Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

News

Haidar Alwi Institut: Negara Wajib Awasi Propaganda Asing Tanpa Membungkam Pers

badge-check


					Haidar Alwi Institut menilai pengawasan propaganda asing penting untuk ketahanan nasional, namun menegaskan negara tak boleh membungkam kebebasan pers di ruang digital Perbesar

Haidar Alwi Institut menilai pengawasan propaganda asing penting untuk ketahanan nasional, namun menegaskan negara tak boleh membungkam kebebasan pers di ruang digital

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di tengah linimasa yang makin ramai oleh opini asing berbahasa lokal dan narasi global yang sering terasa “terlalu akrab”, pemerintah berencana menyusun RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing. Wacana ini langsung memantik debat: negara waspada atau negara mau membungkam?

Haidar Alwi Institut memilih berdiri di tengah tidak ikut teriak “sensor!”, tapi juga tidak pura-pura buta. Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institut, Sandri Rumanama, menilai langkah pemerintah ini sebagai respons masuk akal menghadapi perang siber modern, bukan sebagai upaya membungkam kebebasan berekspresi.

“Propaganda asing itu nyata. Tapi pers juga nyata dan harus tetap hidup,” kata Sandri, yang ironisnya juga dikenal sebagai salah satu bos media online. Jadi, tuduhan anti-pers jelas bukan datang dari orang yang salah kamar.

Menurut Sandri, ketimbang sibuk menyusun RUU yang rawan salah tafsir dan berpotensi bikin gaduh publik, pemerintah sebaiknya fokus pada petunjuk teknis (juknis) penanganan disinformasi. Bahasa sederhananya: kerjakan yang bisa dikerjakan sekarang, jangan menambah polemik baru.

“Sebagai negara berdaulat, informasi yang sifatnya propaganda, provokatif, dan berasal dari asing memang wajib diawasi. Tapi jangan sampai pengawasan itu berubah jadi pembungkaman pers,” ujarnya.

Sandri mengingatkan, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan alat. Dari BIN, BSSN, Kementerian Komunikasi dan Digital, satuan siber TNI, sampai divisi teknologi informasi Polri semuanya sudah ada. Masalahnya tinggal satu: dipakai atau tidak.

“Perangkatnya lengkap. Tinggal kemauan negara untuk mendorong mereka bekerja secara teknis dan terkoordinasi,” tegasnya.

Di mata Haidar Alwi Institut, isu disinformasi dan propaganda asing bukan sekadar soal hoaks receh, tapi bagian dari strategi global yang bisa melemahkan ketahanan nasional. Apalagi saat ini propaganda tak melulu datang dari institusi resmi negara asing, melainkan juga dari perusahaan swasta dan akun media sosial berbasis luar negeri yang rajin menggoreng isu domestik.

“Ini sudah urgent. Pemerintah perlu ambil langkah tegas take down konten propaganda, perkuat supervisi digital demi keamanan dan ketahanan negara,” kata Sandri.

Ia pun menyatakan dukungan terhadap rencana pembentukan badan khusus yang fokus menangani disinformasi dan propaganda asing, tentu dengan catatan: bekerja bersama lembaga lain dan tetap menghormati kebebasan pers.

Singkatnya, negara tak perlu alergi kritik, tapi juga tak boleh lengah. Dunia digital bukan ruang netral. Dan propaganda, kalau dibiarkan, bisa lebih berisik dari buzzer lokal.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus Pinjol Crowde, Temukan 62 Mitra Fiktif

3 Februari 2026 - 11:58 WIB

Eyang Meri Pergi di Usia 100 Tahun, Perempuan Tangguh di Balik Keteguhan Jenderal Hoegeng

3 Februari 2026 - 08:21 WIB

Trending di News