PRABAINSIGHT.COM – KOLOM ANGKER –Nama saya Arif Rahman. Saya tidak tahu apakah menulis ini keputusan yang benar. Setiap kata seperti mengetuk pintu yang seharusnya tetap terkunci. Tapi ada sesuatu dari penginapan itu yang tidak suka dilupakan. Ia selalu mencari jalan untuk diingat.
Jalan yang Terlalu Sunyi
Kabut turun sebelum kami sampai. Bukan kabut biasa terlalu tebal, terlalu berat. Lampu mobil seperti ditelan putih. Jalan Puncak yang seharusnya ramai terasa kosong, mati, seolah kami satu-satunya yang masih bergerak.
Ketika papan kayu bertuliskan Penginapan Keluarga muncul, mesin mobil mendadak mati.
Saya ingat jantung saya berdetak terlalu keras saat itu.
Bangunan itu berdiri menyendiri, jendelanya gelap seperti mata yang sengaja dipejamkan. Ada perasaan kuat bahwa tempat itu sedang menunggu.
Peringatan Pertama
Pemiliknya keluar tanpa suara. Pria tua dengan mata cekung, wajahnya seperti belum tidur bertahun-tahun. Ia memberikan kunci kamar tanpa senyum.
“Lewat jam sebelas,” katanya pelan,
“jangan buka pintu… walaupun dipanggil.”
Saya tertawa canggung.
Ia tidak ikut tertawa.
Lorong yang Bernapas
Lorong lantai dua sempit, lampunya redup, berwarna kuning sakit. Setiap langkah kami memantul aneh, seolah lorong itu mengulang suara kami dengan napasnya sendiri.
Anak bungsu saya berhenti mendadak.
“Ayah… ada yang berdiri di belakang kita.”
Lampu mati.
Gelap total.
Saya mendengar napas tepat di belakang telinga saya.
Lampu menyala kembali.
Lorong kosong.
Tapi bau tanah basah tertinggal.
Malam Pertama: Sesuatu Masuk
Tepat pukul sebelas malam, udara kamar berubah. Dingin yang menusuk tulang. Bau melati dan besi karat bercampur.
Ibu saya berbisik dengan suara gemetar,
“Ada yang duduk di kursi itu…”
Kursi kosong.
Lalu kursi itu bergerak sendiri.
Beberapa sentimeter.
Pelan.
Seperti diduduki sesuatu yang sangat berat.
Tengah Malam: Ketukan yang Salah
Saya terbangun karena suara ketukan keras.
Bukan dari pintu.
Dari dinding.
DUK. DUK. DUK.
Dari balik dinding, terdengar suara anak kecil menangis.
“Tolong… aku kedinginan…”
Istri saya menutup mulut anak-anak agar tidak bersuara.
Ketukan itu berpindah.
Sekarang dari plafon.
Malam Kedua: Di Bawah Tempat Tidur
Anak sulung saya menunjuk ke bawah tempat tidur.
“Ayah… tangannya panjang.”
Saya menunduk
DUA TANGAN HITAM mencengkeram kaki ranjang dari bawah.
Jarinya kurus, kukunya panjang, dan perlahan bergerak naik.
Saya berteriak.
Lampu mati.
Dalam gelap, saya mendengar sesuatu merangkak keluar.
Dan tertawa.
Pukul Sebelas: Mereka Bangun
Malam ketiga.
Tepat pukul sebelas.
SELURUH PENGINAPAN TERDIAM.
Listrik padam.
Jam tangan saya berhenti.
Dari lorong terdengar suara banyak kaki berjalan bersamaan.
Bukan satu.
Puluhan.
Suara anak-anak tertawa, bercampur tangisan orang dewasa.
Pintu kamar diketuk dari luar.
Lalu suara ibu saya
padahal ia pingsan di ranjang.
“Arif… buka pintunya.”
Pegangan pintu diputar.
Dari celah bawah pintu, cairan hitam merembes masuk.
Berbau busuk.
Mereka Sudah Masuk
Saya membaca doa keras-keras.
Tiba-tiba anak bungsu saya menjerit.
“Ayah! Mereka di belakang Ayah!”
Saya berbalik
SEMUA JENDELA DIPENUHI WAJAH.
Mata hitam.
Mulut tersenyum terlalu lebar.
Lampu menyala mendadak.
Semua hilang.
Ibu saya terbaring kaku. Napasnya hampir tidak ada.
Pagi yang Salah
Di lorong, ada bekas telapak tangan di dinding. Tinggi melebihi orang dewasa.
Di depan kamar kami, tertulis dengan lumpur:
“KALIAN SUDAH KELUARGA.”
Foto Terakhir
Di tas saya, sebuah foto lama muncul.
Kami semua ada di foto itu.
Berdiri di depan penginapan.
Dengan satu anak tambahan.
Wajahnya hitam.
Saya bertanya pada pemilik penginapan.
Ia menangis.
“Mereka tidak suka ditinggal,” katanya.
“Yang pergi… biasanya kembali.”
Setelah Pulang
Anak saya kini sering tertawa sendiri di tengah malam.
Ia berkata,
“Mereka nggak suka kalau lampu dinyalakan.”
Dan setiap pukul sebelas,
pintu kamar kami selalu diketuk.
Dari dalam.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











