Menu

Mode Gelap
PBB Ikut Geram: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus Disebut Tindakan Pengecut Polisi Selidiki Penyiraman Air Keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus di Salemba Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras di Salemba, Luka Bakar 24 Persen dan Jalani Operasi Mata Usai Temui Wapres Gibran, Rismon Kini Bilang Ijazah Jokowi Asli Dari Surat Forum Travel sampai Fee Percepatan, Begini Kronologi Kasus Haji yang Menjerat Eks Menag Yaqut Setelah Lama Ribut Soal Ijazah, Rismon Sianipar Akhirnya Datangi Rumah Jokowi di Solo

News

Bobby Nasution Minta Hentikan Laporan soal Hinaan: “Kita Butuh Persatuan, Bukan Provokasi”

badge-check


					Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution meminta proses hukum laporan kepada pria yang diduga menghina istrinya, Kahiyang Ayu dan mertuanya Joko Widodo terkait polemik empat pulau dihentikan. (Foto:Praba/istimewa) Perbesar

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution meminta proses hukum laporan kepada pria yang diduga menghina istrinya, Kahiyang Ayu dan mertuanya Joko Widodo terkait polemik empat pulau dihentikan. (Foto:Praba/istimewa)

PRABA INSIGHT- Di tengah panasnya perdebatan warganet soal “pulau siapa, batas di mana”, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution justru muncul dengan pernyataan yang bikin adem, meskipun yang diserang adalah istri dan mertuanya sendiri.

Bukannya memperpanjang urusan ke jalur hukum, Bobby justru minta laporan terhadap warga Aceh yang diduga menghina Kahiyang Ayu dan Jokowi, dihentikan.

“Sebagai Gubernur Sumut, saya minta laporan terhadap masyarakat Aceh atau yang berkaitan dengan itu agar dihentikan,” ujar Bobby dalam konferensi pers di Kantor Kepresidenan Jakarta, Selasa (17/6), dengan gaya tenang yang tak terbawa emosi.

Bobby paham betul: ini bukan cuma perkara kata-kata pedas di internet. Ini soal bagaimana dua provinsi yang bertetangga Aceh dan Sumatera Utara jangan sampai terjebak narasi adu domba yang justru bikin negara makin retak.

“Ini bukan hanya soal Aceh dan Sumut, tapi soal persatuan bangsa dan negara. Jangan sampai terpancing isu yang menyudutkan pihak manapun,” katanya, sambil tetap kalem meskipun diserang personal.

Pulau Jadi Polemik, Bobby Pilih Bukti

Masalah ini bermula dari kisruh status empat pulau yang berada di kawasan perbatasan. Warganet ramai, sebagian sampai menuduh keluarga besar Bobby ada main.

Tapi Bobby bukan cuma menjawab pakai omongan, dia bawa bukti: peta topografi tahun 1978, dokumen sejarah, dan surat kesepakatan resmi bersama Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

“Empat pulau yang selama ini dipersoalkan, berdasarkan sejarah dan dokumen, masuk ke wilayah Aceh. Dasarnya adalah peta topografi 1978 yang digunakan sejak tahun 1992,” jelasnya.

Dan dengan gaya khas orang yang tahu waktu, Bobby melempar satu kalimat penuh konteks:

“Tahun 1992 saya masih umur satu tahun. Tahun 2008 saya masih SMA. Tahun 2017 saya belum menjabat apa-apa. Baru di tahun 2025 ini saya menandatangani secara resmi sebagai Gubernur Sumut bahwa empat pulau itu memang milik Aceh.”

Kalau ini bukan jawaban yang tenang, jernih, dan berbasis logika, entah apa lagi.

Prabowo Turun Gunung, Masalah Selesai Kilat

Dalam kesempatan itu, Bobby juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas respons cepat dan dukungan penuh menyelesaikan persoalan ini.

“Terima kasih atas dukungan Presiden dan seluruh pihak. Persoalan ini bisa kita selesaikan dengan baik, bijaksana, dan cepat,” tutup Bobby, seolah ingin bilang: “Lihat, bisa kok urusan negara selesai tanpa keributan.”

Kalau Semua Kepala Daerah Kayak Bobby, Timeline Twitter Mungkin Sepi Ribut

Banyak pejabat di negeri ini rajin bikin laporan polisi cuma gara-gara dikritik.

Tapi Bobby menunjukkan bahwa justru dengan menahan diri, masalah bisa selesai lebih cepat dan elegan.

Empat pulau yang katanya mau bikin ribut Aceh dan Sumut, ternyata cukup diselesaikan dengan duduk bareng, buka peta, dan tanda tangan. Yang dulunya digoreng-goreng, ternyata bisa dimakan bareng.

Dan ketika keluarga dihina, Bobby tidak membalas dengan pelaporan, tapi malah menawarkan kedamaian.

Karena ya, kadang urusan bangsa lebih penting dari sekadar balas dendam digital.

 

Penulis : Yohanes MW | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PBB Ikut Geram: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus Disebut Tindakan Pengecut

14 Maret 2026 - 07:55 WIB

Polisi Selidiki Penyiraman Air Keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus di Salemba

13 Maret 2026 - 18:14 WIB

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras di Salemba, Luka Bakar 24 Persen dan Jalani Operasi Mata

13 Maret 2026 - 18:01 WIB

Usai Temui Wapres Gibran, Rismon Kini Bilang Ijazah Jokowi Asli

13 Maret 2026 - 09:51 WIB

Dari Surat Forum Travel sampai Fee Percepatan, Begini Kronologi Kasus Haji yang Menjerat Eks Menag Yaqut

12 Maret 2026 - 14:36 WIB

Trending di News