Menu

Mode Gelap
Paguyuban Itu Tak Ideal”, Sayuti Abubakar Siapkan Program Nyata untuk Lulusan Hukum FHUP PB SEMMI Apresiasi Sinyal Kuat Prabowo di May Day Monas, Soroti Langkah Negara Tekan Potongan Ojol Haji Kilat Tanpa Antre? Ujung-ujungnya Malah Kena Polri, Modus Visa Kerja Terbongkar 17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis Fakta Mengejutkan Tom Ogle: Tolak Tawaran Miliaran, Temukan Mobil Irit, Lalu Tewas Misterius Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Target Utama: Sikat Pinjol Ilegal di Jabar

News

Bobby Nasution Minta Hentikan Laporan soal Hinaan: “Kita Butuh Persatuan, Bukan Provokasi”

badge-check


					Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution meminta proses hukum laporan kepada pria yang diduga menghina istrinya, Kahiyang Ayu dan mertuanya Joko Widodo terkait polemik empat pulau dihentikan. (Foto:Praba/istimewa) Perbesar

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution meminta proses hukum laporan kepada pria yang diduga menghina istrinya, Kahiyang Ayu dan mertuanya Joko Widodo terkait polemik empat pulau dihentikan. (Foto:Praba/istimewa)

PRABA INSIGHT- Di tengah panasnya perdebatan warganet soal “pulau siapa, batas di mana”, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution justru muncul dengan pernyataan yang bikin adem, meskipun yang diserang adalah istri dan mertuanya sendiri.

Bukannya memperpanjang urusan ke jalur hukum, Bobby justru minta laporan terhadap warga Aceh yang diduga menghina Kahiyang Ayu dan Jokowi, dihentikan.

“Sebagai Gubernur Sumut, saya minta laporan terhadap masyarakat Aceh atau yang berkaitan dengan itu agar dihentikan,” ujar Bobby dalam konferensi pers di Kantor Kepresidenan Jakarta, Selasa (17/6), dengan gaya tenang yang tak terbawa emosi.

Bobby paham betul: ini bukan cuma perkara kata-kata pedas di internet. Ini soal bagaimana dua provinsi yang bertetangga Aceh dan Sumatera Utara jangan sampai terjebak narasi adu domba yang justru bikin negara makin retak.

“Ini bukan hanya soal Aceh dan Sumut, tapi soal persatuan bangsa dan negara. Jangan sampai terpancing isu yang menyudutkan pihak manapun,” katanya, sambil tetap kalem meskipun diserang personal.

Pulau Jadi Polemik, Bobby Pilih Bukti

Masalah ini bermula dari kisruh status empat pulau yang berada di kawasan perbatasan. Warganet ramai, sebagian sampai menuduh keluarga besar Bobby ada main.

Tapi Bobby bukan cuma menjawab pakai omongan, dia bawa bukti: peta topografi tahun 1978, dokumen sejarah, dan surat kesepakatan resmi bersama Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

“Empat pulau yang selama ini dipersoalkan, berdasarkan sejarah dan dokumen, masuk ke wilayah Aceh. Dasarnya adalah peta topografi 1978 yang digunakan sejak tahun 1992,” jelasnya.

Dan dengan gaya khas orang yang tahu waktu, Bobby melempar satu kalimat penuh konteks:

“Tahun 1992 saya masih umur satu tahun. Tahun 2008 saya masih SMA. Tahun 2017 saya belum menjabat apa-apa. Baru di tahun 2025 ini saya menandatangani secara resmi sebagai Gubernur Sumut bahwa empat pulau itu memang milik Aceh.”

Kalau ini bukan jawaban yang tenang, jernih, dan berbasis logika, entah apa lagi.

Prabowo Turun Gunung, Masalah Selesai Kilat

Dalam kesempatan itu, Bobby juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas respons cepat dan dukungan penuh menyelesaikan persoalan ini.

“Terima kasih atas dukungan Presiden dan seluruh pihak. Persoalan ini bisa kita selesaikan dengan baik, bijaksana, dan cepat,” tutup Bobby, seolah ingin bilang: “Lihat, bisa kok urusan negara selesai tanpa keributan.”

Kalau Semua Kepala Daerah Kayak Bobby, Timeline Twitter Mungkin Sepi Ribut

Banyak pejabat di negeri ini rajin bikin laporan polisi cuma gara-gara dikritik.

Tapi Bobby menunjukkan bahwa justru dengan menahan diri, masalah bisa selesai lebih cepat dan elegan.

Empat pulau yang katanya mau bikin ribut Aceh dan Sumut, ternyata cukup diselesaikan dengan duduk bareng, buka peta, dan tanda tangan. Yang dulunya digoreng-goreng, ternyata bisa dimakan bareng.

Dan ketika keluarga dihina, Bobby tidak membalas dengan pelaporan, tapi malah menawarkan kedamaian.

Karena ya, kadang urusan bangsa lebih penting dari sekadar balas dendam digital.

 

Penulis : Yohanes MW | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Paguyuban Itu Tak Ideal”, Sayuti Abubakar Siapkan Program Nyata untuk Lulusan Hukum FHUP

2 Mei 2026 - 14:36

PB SEMMI Apresiasi Sinyal Kuat Prabowo di May Day Monas, Soroti Langkah Negara Tekan Potongan Ojol

2 Mei 2026 - 09:38

Haji Kilat Tanpa Antre? Ujung-ujungnya Malah Kena Polri, Modus Visa Kerja Terbongkar

30 April 2026 - 19:00

17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis

30 April 2026 - 17:55

Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Target Utama: Sikat Pinjol Ilegal di Jabar

30 April 2026 - 17:30

Trending di News