Menu

Mode Gelap
Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

News

GMNI Jakarta Demo soal KDMP: Ketika Proyek Desa Dipertanyakan Mahasiswa

badge-check


					GMNI Jakarta dan HMI menggelar aksi meminta audit proyek KDMP. Mahasiswa menyoroti dugaan selisih anggaran dan pentingnya transparansi program desa.(istimewa) Perbesar

GMNI Jakarta dan HMI menggelar aksi meminta audit proyek KDMP. Mahasiswa menyoroti dugaan selisih anggaran dan pentingnya transparansi program desa.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA — Di tengah banyaknya proyek yang selalu dibungkus jargon “demi rakyat”, mahasiswa kembali datang membawa pertanyaan klasik yang sering bikin pejabat tak nyaman: uangnya sebenarnya dipakai buat apa?

Pertanyaan itu yang dibawa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia DKI Jakarta bersama Himpunan Mahasiswa Islam Jakarta saat menggelar aksi di kantor PT Agrinas Pangan Nusantara dan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu (13/5/2026). Mereka menyoroti proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang disebut-sebut punya anggaran jumbo.

Mahasiswa tidak datang membawa proposal, apalagi proposal minta sponsorship acara kampus. Mereka datang dengan tuntutan audit dan transparansi anggaran.

Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Dendy, dalam orasinya mempertanyakan dugaan selisih anggaran proyek yang menurut mereka perlu dibuka ke publik secara terang.

“Negara menganggarkan Rp3 miliar per unit desa, tapi faktanya di lapangan hanya senilai Rp1,6 miliar. Ada Rp1,4 miliar yang diduga tidak sesuai peruntukan per desa. Karena itu kami meminta audit total agar semuanya jelas,” ujar Dendy.

Narasi soal “desa sebagai ujung tombak ekonomi nasional” memang terdengar bagus di panggung seminar. Tapi bagi mahasiswa, jargon tanpa transparansi cuma akan terdengar seperti pidato yang terlalu sering diputar saat musim proyek datang.

GMNI Jakarta menilai proyek KDMP sebenarnya punya tujuan yang baik, yakni memperkuat ekonomi desa. Masalahnya, publik juga ingin tahu apakah proyek sebesar itu benar-benar sampai ke rakyat atau justru berhenti di meja-meja birokrasi.

Selain soal anggaran, massa aksi juga menyoroti tata kelola proyek, mulai dari pengadaan material hingga distribusi logistik. Mereka meminta proyek desa dijalankan lebih terbuka dan melibatkan masyarakat secara nyata, bukan sekadar dijadikan objek foto seremonial.

Di sisi lain, mahasiswa juga meminta aparat penegak hukum seperti KPK dan Kejaksaan Agung menindaklanjuti aspirasi masyarakat secara profesional. Bagi mereka, transparansi penting supaya program pembangunan desa tidak memunculkan kecurigaan publik.

“Harapan kami sederhana, program yang menggunakan uang rakyat harus bisa diawasi bersama agar manfaatnya benar-benar kembali ke masyarakat desa,” kata Dendy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus

14 Juni 2026 - 19:24

Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun

14 Juni 2026 - 19:08

Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports

13 Juni 2026 - 21:36

Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi

13 Juni 2026 - 20:50

Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

13 Juni 2026 - 20:08

Trending di Nasional