Menu

Mode Gelap
“Kami Ditolong… atau Dijebak? Kisah Melahirkan di Rumah Sakit Gaib” Korban SPBE Cimuning Jadi 20 Orang, Alimudin Desak Disnaker Evaluasi K3 Komisi IV DPRD Bekasi Kawal Klaim BPJS Pekerja Korban Ledakan SPBE Cimuning Kasus Amsal Sitepu Makin Ruwet: DPR Minta Kajari Karo Dicopot, Jaksa Bilang Brownies Bukan Intimidasi iPhone dan iPad Lawas Lagi Nggak Aman: Cuma Buka Website Bisa Kena Hack, Ini Cara Selamatin Diri Tips Mengatasi Grogi Saat Interview Kerja: Biar Nggak Blank, Panik, dan Gagal di Depan HRD

Kolom Angker

“Kami Ditolong… atau Dijebak? Kisah Melahirkan di Rumah Sakit Gaib”

badge-check


					Foto ilustrasi: Ai Perbesar

Foto ilustrasi: Ai

KOLOM ANGKER – Aku tidak pernah percaya pada hal-hal gaib.

Bagiku, dunia ini sederhana kalau tidak bisa disentuh, berarti tidak ada.

Tapi malam itu…

semua keyakinanku hancur.

Dan yang lebih mengerikan

istriku… melahirkan dibantu oleh sesuatu yang bukan manusia.

MALAM YANG SALAH

Namaku Sarman. Orang pasar memanggilku Sarman Kerempeng.

Malam itu seharusnya biasa saja.

Aku hanya ingin pulang.

Hanya itu.

Namun sejak awal… ada sesuatu yang terasa tidak tepat.

Gerimis turun pelan. Jalanan lengang. Lampu-lampu tampak redup, seperti hampir mati. Becak yang kami tumpangi berderit setiap beberapa detik, seperti menjerit kesakitan.

Lalu

Cessssss…

Ban belakang kempes.

Suara itu terlalu keras untuk malam sesunyi itu.

Aku dan istriku turun.

Dan sejak saat itu… semuanya berubah.

KESUNYIAN YANG HIDUP

Kami berjalan.

Awalnya masih terdengar suara jangkrik.

Lalu pelan-pelan…

hilang.

Satu per satu suara malam lenyap.

Sampai akhirnya

sunyi total.

Bukan sunyi biasa.

Sunyi yang seperti… menelan suara.

Seperti dunia ini tiba-tiba hanya menyisakan kami berdua.

Aku mulai merasa diawasi.

Tapi setiap kali menoleh

tidak ada apa-apa.

KONTRAKSI

“Mas… sakit…”

Suara istriku pecah.

Tangannya mencengkeram lenganku.

Kuat.

Terlalu kuat.

Aku melihat wajahnya.

Pucat.

Matanya seperti… kosong sesaat.

Aku merinding.

“Mas… dia… dia nendang keras banget…”

Aku mencoba tenang.

Tapi saat itu aku sadar

perutnya bergerak.

Bukan seperti bayi menendang.

Tapi seperti ada sesuatu…

yang mendorong dari dalam… dengan paksa.

CAHAYA DI UJUNG JALAN

Saat hampir putus asa

aku melihatnya.

Cahaya terang.

Bangunan besar.

Ramai.

Rumah sakit.

Seperti… muncul begitu saja di tengah kegelapan.

Harapan langsung datang.

Terlalu cepat.

Terlalu mudah.

Dan aku tidak curiga sama sekali.

BIDAN ITU SUDAH MENUNGGU

Kami belum sempat bicara.

Belum sempat menjelaskan.

Tapi

“Cepat… bawa ke dalam.”

Bidan itu sudah berdiri di depan kami.

Seolah… dia memang sudah menunggu.

Seolah… dia tahu kami akan datang.

Aku sempat terdiam.

Aku tidak mendengar langkahnya datang.

Tidak sama sekali.

LORONG YANG TERLALU PANJANG

Kami masuk.

Lorongnya…

panjang.

Terlalu panjang.

Belok satu.

Belok lagi.

Belok lagi.

Dan setiap belokan

rasanya semakin jauh dari dunia luar.

Suara-suara mulai berubah.

Awalnya ramai.

Lalu meredup.

Lalu… hilang.

PROSES YANG TERLALU CEPAT

Istriku berteriak.

Aku di luar.

Tangannya sempat meraih pintu

“Mas… jangan tinggalin aku…”

Aku hampir masuk.

Tapi

BRAK!

Pintu tertutup sendiri.

Aku membeku.

Padahal tidak ada angin.

SUARA YANG SALAH

“Ayo… dorong…”

Suara bidan itu terdengar.

Tapi sekarang…

ada gema.

Seperti dua suara yang bertumpuk.

Satu lembut.

Satu lagi… serak dan dalam.

Seperti bukan dari tenggorokan manusia.

Aku mundur satu langkah.

Jantungku mulai tidak beres.

Tiba-tiba

TANGAN MENYENTUH BAHUKU.

Aku langsung menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi…

aku masih merasakan sentuhannya.

Dingin.

Basah.

Seperti tangan orang yang sudah lama mati.

TANGISAN

Lalu

BAYI MENANGIS.

Nyaring.

Keras.

Tapi anehnya…

tidak terdengar seperti tangisan biasa.

Ada nada… melengking.

Seperti tertawa di balik tangisan itu.

Aku merinding hebat.

BAYI ITU DIBERIKAN PADAKU

Pintu terbuka perlahan.

Bidan itu keluar.

Menggendong bayiku.

Senyumnya… terlalu lebar.

Matanya tidak berkedip.

“Anakmu sehat…”

Tangannya menyentuhku.

Dan

dingin.

Bukan dingin manusia.

Dingin seperti… memegang batu nisan.

Aku refleks menarik bayi itu.

Dan saat aku berkedip

bidan itu sudah tidak ada di depanku.

Padahal tadi… hanya satu langkah jaraknya.

REALITAS MULAI RETAK

Aku masuk ke dalam.

Istriku tersenyum lemah.

Tapi…

lampu mulai redup.

Perlahan.

Satu per satu.

Klik…

Gelap.

Aku menyalakan korek.

Dan saat api menyala

ruangan itu berubah.

Temboknya…

retak.

Catnya mengelupas.

Langit-langitnya hitam penuh jamur.

Bau busuk langsung menusuk hidung.

Seperti bau bangkai yang lama tersembunyi.

Tawa ITU KEMBALI

Dari lorong

Hihihihihihi…

Tawa.

Melengking.

Dekat.

Sangat dekat.

Aku menoleh.

Dan kali ini

aku melihatnya.

WAJAH ASLINYA

Dia berdiri di ujung lorong.

Bidan itu.

Tapi sekarang

kepalanya miring tidak wajar.

Rambutnya menutupi wajah.

Lalu perlahan…

ia mengangkat wajahnya.

Dan

MATA ITU HITAM. KOSONG.

Mulutnya terbuka lebar.

Terlalu lebar.

Hingga hampir sobek ke telinga.

Dalam satu detik

dia sudah di depan pintu.

Tanpa berjalan.

Tanpa suara.

Langsung.

Di sana.

Aku bahkan tidak melihat dia bergerak.

Hanya

tiba-tiba sudah dekat.

KEGELAPAN TOTAL

Aku memeluk istriku.

Memeluk bayiku.

“Jangan lihat!”

Tawa itu tepat di depan kami.

Lalu

sunyi.

Total.

Dan semuanya…

hitam.

PAGI YANG TIDAK MASUK AKAL

Aku membuka mata.

Matahari sudah tinggi.

Aku terbaring di luar.

Di depan bangunan.

Aku langsung berdiri.

Mencari istriku.

Dia ada.

Memeluk bayi kami.

Menangis.

Selamat.

Tapi saat aku menoleh

aku berharap itu semua hanya mimpi.

TIDAK ADA RUMAH SAKIT

Bangunan itu…

kosong.

Rusak.

Tua.

Tidak ada listrik.

Tidak ada orang.

Tidak ada kehidupan.

Yang tadi malam terang…

sekarang hanya bangkai bangunan.

FAKTA YANG LEBIH MENAKUTKAN

Seorang warga berkata

Rumah sakit itu…

sudah lama tutup.

Bertahun-tahun.

Dan kami…

bukan yang pertama.

YANG HILANG

Ada satu hal yang tidak pernah kami temukan.

Sampai hari ini.

Sesuatu yang seharusnya ada setelah kelahiran.

Sesuatu yang selalu ada.

Ari-ari anak kami… hilang.

Dan sejak hari itu…

aku tidak pernah lagi meragukan satu hal

Tidak semua yang menolong…

adalah manusia.

Dan tidak semua yang tersenyum…

berniat baik.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

26 Maret 2026 - 16:05 WIB

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Teror Mencekam Lantai 15 Sudirman–Thamrin: Sosok Pria Melayang dan Wanita di Plafon Menghantui Shift Malam

26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Trending di Kolom Angker