KOLOM ANGKER – Tak ada yang aneh dengan rumah Rian setidaknya dari luar. Bangunannya besar, temboknya tebal, berdiri sendiri di ujung kampung seperti raja yang sengaja menjauh dari rakyatnya. Tapi setiap malam, saat lampu-lampu rumah lain padam, rumah itu selalu menyisakan satu cahaya redup… dan satu bayangan tambahan.
Rian dikenal sebagai lelaki beruntung. Usianya belum genap empat puluh, tapi sawahnya terbentang sejauh mata memandang. Uangnya seperti air tanah tak terlihat, tapi tak pernah kering. Orang-orang iri, tapi tak berani bertanya. Ada satu kebiasaan Rian yang membuat siapa pun memilih diam: saat berjalan, tangannya selalu berada di belakang punggungnya.
Bukan seperti orang pegal.
Bukan pula sekadar kebiasaan.
Lebih mirip… menahan sesuatu agar tak jatuh.
Beberapa warga mengaku pernah melihatnya. Sekilas saja. Bayangan kecil, hitam legam, menempel di punggung Rian saat ia melintas di bawah lampu jalan. Saat mata berkedip bayangan itu sudah lenyap. Yang tersisa hanya bau amis, seperti tanah basah bercampur darah lama.
Itulah tuyul turunan.
Bukan dipelihara diwariskan.
Makhluk itu tak tinggal di sudut rumah atau di gentong tanah. Ia hidup menempel pada tubuh Rian. Tidur di punggungnya. Berbisik di telinganya. Menuntun langkahnya saat malam Jumat tiba.
“Rumah itu…”
“Yang itu…”
“Di bawah kasur… di lemari… di kaleng biskuit…”
Saat kampung terlelap, si kecil berlari. Kakinya menghentak atap rumah warga, duk… duk… duk… suaranya seperti tikus, tapi lebih berat. Esok paginya, uang raib. Tak ada jejak. Tak ada saksi. Dan Rian… tetap tersenyum sopan di warung kopi.
Tahun-tahun berlalu. Anak pertamanya lahir. Perempuan. Sehat. Disusul anak kedua, ketiga, keempat semuanya perempuan. Rumah makin besar. Sawah makin luas. Tapi setiap kelahiran selalu diiringi satu hal yang sama.
Tangisan bayi…
dan tawa kecil dari arah punggung Rian.
Hingga suatu malam, istrinya berkata dengan suara gemetar,
“Mas… yang ini… laki-laki.”
Rian tertawa. Tangannya mengepal di belakang tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ada getaran ketakutan yang ia rasakan bukan dari dirinya, tapi dari sesuatu yang menempel padanya.
Hari kelahiran itu hujan turun deras. Lampu ruang bersalin sempat mati sesaat. Dan ketika menyala kembali, jeritan memenuhi ruangan.
Bayi itu lahir…
kepalanya panjang.
Kulitnya pucat seperti mayat yang lupa dikubur.
Matanya sayu, hitam, terlalu dewasa untuk bayi yang baru melihat dunia.
Dan yang paling membuat bidan mundur ketakutan
tak ada sehelai rambut pun di kepalanya.
Persis.
Seperti wajah yang selama ini Rian sembunyikan di punggungnya.
Desas-desus meledak. Bisik-bisik berubah jadi doa ketakutan. Orang-orang mulai menutup pintu lebih rapat saat Rian lewat. Anak-anak dilarang menunjuk ke arahnya.
“Itu bukan bayi…”
“Itu bayaran…”
“Itu pengganti…”
Dua minggu kemudian, bayi itu meninggal.
Malam kematiannya, Rian terbangun oleh suara cekikikan dari belakang lehernya. Tangannya refleks bergerak ke belakang kosong. Untuk pertama kalinya… makhluk itu berdiri sendiri di sudut kamar.
Kepalanya miring. Matanya menatap ranjang bayi yang sudah dingin.
Rian jatuh bersujud. Tangisnya pecah.
“Cukup…”
“Saya tidak mau lagi…”
“Ambil kembali semuanya…”
Sejak malam itu, neraka membuka pintunya.
Api muncul dari dalam rumah tanpa asap, tanpa sumber. Dalam hitungan menit, rumah megah itu jadi arang. Anak keduanya jatuh sakit, tubuhnya panas, matanya menatap kosong ke sudut kamar, seolah melihat seseorang berdiri di sana.
Istrinya kecelakaan. Mobil terguling tanpa sebab. Ia selamat… tapi setiap malam berteriak, katanya ada tangan kecil menarik kakinya dari bawah tempat tidur.
Harta lenyap. Sawah berpindah tangan. Uang menguap. Rian jatuh bukan pelan-pelan, tapi dijatuhkan.
Namun satu hal tak pernah ia lakukan: meminta kembali.
Kini Rian tinggal di rumah kecil, dindingnya tipis, atapnya bocor. Tapi setiap malam, ia tidur tanpa bisikan. Tanpa cekikikan. Tanpa tangan dingin di punggungnya.
Kadang, saat berjalan sendirian, ia masih refleks menaruh tangan ke belakang. Lalu tersadar—dan menggenggam tangan anak-anaknya erat-erat.
Orang kampung bilang, kutukan itu belum benar-benar pergi.
Ada yang bilang tuyul itu hanya menunggu pewaris berikutnya.
Tapi Rian selalu menjawab pelan,
“Biar aku miskin di dunia…”
“Asal anak-anakku tak diwarisi kegelapan.”
Dan sampai hari ini, tak ada lagi yang melihat bayangan kecil menempel di punggungnya.
Meski…
beberapa orang bersumpah,
di malam tertentu,
di ujung kampung,
masih terdengar tawa kecil…
mencari jalan pulang.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











