Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Prabers

“Diam-Diam Menyejukkan: Gaya Politik Sufmi Dasco yang Bikin Haidar Alwi Salut”

badge-check


					R. Haidar Alwi pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute (foto:Praba/Ist) Perbesar

R. Haidar Alwi pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute (foto:Praba/Ist)

PRABA INSIGHT- Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia yang kadang lebih mirip sinetron jam tujuh malam penuh drama, air mata, dan cliffhanger muncul satu nama yang justru adem kayak AC 2 PK di ruang rapat DPR: Sufmi Dasco Ahmad.

Buat R. Haidar Alwi pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute Dasco ini bukan sekadar politisi.

Dia adalah bukti nyata bahwa politik bisa berjalan tanpa harus jadi pertunjukan wayang satu babak. Rasional, elegan, dan yang paling penting: bebas dari drama yang bikin rakyat lelah mental.

Politik Nggak Harus Ribut-Ribut

Salah satu bukti kedewasaan politik ala Dasco terlihat awal Juni 2025. Kala itu, dia datang sowan ke Megawati Soekarnoputri sebagai utusan resmi Presiden Prabowo Subianto.

Tanpa gegap gempita media, tanpa gimmick naratif penuh efek dramatis, Dasco menyampaikan pesan penting secara low profile.

Diam-diam, tapi berdampak. Kayak nembak gebetan pakai surat tulisan tangan nggak ribut, tapi menyentuh.

Langkah itu bagi Haidar adalah isyarat kuat bahwa politik bisa santun tanpa kehilangan makna strategis. Bahwa komunikasi politik itu mestinya kayak kopi: pahit-pahit enak, bukan nyedak tenggorokan karena kebanyakan mic.

Dasco dan Irama Tenang di Gedung Wakil Rakyat

Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Dasco ini ibarat konduktor dalam orkestra politik yang kadang terlalu banyak pemain dramatis.

Dia nggak pernah tampil meledak-ledak, tapi kehadirannya terasa. Suaranya mungkin jarang nyaring, tapi sikapnya selalu jelas dan tegas.

Menurut Haidar, Dasco punya satu kualitas langka di dunia politik: dia tahu kapan harus bicara, dan lebih penting lagi, tahu kapan nggak perlu ikut-ikutan ribut.

Dalam polemik revisi UU KPK, Omnibus Law, sampai debat anggaran, Dasco selalu memilih jadi penyeimbang. Nggak partisan, tapi juga nggak diam-diam menghanyutkan.

“Dasco nggak mengejar panggung, tapi bangun ruang solusi. Ini politik diam-diam menghanyutkan, tapi dalam arti yang positif,” ucap Haidar dengan penuh hormat.

Pemimpin yang Teguh tapi Nggak Kepala Batu

Yang bikin Dasco disegani lintas partai, menurut Haidar, adalah prinsipnya. Ia kokoh, tapi bukan keras kepala. Tegas, tapi nggak sok keras. Nggak suka ribut, tapi bukan berarti gampang digoyang.

Sikap ini bikin dia bisa diterima banyak kalangan tanpa harus kehilangan jati diri politiknya. Di tengah polarisasi elite yang kadang lebih sibuk drama ketimbang kerja nyata, Dasco hadir sebagai penyambung nalar. Bukan provokator, tapi penyejuk.

Menjadi Teladan di Tengah Politik yang Haus Figur

Haidar Alwi menyoroti pentingnya regenerasi dalam gaya politik kita. Ia menegaskan: bangsa ini bukan kekurangan orang pintar, tapi sering kekurangan panutan yang layak ditiru.

Dan Dasco, menurutnya, masuk ke kategori yang sangat langka itu tokoh yang kerja dulu, baru bicara. Bukan sebaliknya.

Sebagai Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Dasco tetap nggak menjadikan partai sebagai alat ribut-ribut, melainkan sebagai kanal untuk membangun harmoni.

Haidar menyebut gaya Dasco sebagai politik kenegaraan gaya yang lebih mikirin negara daripada sekadar elektabilitas pribadi.

“Sufmi Dasco Ahmad nggak pakai drama buat tampil. Dia pakai kepercayaan dan ketulusan. Makanya dihormati banyak pihak,” tegas Haidar.

Ucapan Terima Kasih yang Dalam, Bukan Basa-Basi Politik

Sebagai bentuk penghormatan, Haidar menyampaikan ucapan yang bukan sekadar formalitas:

“Terima kasih untuk adik saya, Sufmi Dasco Ahmad. Atas dedikasi dan integritas menjaga marwah parlemen, merawat komunikasi antarpemimpin bangsa, dan menyemai kedewasaan politik yang sudah lama dirindukan rakyat. Semoga Allah menjaga dan meneguhkan beliau dalam setiap langkah pengabdian.”

Penutupnya pun tidak kalah filosofis. Haidar menyatakan bahwa Indonesia ini terlalu besar untuk diisi oleh drama politik yang tak berkesudahan. Bangsa ini butuh pemimpin yang lebih banyak kerja daripada koar-koar.

“Indonesia terlalu besar untuk diwarnai sandiwara. Kita butuh pemimpin seperti Dasco yang tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam untuk bekerja,” pungkas Haidar.

 

Penulis : Alma Khairunnisa |Editor: Ivan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

10 Januari 2026 - 13:43 WIB

Dari Palet Warna sampai Janji Suci, Hari Kedua BRI The BFF Festival 2025 Bikin Senayan Riuh

17 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Trending di Prabers