Menu

Mode Gelap
Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

Regional

Putri Ditipu, Lapor Polisi Ditolak, Hanya Damkar yang Mau Mendengar

badge-check

Putri Ditipu, Lapor Polisi Ditolak, Hanya Damkar yang Mau Mendengar Perbesar

 

PRABAINSIGHT.-JATENG- Dari Nastar hingga Damkar: Kisah Pilu Putri yang Ditolak Polres Pemalang

Malam itu, Putri (23) datang ke Kantor Damkar Kota Pekalongan bukan untuk melaporkan kebakaran, melainkan kebakaran hati.

Bukan karena asmara, tapi karena uang Rp450 ribu yang melayang, dibawa entah ke mana oleh seorang penipu di Facebook.

Ceritanya bermula dari keinginannya membeli sepeda listrik murah meriah di marketplace. Rp1.650.000 harganya, dan Putri sudah menyetor uang muka Rp450 ribu lewat dua kali transfer.

Sebagai bukti transaksi, ia menerima faktur pembelian dan diminta mengambil sepedanya di sebuah toko di Pemalang.

Berangkatlah Putri dengan semangat. Tapi sesampainya di toko, ia hanya mendapatkan tatapan bingung dari pemiliknya. “Maaf, Mbak, kami nggak kenal faktur ini.” Bahkan, ada lima orang lain yang mengalami nasib serupa.

Tak ingin menyerah, Putri pun menuju Polres Pemalang untuk melaporkan kasusnya. Siapa tahu, masih ada keadilan yang bisa ditegakkan. Namun, alih-alih mendapat bantuan, ia malah ditawari… kue nastar.

“Iya, saya kesel, Pak. Laporan saya ditolak, malah disodorin nastar sama salah satu polisi,” curhatnya kepada petugas damkar dengan nada getir.

Putri bukan hanya kehilangan uang, tapi juga kepercayaan pada sistem yang seharusnya melindunginya. Di tengah keputusasaannya, ia mengambil langkah yang mungkin tidak biasa: menghubungi Damkar Kota Pekalongan.

Petugas yang menerima telepon sempat mengira ada kebakaran. Tapi ternyata yang terbakar adalah hati seorang warga yang merasa tidak dipedulikan.

“Kalau ke psikolog kan bayar lagi, Pak. Saya cuma mau curhat biar tenang,” ujarnya lirih.

Petugas damkar dengan sabar mendengarkan. Tak ada laporan resmi, tak ada berita acara, hanya telinga yang siap menampung keluh kesah.

Dan malam itu, di tengah ruangan yang biasanya dipenuhi laporan kebakaran, hadir kisah seorang perempuan yang berusaha mencari keadilan, tapi malah berakhir dengan tawaran kue lebaran.

Kisah Putri yang viral membuat beberapa warga dan wartawan tersentuh. Mereka akhirnya menggalang donasi agar ia bisa kembali berdagang. Awalnya ia menolak, tapi akhirnya menerima bantuan itu sambil menangis.

Di negeri ini, mencari keadilan kadang seperti berburu harta karun—sulit, penuh teka-teki, dan sering kali ujungnya nihil.

Tapi setidaknya, masih ada telinga yang mau mendengar, meski itu dari petugas pemadam kebakaran yang sejatinya bertugas memadamkan api, bukan luka di hati.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Trending di News