Menu ✖

Breaking News

News

Cerita Kelam Pria Gagal Jadi Crazy Rich di Bekasi, Malah Kerja Jadi Admin Judol di Kamboja 

badge-check

Foto ilustrasi admin Judol (PRABA/Ai) Perbesar

Foto ilustrasi admin Judol (PRABA/Ai)

PRABA INSIGHT- FF, 27 tahun, asal Bekasi, pernah punya mimpi jadi orang sukses di luar negeri. Tapi siapa sangka, mimpi itu justru membawanya ke tengah-tengah dunia yang bahkan Google pun males ngindeks: industri judi online ilegal di Kamboja.

Ceritanya klasik. Dapat tawaran kerja dari orang yang katanya sih “punya koneksi luar negeri”. Janjinya manis: gaji dolar, tempat tinggal disediakan, makan ditanggung, pokoknya tinggal bawa badan dan semangat kerja. FF pun mengiyakan. Toh, siapa sih yang nggak mau hidup enak di negeri orang?

Tapi baru beberapa hari di Kamboja, FF sadar: ini bukan kerja, ini jebakan Batman.

Ia ditempatkan di sebuah gedung penuh komputer, berisi puluhan bahkan ratusan anak muda senasib. Tugasnya? Jadi admin situs judi online.

Bukan yang glamor-glamor, tapi yang tiap hari harus “mancing” calon pemain lewat chat dan telepon. Targetnya? Kacau. Harus narik duit orang sebanyak mungkin lewat permainan yang jelas-jelas ngisep tabungan.

“Kalau nggak capai target, nggak cuma ditegur. Bisa nggak digaji, bahkan dipukul,” kata FF sambil menghela napas yang panjangnya kayak cicilan motor.

Gaji yang dijanjikan? Kadang dibayar, kadang tidak. Bergantung pada performa, mood atasan, dan seberapa besar “hasil tangkapan” hari itu.

FF mengaku pernah beberapa hari disuruh kerja nonstop 14 jam. Nggak capai target? Siap-siap diintimidasi. Kadang ada yang dibentak, kadang ada yang sampai masuk “ruang pendingin”—sebutan untuk sel sempit tempat hukuman.

Kasus FF bukan satu-satunya. Banyak WNI lain yang nasibnya nggak jauh beda. Tertipu iming-iming kerja resmi, tapi nyungsep di bisnis ilegal.

Dan yang bikin makin gelap: Kamboja bukan negara penempatan resmi bagi tenaga kerja Indonesia. Jadi begitu ketahuan, ya susah pulang, susah minta tolong.

Makanya, buat kamu yang baca ini sambil ngelamun pengin kerja ke luar negeri, pelan-pelanlah.

Tawaran gaji besar tanpa proses yang jelas itu biasanya pertanda petaka. Jangan sampe niat jadi anak rantau, malah pulang jadi berita duka.

Kalau kamu atau kerabatmu pernah ditawari kerja ke luar negeri dengan sistem yang nggak transparan, sebaiknya langsung cek ke BP2MI atau organisasi advokasi tenaga kerja. Jangan langsung berangkat cuma karena “katanya sih aman”.

Karena di era digital ini, yang namanya “kerja remote” bisa berarti dua hal: fleksibel… atau disekap.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Brigjen Eko Hadi Santoso Naik Pangkat Jadi Irjen Pol, Kini Jabat Penyidik Utama Bareskrim

25 Sep 2026 - 21:42 WIB

Brigjen Eko Hadi Santoso Naik Pangkat Jadi Irjen Pol, Kini Jabat Penyidik Utama Bareskrim

LSM Somasi Apresiasi Kapolres dan Kepala BPN Turun Langsung Usut Mafia Tanah Kayuringin

25 Sep 2026 - 18:56 WIB

LSM Somasi Apresiasi Kapolres dan Kepala BPN Turun Langsung Usut Mafia Tanah Kayuringin

Hari Lalu Lintas Bhayangkara 2026, Ditlantas Polda Bengkulu Raih Juara 3 Penanganan Laka

25 Sep 2026 - 18:44 WIB

Hari Lalu Lintas Bhayangkara 2026, Ditlantas Polda Bengkulu Raih Juara 3 Penanganan Laka

KRI Sriwijaya-100 Resmi Dikukuhkan, Kapal Induk Pertama TNI AL Siap Perkuat Operasi Laut

24 Sep 2026 - 17:48 WIB

KRI Sriwijaya-100 Resmi Dikukuhkan, Kapal Induk Pertama TNI AL Siap Perkuat Operasi Laut

Perjuangan Machi Achmad Dampingi Ruben Onsu Berbuah Hasil, Kasus Resmi Dihentikan

23 Sep 2026 - 23:27 WIB

Perjuangan Machi Achmad Dampingi Ruben Onsu Berbuah Hasil, Kasus Resmi Dihentikan
Trending di News