KOLOM ANGKER – Orang bilang hari hanya penanda waktu.
Tapi Jumat Kliwon bukan sekadar hari.
Ia adalah pintu.
Dan malam itu, pintu itu terbuka lebar di desa kami.
JALAN KE SEKOLAH YANG BERAKHIR DI POHON RANDU
Aku masih bocah sekolah saat itu.
Pagi buta. Kabut belum terangkat.
Aku berjalan kaki menuju sekolah, menyusuri jalur sungai—jalur tercepat, sekaligus jalur terkutuk.
Kuburan desa berdiri di sana. Sunyi.
Bambu-bambu berdesis pelan seperti orang berbisik.
Saat itu aku berhenti.
Bukan karena takut
tapi karena ramai.
Orang-orang berdiri berkerumun, menatap ke atas.
Aku menyelinap.
Dan saat mataku mengikuti arah pandang mereka
JANTUNGKU JATUH.
Di pohon randu besar,
seorang pria tua tergantung.
Tubuhnya berayun pelan.
Talinya berderit.
Matanya… terbuka.
Aku mengenalnya.
Pak Badir.
Tanganku ditarik seseorang. Mataku ditutup paksa.
Dan di antara bisikan panik warga, aku mendengar kalimat itu:
“Pantes… Jumat Kliwon…”
MALAM PENJAGAAN YANG SEHARUSNYA TAK PERNAH DILAKUKAN
Warga gempar.
Mayat bunuh diri.
Jumat Kliwon.
Kuburan harus dijaga.
Akhirnya terkumpul tiga nama:
Pak RT, Gogon, dan Ferdi.
Satu lagi… Andi, anak Pak Badir sendiri.
Malam itu udara terasa lain.
Dingin menusuk tulang.
Tak ada suara jangkrik.
Seolah malam menahan napas.
GOGON: ORANG YANG DIAJAK MAYIT BERJALAN
Gogon dijemput Andi lebih dulu.
Tapi sejak awal… ada yang salah.
Langkah Andi tak bersuara.
Wajahnya datar.
Dan di jalan bambu
Andi menghilang.
Gogon panik. Berteriak.
Lalu melihat seseorang jongkok di bawah bambu.
Saat disenter
Pak Badir.
Hidup.
Utuh.
Tersenyum.
Mereka berjalan bersama.
Pak Badir bercerita tentang hidupnya yang hancur.
Tentang hutang.
Tentang anak-anak yang tak peduli.
Lalu Gogon teringat.
Pak Badir…
sudah mati.
Saat senter diarahkan kembali
Tubuh Pak Badir hitam gosong, seperti arang hidup.
Mulutnya menyeringai.
Lehernya miring tak wajar.
Ia menari jaipong.
Dan sambil tertawa, ia berteriak:
“HIYOK!!!”
Gogon lari.
Lari tanpa menoleh.
Tanpa pernah kembali ke makam.
PAK RT: RAWA, SARUNG, DAN SESUATU YANG MENUNGGU
Pak RT datang menyusul lewat rawa.
Tempat orang-orang dibantai.
Tanah lembek.
Kabut tebal.
Dari belakang terdengar suara ramai
lalu hening mendadak.
Di depan jalan, seseorang berdiri.
Bersarung.
Tak bergerak.
Pak RT melewatinya.
Beberapa menit kemudian
di makam
ORANG YANG SAMA BERLUTUT DI SAMPING NISAN.
Pak RT mundur.
Lalu
“Pak RT kok sudah di sini?”
Andi berdiri di belakangnya.
Saat Pak RT menunjuk sosok bersarung itu—
LENYAP.
AIR KENCING, DAN KEYAKINAN BAHWA MEREKA MASIH MANUSIA
Ketegangan memuncak.
Pak RT dicurigai.
Andi dicurigai.
Ferdi menyiram wajah Pak RT dengan air kencing.
Bau pesing memenuhi udara.
Mereka tertawa…
karena yakin—
setan tidak bau pesing.
FERDI: SUNGAI, KEMAMANG, DAN POCO NG YANG MERANGKUL
Ferdi pergi ke sungai.
Pak RT menyusul—
lalu melihat api bangkit dari air.
Kemamang.
Pak RT kabur.
Ferdi sendirian.
Di bawah beringin,
Pak Badir duduk.
Hidup.
Tenang.
Mereka berbincang.
Tentang sakit.
Tentang ingin mati.
Lalu Ferdi ingat.
Pak Badir…
dikuburkan hari ini.
Saat tangan itu merangkul bahunya
BAU DAGING GOSONG.
Ferdi menoleh
POC O NG.
Kafan robek.
Wajah hancur.
Mata kosong.
Ferdi lari.
Menjerit.
Nyaris gila.
ANDI: ANAK YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRI
Ferdi pergi.
Pak RT pergi.
Andi tinggal.
Sendirian di gubuk.
Dari kegelapan terdengar langkah kaki.
Seseorang duduk di sampingnya.
Andi berkata pelan:
“Maafin Andi pak… Andi kangen…”
SETELAH ITU, DESA TAK PERNAH SAMA
Setiap malam lewat tengah malam
pintu rumah warga diketuk.
Tak ada yang berani membuka.
Kadang, sosok Pak Badir terlihat di bawah pohon randu.
Diam.
Menatap.
Ia tidak mengganggu warga.
Hanya orang luar.
Orang yang tidak tahu…
bahwa Jumat Kliwon bukan hari.
Ia adalah
undangan.
Editor : Irfan Ardhiyanto
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











