Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Kolom Angker

MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

badge-check


					Foto ilustrasi (istimewa) Perbesar

Foto ilustrasi (istimewa)

KOLOM ANGKER – Orang bilang hari hanya penanda waktu.

Tapi Jumat Kliwon bukan sekadar hari.

Ia adalah pintu.

Dan malam itu, pintu itu terbuka lebar di desa kami.

JALAN KE SEKOLAH YANG BERAKHIR DI POHON RANDU

Aku masih bocah sekolah saat itu.

Pagi buta. Kabut belum terangkat.

Aku berjalan kaki menuju sekolah, menyusuri jalur sungai—jalur tercepat, sekaligus jalur terkutuk.

Kuburan desa berdiri di sana. Sunyi.

Bambu-bambu berdesis pelan seperti orang berbisik.

Saat itu aku berhenti.

Bukan karena takut

tapi karena ramai.

Orang-orang berdiri berkerumun, menatap ke atas.

Aku menyelinap.

Dan saat mataku mengikuti arah pandang mereka

JANTUNGKU JATUH.

Di pohon randu besar,

seorang pria tua tergantung.

Tubuhnya berayun pelan.

Talinya berderit.

Matanya… terbuka.

Aku mengenalnya.

Pak Badir.

Tanganku ditarik seseorang. Mataku ditutup paksa.

Dan di antara bisikan panik warga, aku mendengar kalimat itu:

“Pantes… Jumat Kliwon…”

MALAM PENJAGAAN YANG SEHARUSNYA TAK PERNAH DILAKUKAN

Warga gempar.

Mayat bunuh diri.

Jumat Kliwon.

Kuburan harus dijaga.

Akhirnya terkumpul tiga nama:

Pak RT, Gogon, dan Ferdi.

Satu lagi… Andi, anak Pak Badir sendiri.

Malam itu udara terasa lain.

Dingin menusuk tulang.

Tak ada suara jangkrik.

Seolah malam menahan napas.

GOGON: ORANG YANG DIAJAK MAYIT BERJALAN

Gogon dijemput Andi lebih dulu.

Tapi sejak awal… ada yang salah.

Langkah Andi tak bersuara.

Wajahnya datar.

Dan di jalan bambu

Andi menghilang.

Gogon panik. Berteriak.

Lalu melihat seseorang jongkok di bawah bambu.

Saat disenter

Pak Badir.

Hidup.

Utuh.

Tersenyum.

Mereka berjalan bersama.

Pak Badir bercerita tentang hidupnya yang hancur.

Tentang hutang.

Tentang anak-anak yang tak peduli.

Lalu Gogon teringat.

Pak Badir…

sudah mati.

Saat senter diarahkan kembali

Tubuh Pak Badir hitam gosong, seperti arang hidup.

Mulutnya menyeringai.

Lehernya miring tak wajar.

Ia menari jaipong.

Dan sambil tertawa, ia berteriak:

“HIYOK!!!”

Gogon lari.

Lari tanpa menoleh.

Tanpa pernah kembali ke makam.

PAK RT: RAWA, SARUNG, DAN SESUATU YANG MENUNGGU

Pak RT datang menyusul lewat rawa.

Tempat orang-orang dibantai.

Tanah lembek.

Kabut tebal.

Dari belakang terdengar suara ramai

lalu hening mendadak.

Di depan jalan, seseorang berdiri.

Bersarung.

Tak bergerak.

Pak RT melewatinya.

Beberapa menit kemudian

di makam

ORANG YANG SAMA BERLUTUT DI SAMPING NISAN.

Pak RT mundur.

Lalu

“Pak RT kok sudah di sini?”

Andi berdiri di belakangnya.

Saat Pak RT menunjuk sosok bersarung itu—

LENYAP.

AIR KENCING, DAN KEYAKINAN BAHWA MEREKA MASIH MANUSIA

Ketegangan memuncak.

Pak RT dicurigai.

Andi dicurigai.

Ferdi menyiram wajah Pak RT dengan air kencing.

Bau pesing memenuhi udara.

Mereka tertawa…

karena yakin—

setan tidak bau pesing.

FERDI: SUNGAI, KEMAMANG, DAN POCO NG YANG MERANGKUL

Ferdi pergi ke sungai.

Pak RT menyusul—

lalu melihat api bangkit dari air.

Kemamang.

Pak RT kabur.

Ferdi sendirian.

Di bawah beringin,

Pak Badir duduk.

Hidup.

Tenang.

Mereka berbincang.

Tentang sakit.

Tentang ingin mati.

Lalu Ferdi ingat.

Pak Badir…

dikuburkan hari ini.

Saat tangan itu merangkul bahunya

BAU DAGING GOSONG.

Ferdi menoleh

POC O NG.

Kafan robek.

Wajah hancur.

Mata kosong.

Ferdi lari.

Menjerit.

Nyaris gila.

ANDI: ANAK YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRI

Ferdi pergi.

Pak RT pergi.

Andi tinggal.

Sendirian di gubuk.

Dari kegelapan terdengar langkah kaki.

Seseorang duduk di sampingnya.

Andi berkata pelan:

“Maafin Andi pak… Andi kangen…”

SETELAH ITU, DESA TAK PERNAH SAMA

Setiap malam lewat tengah malam

pintu rumah warga diketuk.

Tak ada yang berani membuka.

Kadang, sosok Pak Badir terlihat di bawah pohon randu.

Diam.

Menatap.

Ia tidak mengganggu warga.

Hanya orang luar.

Orang yang tidak tahu…

bahwa Jumat Kliwon bukan hari.

Ia adalah

undangan.

Editor : Irfan Ardhiyanto 


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

5 Februari 2026 - 15:55 WIB

Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri

5 Februari 2026 - 15:40 WIB

Larangan Membuka Jendela di Kampung Bambu

29 Januari 2026 - 18:37 WIB

Cerita Horor di Tol Padalarang: Mereka yang Berdiri di Bahu Jalan

29 Januari 2026 - 18:21 WIB

Kisah Horor Rumah Tanpa Bayangan

15 Januari 2026 - 15:39 WIB

Trending di Kolom Angker