Menu

Mode Gelap
GMNI Jakarta Demo soal KDMP: Ketika Proyek Desa Dipertanyakan Mahasiswa Sandri Rumanama Minta Standar MEPE Utamakan Keselamatan Polisi di Lapangan Gerakan Nasional Aktivis ’98 Nilai 4 Mahasiswa Trisakti Layak Jadi Pahlawan Nasional Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya

News

Ketika Negeri Dirampok: Suara Perlawanan dari Barikade 98

badge-check


					foto ilustrasi (ist) Perbesar

foto ilustrasi (ist)

PRABA INSIGHT- Malam itu, suasana di Hotel Acacia, Jakarta, terasa panas. Bukan karena cuaca, tapi karena semangat yang membara dalam diskusi bertajuk “Merampok Indonesia, Merobek Merah Putih Kita”. Barikade 98 mengumpulkan para aktivis, pakar hukum, dan tokoh nasional untuk membedah fenomena yang kian meresahkan: mafia ekonomi yang diduga menggerogoti kekayaan negara.

Ketika Hukum Tak Lagi Bertaring

Erros Djarot, budayawan kawakan, langsung membuka diskusi dengan pernyataan tajam. “Kalau hukum tumpul menghadapi mereka, rakyat yang harus bertindak!” serunya lantang. Baginya, ini bukan sekadar korupsi biasa, melainkan perampokan sistematis yang mengancam masa depan bangsa.

Feri Amsari, pakar hukum tata negara, menimpali dengan nada serius. Ia mengingatkan bahwa konstitusi mengamanatkan kekayaan negara untuk kesejahteraan rakyat. “Tapi lihat realitanya. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin terpinggirkan. Kita pelan-pelan kehilangan jati diri sebagai bangsa berdaulat,” katanya.

Mafia Semakin Berani, KPK Harus Kembali Tajam!

Mantan Ketua KPK, Abraham Samad, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, pemberantasan korupsi kini semakin melemah, sementara mafia ekonomi makin leluasa menguasai aset negara.

“KPK harus kembali ke jalurnya! Mafia-mafia ini harus ditindak, bukan malah dilindungi. Kalau kita hanya berharap pada aparat hukum yang makin ompong, ya percuma! Rakyat harus ikut bersuara, ikut mengawal!” serunya.

Ketika Demokrasi Masih Hidup, Kritik Harus Terus Menggema

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Imanuel Ebenazer, yang hadir dalam diskusi ini, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para aktivis. Menurutnya, selama kritik masih ada, demokrasi tetap bernapas.

“Saya senang ada di sini. Jangan takut bersuara! Negara ini dibangun dari pajak rakyat, jadi rakyat punya hak untuk mengawasi,” katanya.

Transparansi: Senjata Ampuh Melawan Mafia

Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani, punya pandangan tajam soal solusi melawan mafia ekonomi. “Korupsi dan perampokan negara ini tumbuh subur karena sistemnya gelap. Kita butuh transparansi total! Kalau sistemnya bersih dan rakyat ikut mengawasi, mafia nggak bakal punya ruang gerak,” jelasnya.

Ia pun mendukung seruan sejumlah aktivis agar rakyat lebih aktif menekan pemerintah dan aparat hukum. “Jangan cuma bicara, kita harus bertindak! Kalau perlu, kita buat deklarasi perlawanan!” serunya, yang langsung disambut tepuk tangan riuh.

Malam itu, satu pesan jelas mengemuka: rakyat tak boleh diam. Jika hukum melemah, suara rakyat harus menguat. Jika mafia ekonomi makin berani, rakyat harus lebih lantang. Perjuangan belum selesai—dan mungkin, baru saja dimulai. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

GMNI Jakarta Demo soal KDMP: Ketika Proyek Desa Dipertanyakan Mahasiswa

13 Mei 2026 - 17:45

Sandri Rumanama Minta Standar MEPE Utamakan Keselamatan Polisi di Lapangan

13 Mei 2026 - 13:06

Gerakan Nasional Aktivis ’98 Nilai 4 Mahasiswa Trisakti Layak Jadi Pahlawan Nasional

13 Mei 2026 - 00:44

Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar

11 Mei 2026 - 19:46

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Trending di News