KOLOM ANGKER – Aku tidak pernah percaya cerita hantu sampai Jalan Tol Padalarang hampir merampas kewarasanku.
Apa yang akan kuceritakan ini bukan karangan. Ini pengalaman yang masih menghantui setiap kali hujan turun dan aspal memantulkan cahaya lampu jalan. Bahkan sekarang, saat aku menuliskannya, tengkukku terasa dingin… seolah ada yang berdiri terlalu dekat.
Aku seorang sales. Pulang larut malam sudah jadi kebiasaan. Tol Padalarang adalah jalur tercepat menuju rumah dan, tanpa kusadari, jalur tercepat menuju mimpi buruk.
Malam itu hujan rintik sejak sore. Bukan hujan deras, tapi jenis hujan yang membuat udara lengket dan napas terasa berat. Jam di dashboard menunjukkan pukul 23.07. Jalan tol nyaris kosong. Lampu-lampu jalan menyala pucat, sebagian berkabut tipis seperti diselimuti asap dingin.
Radio kuputar pelan. Suara penyiar terdengar jauh, seolah berasal dari ujung terowongan.
Begitu memasuki ruas Padalarang, dadaku tiba-tiba terasa ditekan. Bukan sesak napas lebih seperti perasaan… diawasi. Aku mengusap tengkuk, mencoba menertawakan pikiranku sendiri.
Lalu aku melihatnya.
Sekitar beberapa ratus meter di depan, di bahu jalan, seseorang berdiri diam.
Sosok pria. Jaket gelap. Celana panjang. Tubuhnya kurus, terlalu kurus. Ia membelakangi jalan, berdiri tepat di bawah lampu tol yang berkedip-kedip.
“Mobil mogok,” pikirku.
Saat jarak makin dekat, pria itu perlahan mengangkat tangan. Gerakannya kaku. Terlalu lambat. Seperti sendi-sendi yang dipaksa bergerak.
Aku mengurangi kecepatan.
Dan saat lampu mobil menyinari wajahnya—
Aku tidak melihat wajah.
Bukan karena gelap. Bukan karena kabut.
Lampu mobilku tepat mengarah ke kepalanya, tapi yang kulihat hanyalah bayangan hitam kosong, seperti wajahnya ditelan cahaya.
Lehernya menekuk dengan sudut yang salah. Tidak mungkin leher manusia menekuk seperti itu.
Bulu kudukku berdiri bersamaan dengan satu pikiran yang menghantam kepalaku:
Itu bukan manusia.
Aku menginjak gas.
Mobil melesat meninggalkan sosok itu. Napasku memburu, jantungku menghantam dada. Aku langsung menatap spion tengah—
Dia masih di sana.
Berdiri di titik yang sama. Tidak bergerak. Tidak mengejar.
Lalu, dalam satu kedipan mata
Hilang.
Aspal kosong. Bahu jalan kosong. Seolah dia tidak pernah ada.
Telapak tanganku basah. AC menyala dingin, tapi keringat mengalir di punggungku. Aku tertawa kecil, memaksa pikiranku tetap waras.
“Halusinasi,” gumamku.
Klik.
Radio mati.
Tanpa peringatan. Layar head unit berkedip liar, lalu gelap total. Mobilku seperti terperangkap dalam kapsul sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Bahkan deru mesin terdengar jauh.
Aku menepikan mobil, kepalaku berdenyut. Di luar, tol terasa mati. Tidak ada satu pun kendaraan melintas.
Lalu
Tok.
Suara ketukan.
Pelan. Jelas.
Dari pintu belakang.
Tubuhku membeku. Nafasku tersangkut di tenggorokan. Aku menatap lurus ke depan, tidak berani menoleh.
Tok. Tok. Tok.
Lebih keras. Lebih teratur.
Seperti… seseorang yang kesal karena tidak dibukakan pintu.
Tanganku gemetar hebat saat memutar kunci kontak. Mesin menyala. Aku langsung menginjak gas.
Mobil melaju kencang.
Namun di spion kanan
Ada bayangan hitam berlari.
Bentuknya seperti manusia, tapi gerakannya patah-patah. Kakinya tidak menyentuh tanah dengan benar. Dan yang paling tidak masuk akal
Ia sejajar dengan mobilku.
Aku menambah kecepatan.
Bayangan itu ikut mempercepat.
Aku berdoa dengan suara pecah. Air mata jatuh tanpa sadar. Tubuhku terasa sedingin mayat.
Lalu
Hhh… hhh…
Suara napas berat.
Dari kursi belakang.
Bau tanah basah dan darah dingin memenuhi kabin mobil.
Aku melirik kaca spion tengah.
Dan saat itu
SEBUAH WAJAH MUNCUL TEPAT DI BELAKANG KEPALAKU.
Rambutnya basah menempel di wajah pucat. Matanya hitam pekat tanpa putih. Mulutnya terbuka terlalu lebar, seolah rahangnya terlepas.
Aku berteriak.
Setir hampir kubanting keluar jalur.
Mobil oleng, klakson berbunyi panjang. Aku nyaris kehilangan kendali—tapi satu hal menyelamatkanku.
Rambu keluar Padalarang.
Aku membelok tajam ke pintu keluar tol.
Begitu mendekati gerbang, cahaya lampu terang menyilaukan. Kendaraan lain bermunculan. Suara napas di belakang
Lenyap.
Aku berhenti setelah keluar tol. Tanganku gemetar parah. Dadaku sakit. Aku menoleh ke kursi belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun bau dingin itu… masih ada.
Keesokan harinya, seorang teman yang tinggal di Padalarang hanya menatapku lama setelah mendengar ceritaku.
“Di ruas itu,” katanya pelan, “banyak kecelakaan fatal. Banyak yang mati sendirian. Leher patah. Tubuh terlempar.”
Ia menatapku lurus.
“Mereka suka berdiri di bahu jalan. Cari tumpangan. Atau… menemani.”
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi melewati Tol Padalarang sendirian saat larut malam. Doa selalu menyala di mulutku. Radio tak pernah kumatikan.
Tapi kadang saat hujan turun dan jalan terasa terlalu sepi
aku masih mendengar ketukan itu.
Tok. Tok. Tok.
Seolah sesuatu masih menunggu aku berhenti.
Dan aku tahu sekarang…
tidak semua yang berdiri di bahu Jalan Tol Padalarang adalah manusia.
Editor : Irfan Ardhiyanto
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











