Menu

Mode Gelap
KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

News

Cerita Kelam Pria Gagal Jadi Crazy Rich di Bekasi, Malah Kerja Jadi Admin Judol di Kamboja 

badge-check


					Foto ilustrasi admin Judol (PRABA/Ai) Perbesar

Foto ilustrasi admin Judol (PRABA/Ai)

PRABA INSIGHT- FF, 27 tahun, asal Bekasi, pernah punya mimpi jadi orang sukses di luar negeri. Tapi siapa sangka, mimpi itu justru membawanya ke tengah-tengah dunia yang bahkan Google pun males ngindeks: industri judi online ilegal di Kamboja.

Ceritanya klasik. Dapat tawaran kerja dari orang yang katanya sih “punya koneksi luar negeri”. Janjinya manis: gaji dolar, tempat tinggal disediakan, makan ditanggung, pokoknya tinggal bawa badan dan semangat kerja. FF pun mengiyakan. Toh, siapa sih yang nggak mau hidup enak di negeri orang?

Tapi baru beberapa hari di Kamboja, FF sadar: ini bukan kerja, ini jebakan Batman.

Ia ditempatkan di sebuah gedung penuh komputer, berisi puluhan bahkan ratusan anak muda senasib. Tugasnya? Jadi admin situs judi online.

Bukan yang glamor-glamor, tapi yang tiap hari harus “mancing” calon pemain lewat chat dan telepon. Targetnya? Kacau. Harus narik duit orang sebanyak mungkin lewat permainan yang jelas-jelas ngisep tabungan.

“Kalau nggak capai target, nggak cuma ditegur. Bisa nggak digaji, bahkan dipukul,” kata FF sambil menghela napas yang panjangnya kayak cicilan motor.

Gaji yang dijanjikan? Kadang dibayar, kadang tidak. Bergantung pada performa, mood atasan, dan seberapa besar “hasil tangkapan” hari itu.

FF mengaku pernah beberapa hari disuruh kerja nonstop 14 jam. Nggak capai target? Siap-siap diintimidasi. Kadang ada yang dibentak, kadang ada yang sampai masuk “ruang pendingin”—sebutan untuk sel sempit tempat hukuman.

Kasus FF bukan satu-satunya. Banyak WNI lain yang nasibnya nggak jauh beda. Tertipu iming-iming kerja resmi, tapi nyungsep di bisnis ilegal.

Dan yang bikin makin gelap: Kamboja bukan negara penempatan resmi bagi tenaga kerja Indonesia. Jadi begitu ketahuan, ya susah pulang, susah minta tolong.

Makanya, buat kamu yang baca ini sambil ngelamun pengin kerja ke luar negeri, pelan-pelanlah.

Tawaran gaji besar tanpa proses yang jelas itu biasanya pertanda petaka. Jangan sampe niat jadi anak rantau, malah pulang jadi berita duka.

Kalau kamu atau kerabatmu pernah ditawari kerja ke luar negeri dengan sistem yang nggak transparan, sebaiknya langsung cek ke BP2MI atau organisasi advokasi tenaga kerja. Jangan langsung berangkat cuma karena “katanya sih aman”.

Karena di era digital ini, yang namanya “kerja remote” bisa berarti dua hal: fleksibel… atau disekap.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco

9 Februari 2026 - 17:48 WIB

Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional

9 Februari 2026 - 17:38 WIB

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

Trending di News