Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Prabers

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

badge-check


					Menggantungkan kebenaran pada figur publik adalah jebakan moral. Refleksi tentang kebenaran, kultus individu, dan pentingnya menilai gagasan, bukan sosoknya. Perbesar

Menggantungkan kebenaran pada figur publik adalah jebakan moral. Refleksi tentang kebenaran, kultus individu, dan pentingnya menilai gagasan, bukan sosoknya.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada satu kebiasaan manusia modern yang rasanya makin hari makin sulit disembuhkan: mengikat kebenaran pada wajah seseorang. Begitu si tokoh bicara, kita anggukkan kepala. Begitu ia salah langkah, kompas moral ikut berputar-putar seperti spinner murah.

Masalahnya, kebenaran itu tidak pernah mengurus paspor. Ia tidak peduli datang dari siapa, lahir di mana, atau punya jabatan apa. Yang repot justru kita yang terlalu malas menimbang isi pikiran, lalu memilih jalan pintas: percaya karena yang bicara “orang kita”.

Di sinilah bom waktunya mulai berdetak. Manusia itu makhluk fluktuatif. Hari ini bisa saleh, besok tergelincir. Pagi masih idealis, sore sudah belajar realistis versi dompet. Kalau standar benar-salah kita hanya sebatas “kata beliau” atau “menurut tokoh itu”, maka begitu sang idola jatuh, moral kita ikut tersungkur.

Filsafat Islam sebenarnya sudah lama memberi peringatan. Ali bin Abi Thalib pernah menaruh kalimat sederhana tapi menampar: lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Sayangnya, nasihat setua itu sering kalah pamor dari kutipan motivasi berfont estetik di media sosial.

Kita terlalu sering menolak argumen hanya karena tidak suka orangnya. Di saat lain, kita membela kesalahan dengan gigih hanya karena pelakunya adalah figur yang kita cintai. Padahal, logika seharusnya tidak ikut fans club.

Yang lebih berbahaya, kita gemar menaruh pejabat, tokoh publik, atau motivator di altar kesucian. Tak boleh dikritik, tak boleh disentuh, apalagi dipertanyakan. Padahal, mengkultuskan manusia sama saja memberi mereka hak istimewa untuk mengecewakan kita tanpa batas.

Setiap kali ada tokoh jatuh dari singgasana moralnya, publik ramai-ramai kecewa. Padahal mungkin masalahnya bukan pada kejatuhan itu, melainkan pada ekspektasi kita yang sejak awal terlalu tinggi. Kita sibuk mencari “Ratu Adil” dalam tubuh manusia, padahal yang adil itu seharusnya nilai, bukan orangnya.

Mungkin sudah waktunya berhenti menggantungkan harapan pada punggung manusia. Ia mudah pegal, mudah tergelincir, dan sering berubah arah. Sebaliknya, nilai dan prinsip meski sering sunyi dan tak viral punya daya tahan yang jauh lebih lama.

Karena ketika seluruh tokoh idola kita mendadak berbalik arah, nilai kebenaran tetap berdiri di tempat yang sama. Tidak ikut pindah kubu. Tidak ikut konferensi pers. Dan yang paling penting, tidak pernah meminta kita untuk membelanya secara membabi buta.


Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Dari Palet Warna sampai Janji Suci, Hari Kedua BRI The BFF Festival 2025 Bikin Senayan Riuh

17 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Diam-Diam Mpok Alpa Simpan Rahasia, Ini Pesan Terakhirnya Sebelum Pergi

16 Agustus 2025 - 06:46 WIB

Trending di Prabers