sering kali ujungnya nihil.

Tapi setidaknya, masih ada telinga yang mau mendengar, meski itu dari petugas pemadam kebakaran yang sejatinya bertugas memadamkan api, bukan luka di hati.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Trending di Nasional