KOLOM ANGKER – Aku masih ingat bau tanah basah malam itu.
Bukan sekadar bau hujan.
Tapi bau… sesuatu yang sudah lama terkubur.
Desember 1985. Hujan mengguyur tanpa jeda. Langit seperti bocor. Jalanan hancur. Pekerjaan berhenti. Perut kosong.
Lalu datang tawaran itu.
Mengantar pindahan.
Ke sebuah kampung.
Di atas bukit.
“Sepi, Mas. Tapi enak buat hidup,” kata si ibu.
Aku mengangguk.
Kalau saja aku tahu… kampung itu bukan untuk hidup.
Perjalanan pertama tidak ada yang aneh.
Atau mungkin… keanehannya terlalu halus untuk kami sadari.
Kami melewati jalan rusak, tanjakan panjang, hutan bambu yang berdesir aneh seperti ada yang berbisik di antara batang-batangnya.
Lalu kami melihat pemakaman.
Panjang.
Terlalu panjang.
Nisan berjajar… seperti tidak ada ujungnya.
Dan anehnya
tidak ada satu pun nama yang bisa aku baca.
Kabur.
Seolah sengaja disembunyikan.
Kami sampai.
Kampung itu sunyi.
Tapi hangat.
Terlalu hangat.
Warga membantu.
Mereka tersenyum.
Tapi…
tidak ada satu pun yang menatap mata kami.
Malam itu kami tidur.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku bermimpi buruk tanpa bisa bangun.
Aku melihat seseorang berdiri di depan pintu.
Diam.
Menatap.
Tanpa wajah.
Aku terbangun.
Keringat dingin.
Dan aku bersumpah
pintu kamar itu…
sedikit terbuka.
Padahal sebelumnya tertutup rapat.
Kami pergi pagi hari.
Dan entah kenapa…
aku merasa lega seperti baru lolos dari sesuatu.
Kesalahan terbesarku?
Aku kembali.
Perjalanan kedua dimulai biasa saja.
Aku, Yogi, dan Siman.
Anak pemilik rumah.
Awalnya dia banyak bicara.
Tertawa.
Hidup.
Lalu malam turun.
Dan semuanya berubah.
Ban bocor.
Kami berhenti di jalan sepi.
Tidak ada suara.
Tidak ada angin.
Tidak ada apa-apa.
Terlalu sunyi.
Siman turun.
Dia berjalan menjauh.
Pelan.
Langkahnya… tidak mengeluarkan suara.
Aku memperhatikan.
Dan tiba-tiba
dia berhenti.
Kepalanya menoleh.
Bukan ke arah kami.
Tapi ke arah hutan.
Dan dia… tersenyum.
“Mas… ayo cepat…”
Suaranya membuat bulu kudukku berdiri.
Bukan suara anak muda.
Itu suara…
serak.
Dalam.
Seperti keluar dari tenggorokan yang sudah kering lama.
Kami lanjut jalan.
Siman duduk di depan.
Diam.
Matanya terbuka.
Tapi tidak berkedip.
Tidak sekali pun.
“Mas… dia… kenapa?” bisik Yogi.
Aku tidak jawab.
Karena aku takut…
kalau aku menoleh…
yang duduk di sampingku…
bukan Siman.
Dia akhirnya “tidur”.
Tapi napasnya…
tidak terdengar.
Kami masuk jalan kampung.
Dan saat itu
aku tahu kami tersesat.
Tidak ada persimpangan.
Tidak ada tanda.
Hanya jalan lurus… seperti ditarik ke dalam kegelapan.
“Bangunin dia.”
Yogi mengguncang Siman.
Dia bangun.
Perlahan.
Kepalanya miring.
Dan dia menunjuk ke depan
“Nanti… belok kiri…”
Senyumnya…
terlalu lebar.
Terlalu… tidak manusia.
Kami menemukan pertigaan.
Padahal sebelumnya tidak ada.
Aku menelan ludah.
Dan tetap belok.
Kesalahan.
Terbesar.
Dalam hidupku.
Beberapa menit kemudian
kami melihat cahaya.
Ramai.
Suara musik.
Orang-orang berkumpul.
Aku hampir lega.
Hampir.
Siman tertawa.
Pelan.
“Hehehe… mereka sudah menunggu…”
DUARRR!
Suara keras tiba-tiba terdengar dari arah panggung.
Aku tersentak.
Jantungku seperti berhenti.
Siman turun.
Berjalan.
Dan anehnya
kakinya tidak menyentuh tanah.
“YOGI JANGAN TURUN!!”
Terlambat.
Yogi sudah berlari.
Masuk ke kerumunan.
Hilang.
Aku mendekat.
Pelan.
Sangat pelan.
Dan saat aku melihat ke panggung—
DUNIAKU HANCUR.
Lima pasang penari.
Menari.
Anggun.
Berputar.
Lalu
kepala mereka jatuh.
Satu per satu.
DEG!
Kepala pertama jatuh ke lantai.
Menggelinding.
Berhenti.
Menghadap ke arahku.
Matanya terbuka.
Dan—
TERSENYUM.
Aku menjerit.
Tubuh tanpa kepala itu masih menari.
Darah menyembur dari leher.
Musik semakin keras.
Semakin cepat.
Semakin gila.
Lalu
SEMUA penonton menoleh.
Perlahan.
Serempak.
Dan wajah mereka…
bukan wajah manusia.
Mata mereka hitam.
Kosong.
Mulut mereka terbuka lebar—
terlalu lebar.
Seolah ingin menelan sesuatu.
“YOGI!!!”
Aku berteriak.
Dan aku melihatnya.
Di tengah kerumunan.
Berdiri.
Diam.
Tersenyum.
Dengan mata yang sama.
Aku mundur.
Menabrak sesuatu.
Saat aku menoleh—
Siman berdiri di belakangku.
Tepat.
Di belakangku.
Padahal tadi dia di depan.
Wajahnya… retak.
Seperti topeng yang pecah.
Dan dari dalam retakan itu—
sesuatu hitam bergerak.
“Mas… kenapa pulang…?”
AKU LARI.
Aku lompat dari truk.
Berlari tanpa arah.
Tanah licin.
Aku jatuh.
Bangun.
Jatuh lagi.
Dan di belakangku
LANGKAH.
Banyak.
Cepat.
Tangan dingin hampir menyentuh leherku
BRAK!
Aku jatuh keras.
Dan semuanya…
gelap.
Saat aku bangun matahari sudah tinggi.
Sunyi.
Sepi.
Tidak ada kampung.
Tidak ada jejak.
Yogi ditemukan.
Hidup.
Tapi jiwanya…
tidak kembali.
Dia tertawa.
Menangis.
Berbicara sendiri.
Seolah masih melihat mereka.
Siman?
Dia ada di rumah.
Dia bilang
dia tidak ikut.
Dia bilang
kami meninggalkannya.
Aku diam.
Karena aku tahu
yang ikut bersama kami malam itu…
bukan dia.
Dan sampai sekarang…
setiap kali hujan turun deras…
aku selalu mendengar
suara gamelan.
Pelan.
Dari jauh.
Dan kadang…
di kaca spion trukku…
aku melihat seseorang duduk di belakang.
Tanpa kepala.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











