Menu

Mode Gelap
Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sandri Rumanama Bilang Perubahan Itu Nyata 82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

News

HANTU Sumsel Desak Kejaksaan Agung Periksa Walikota Palembang Ratu Dewa soal Fee Rp 84 Miliar

badge-check


					HANTU Sumsel mendesak Kejaksaan Agung untuk memeriksa Walikota Palembang Ratu Dewa terkait dugaan fee proyek pendidikan Rp 84 miliar yang berpotensi merugikan ribuan siswa.(Foto:Istimewa) Perbesar

HANTU Sumsel mendesak Kejaksaan Agung untuk memeriksa Walikota Palembang Ratu Dewa terkait dugaan fee proyek pendidikan Rp 84 miliar yang berpotensi merugikan ribuan siswa.(Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Ada yang bilang, jika uang bisa berbicara, mungkin Rp 84 miliar itu lagi ribut soal siapa yang pegang. Nah, kemarin, sekitar seratus perantau dari Himpunan Anak Perantau Bersatu Sumatera Selatan (HANTU Sumsel) datang ke Jakarta, tepatnya di depan Kantor Kejaksaan Agung RI. Tujuannya? Menyuarakan dugaan fee proyek pendidikan di Palembang yang katanya sampai belasan miliar rupiah.

Koordinator aksi, Charlie Antoni, berbicara dengan tegas (dan sedikit garang, kalau boleh dibilang): “Dugaan penyalahgunaan anggaran ini berdampak pada ribuan siswa di Palembang, jadi proses hukum harus jalan sekarang juga.” Kata-kata itu sambil melototin spanduk yang dibawa massa.

Charlie menambahkan, bukti dugaan fee yang melibatkan Walikota Palembang, Ratu Dewa, sudah siap diserahkan ke aparat hukum. “Kalau tidak direspons, kami bakal balik lagi dengan massa lebih besar,” ancamnya sambil menunjuk ke arah jalan.

Selain itu, Charlie nggak lupa menyinggung janji Walikota Palembang yang sampai hari ini masih sekadar janji. “Baju seragam dan perlengkapan sekolah anak-anak? Masih jauh dari realisasi,” katanya. Pesan ini jelas: perantau kecewa, anak-anak Palembang juga kena imbas.

Sepanjang aksi, peserta membentangkan spanduk dengan tulisan-tulisan yang nggak kalah tajam dari orasinya. Dan tenang, aksi ini tetap damai, tertib, dan nggak bikin macet di sekitar Kantor Kejaksaan Agung—meski suara teriakan tuntutan cukup keras untuk didengar sampai Jakarta pusat.

Charlie berharap aksi ini bikin publik terbangun dari tidur siangnya, karena dugaan korupsi pendidikan di Palembang ini serius. Kalau benar, ribuan siswa SD dan SMP bisa jadi korban, dan kualitas pendidikan tentu bakal ambles.

HANTU Sumsel menekankan, aksi ini bukan soal sensasi atau mencari spotlight. Ini soal kepedulian perantau untuk daerah asal, dan dorongan supaya anggaran publik dikelola dengan transparan dan akuntabel.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka

26 Juni 2026 - 14:28

Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun

25 Juni 2026 - 19:13

Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

23 Juni 2026 - 21:03

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri”

23 Juni 2026 - 11:26

Trending di Nasional