Menu

Mode Gelap
Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sandri Rumanama Bilang Perubahan Itu Nyata 82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

News

“Janji Manis di Jalanan: Bonus Hari Raya atau Sekadar Angin Lalu?”

badge-check


					foto ilustrasi ojol (ist) Perbesar

foto ilustrasi ojol (ist)

PRABAINSIGHT-Jakarta masih sibuk seperti biasa. Lalu lintas padat, klakson bersahut-sahutan, dan di antara deretan kendaraan yang merayap, seorang pria dengan jaket hijau menyandarkan motornya di pinggir jalan. Namanya Kemed, seorang pengemudi ojek online yang sudah bertahun-tahun mengaspal di ibu kota.

Sejak pagi, ia sibuk membaca berita soal Bonus Hari Raya (BHR) yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto. Janji itu ibarat oase di tengah gurun bagi para pengemudi dan kurir online yang tiap hari berjuang menembus macet demi sesuap nasi. Namun, belakangan ini kabar yang beredar justru membuat Kemed resah.

“Katanya bonus cair, tapi ada syarat ini itu. Jangan-jangan cuma omong kosong!” gumamnya sambil menggulir layar ponselnya.

Di grup WhatsApp komunitas pengemudi, obrolan semakin panas. Banyak yang khawatir perusahaan aplikator bakal memainkan aturan demi menghindari kewajiban mereka.

Kemed tahu, tak sedikit pengemudi yang menggantungkan harapan pada bonus ini. Lebaran sudah dekat, kebutuhan membengkak, dan tanpa bonus, banyak yang harus mengencangkan ikat pinggang lebih kuat lagi.

Aliansi Pengemudi Online Bersatu (APOB), organisasi tempat Kemed bernaung, akhirnya mengambil sikap.

Mereka mendesak Kementerian Ketenagakerjaan untuk memastikan bonus ini benar-benar diberikan tanpa tipu daya. Kemed sendiri percaya, perjuangan harus dilakukan. Jika ada kecurangan, turun ke jalan adalah pilihan terakhir.

Sore itu, setelah menyelesaikan satu orderan, Kemed duduk di warung kopi langganannya. Ia menyesap kopi hitamnya pelan-pelan, sambil membaca pesan terakhir dari grup APOB.

“Kalau hak kita dipersulit, kita lawan. Jangan takut, kita bukan sendirian!”

Kemed tersenyum tipis. Ia tahu, perjuangan belum selesai. Tapi satu hal yang pasti, di jalanan ini, mereka tidak sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka

26 Juni 2026 - 14:28

Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun

25 Juni 2026 - 19:13

Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

23 Juni 2026 - 21:03

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri”

23 Juni 2026 - 11:26

Trending di Nasional