KOLOM ANGKER – Senja itu datang terlalu cepat.
Langit seperti disiram abu, matahari menggantung redup di ufuk barat. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon jambu di halaman rumah Indira. Bau tanah lembap dan getah daun bercampur dengan aroma sore yang ganjil terlalu sunyi, terlalu sepi.
Indira duduk di teras bersama Arum. Keduanya bersila, saling memangku, jemari mereka sibuk menyibak rambut mencari kutu. Juan, anak laki-laki Indira yang masih kecil, bermain di dekat mereka. Ia mengumpulkan daun-daun jambu yang gugur, sesekali tertawa kecil.
Semuanya terasa biasa.
Terlalu biasa.
Sampai suara itu terdengar.
NGGROOOOOOOOHHH…
Suara berat. Serak. Dalam. Seperti tenggorokan binatang yang diperas paksa. Erangan panjang yang membuat udara seketika terasa lebih dingin.
Indira membeku.
Arum menghentikan gerakan tangannya.
Suara itu datang dari rumah tetangga depan—rumah berpagar beton tinggi yang selalu tertutup rapat.
Lalu
BRAK!!!
Dinding papan rumah itu bergetar.
BRAK!!! BRAK!!!
Seolah ada kepala besar menghantamnya berulang kali.
Getarannya sampai ke teras. Gelas enamel di meja kecil bergetar, menimbulkan bunyi ting… ting…
Arum menelan ludah.
“Apa itu…?” bisiknya hampir tak terdengar.
Belum sempat Indira menjawab—
NGGROOOOHHHHHHHHH!!!
Erangan itu kini lebih keras. Lebih liar. Lebih dekat.
Angin berhenti bertiup.
Burung-burung di pohon jambu mendadak terbang berhamburan.
Indira merasakan sesuatu yang tak beres. Desas-desus tentang Ifan tetangga mereka yang konon mempelajari ilmu hitam tiba-tiba muncul di benaknya. Ilmu yang disebut orang-orang dengan bisik ketakutan.
Ilmu babi ngepet..
“Juan,” suara Indira bergetar, “coba naik pohon. Lihat ada apa di sana.”
Juan ragu. Tapi bocah itu tetap menurut. Ia memanjat batang jambu, tangannya kecilnya mencengkeram dahan.
Detik terasa panjang.
Sunyi.
Lalu
“MAAAAAAAAAA!!!”
Jeritan Juan memecah udara.
Indira dan Arum nyaris terjatuh dari tempat duduknya.
“Om Ifan aneh! Dia lari-lari! Dia nabrak tembok kayak b4bi! Matanya merah, Ma! Merah banget!”
Arum spontan menutup mulutnya sendiri.
Indira merasakan darahnya seperti ditarik dari wajahnya.
Tiba-tiba
DUARRR!!!
Benturan lebih keras dari sebelumnya. Seolah sesuatu menghantam dinding dengan seluruh tenaga.
Lalu suara gesekan kuku di kayu.
Krek… krek… krek…
Seperti cakar yang menggores papan.
Dan di sela erangan itu… terdengar suara tawa pendek.
Tawa manusia.
Tapi tidak sepenuhnya manusia.
Jeritan Juan terdengar oleh orang-orang yang melintas di jalan.
Tak sampai lima belas menit, warga berdatangan. Wajah-wajah tegang. Tangan-tangan menggenggam kayu, batu, bahkan botol berisi minyak tanah.
Sore berubah menjadi neraka kecil.
“Keluar kau, Ifan!”
“Setan kampung!”
Batu dilemparkan.
PRANG!!!
Kaca pecah.
Di dalam rumah, suara itu makin menjadi-jadi.
NGGROOOHHH!!! NGGROOOHHH!!!
Lalu
THUD! THUD! THUD!
Seperti tubuh besar berlari mengelilingi ruangan.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya.
Gelap pekat.
Lalu sepasang mata menyala di balik bayangan.
Merah.
Basah.
Tak berkedip.
BRAK!
Pintu terbuka penuh.
Ifan keluar.
Tubuhnya gemetar. Bajunya basah oleh keringat. Dadanya naik turun seperti baru berlari jauh.
Tapi yang paling mengerikan adalah matanya.
Merah.
Bukan merah lelah.
Merah seperti pembuluh darah pecah.
“Aku… aku nggak tahu…” suaranya parau. “Tiba-tiba dorongan itu datang… masih sore… belum waktunya…”
Belum waktunya.
Kalimat itu membuat beberapa warga mundur selangkah.
Tiba-tiba tubuh Ifan tertekuk aneh.
Tulang punggungnya melengkung.
Tangannya mencakar tanah.
Dan dari tenggorokannya
NGGGROOOOOOHHHHH!!!
Suara itu keluar begitu keras hingga beberapa anak kecil menangis.
Ayah Ifan berusaha menahannya.
“Pegang dia! Pegang!”
Tapi Ifan memberontak.
Kepalanya menghantam tiang teras.
DUK!
Sekali.
DUK!
Dua kali.
Darah mengucur dari dahinya.
Namun ia tak merasa sakit.
Ia malah tersenyum.
Senyum yang terlalu lebar.
Lalu ia menoleh perlahan ke arah Indira.
Tatapan mereka bertemu.
Dan dalam sepersekian detik
Wajah Ifan seperti berubah.
Moncong gelap.
Lubang hidung melebar.
Taring menyembul di sela bibirnya.
“Indira…”
Suaranya bukan suara Ifan.
Itu berat. Dalam. Basah.
Seperti suara yang keluar dari tenggorokan makhluk lain.
Indira menjerit.
Saat ia berkedip
Wajah itu kembali normal.
Tapi bau amis tiba-tiba memenuhi udara.
Bau kandang.
Bau lumpur.
Bau darah.
Malam itu keluarga Ifan diusir.
Di tengah sorakan dan makian.
Tak ada yang berani menyentuhnya lagi setelah tubuhnya tiba-tiba tenang… terlalu tenang.
Matanya kembali normal.
Tapi ia terus tersenyum.
Senyum tipis.
Seolah tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Rumah itu kosong sejak malam itu.
Kosong.
Namun tidak pernah benar-benar sepi.
Beberapa minggu kemudian, seorang warga yang lewat bersumpah mendengar suara dari dalam pagar beton itu.
Pelan.
Serak.
Dekat dengan telinganya.
“Nggrooooh…”
Ia menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Saat ia hendak melangkah pergi
Sesuatu berlari di balik pagar.
Cepat.
Berat.
Mengitari rumah.
THUD! THUD! THUD!
Dan tepat di belakangnya
“Nggrooooh…”
Persis di tengkuknya.
Ia merasakan napas hangat menyentuh kulitnya.
Saat ia menoleh
Tak ada apa-apa.
Kecuali bayangannya sendiri di tembok.
Dengan dua mata merah menyala.
Sampai hari ini, rumah itu tetap berdiri.
Pagar beton masih menjulang.
Dan setiap senja turun terlalu cepat…
Warga sekitar memilih menutup pintu rapat-rapat.
Karena mereka tahu
Jika erangan itu terdengar lagi…
Mungkin kali ini bukan dari dalam rumah.
Mungkin
Dari belakangmu.
NGGROOOOHHH!!!
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











