Menu

Mode Gelap
KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

News

“Janji Manis di Jalanan: Bonus Hari Raya atau Sekadar Angin Lalu?”

badge-check


					foto ilustrasi ojol (ist) Perbesar

foto ilustrasi ojol (ist)

PRABAINSIGHT-Jakarta masih sibuk seperti biasa. Lalu lintas padat, klakson bersahut-sahutan, dan di antara deretan kendaraan yang merayap, seorang pria dengan jaket hijau menyandarkan motornya di pinggir jalan. Namanya Kemed, seorang pengemudi ojek online yang sudah bertahun-tahun mengaspal di ibu kota.

Sejak pagi, ia sibuk membaca berita soal Bonus Hari Raya (BHR) yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto. Janji itu ibarat oase di tengah gurun bagi para pengemudi dan kurir online yang tiap hari berjuang menembus macet demi sesuap nasi. Namun, belakangan ini kabar yang beredar justru membuat Kemed resah.

“Katanya bonus cair, tapi ada syarat ini itu. Jangan-jangan cuma omong kosong!” gumamnya sambil menggulir layar ponselnya.

Di grup WhatsApp komunitas pengemudi, obrolan semakin panas. Banyak yang khawatir perusahaan aplikator bakal memainkan aturan demi menghindari kewajiban mereka.

Kemed tahu, tak sedikit pengemudi yang menggantungkan harapan pada bonus ini. Lebaran sudah dekat, kebutuhan membengkak, dan tanpa bonus, banyak yang harus mengencangkan ikat pinggang lebih kuat lagi.

Aliansi Pengemudi Online Bersatu (APOB), organisasi tempat Kemed bernaung, akhirnya mengambil sikap.

Mereka mendesak Kementerian Ketenagakerjaan untuk memastikan bonus ini benar-benar diberikan tanpa tipu daya. Kemed sendiri percaya, perjuangan harus dilakukan. Jika ada kecurangan, turun ke jalan adalah pilihan terakhir.

Sore itu, setelah menyelesaikan satu orderan, Kemed duduk di warung kopi langganannya. Ia menyesap kopi hitamnya pelan-pelan, sambil membaca pesan terakhir dari grup APOB.

“Kalau hak kita dipersulit, kita lawan. Jangan takut, kita bukan sendirian!”

Kemed tersenyum tipis. Ia tahu, perjuangan belum selesai. Tapi satu hal yang pasti, di jalanan ini, mereka tidak sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco

9 Februari 2026 - 17:48 WIB

Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional

9 Februari 2026 - 17:38 WIB

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

Trending di News