Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

News

Warga Keluhkan Trotoar Alun-alun Pandeglang Jadi Area Parkir Polisi

badge-check

Warga keluhkan pos polisi Satlantas Polres Pandeglang di Alun-alun Pandeglang yang dinilai menutup trotoar dan mengganggu hak pejalan kaki hingga terpaksa turun ke badan jalan. Perbesar

Warga keluhkan pos polisi Satlantas Polres Pandeglang di Alun-alun Pandeglang yang dinilai menutup trotoar dan mengganggu hak pejalan kaki hingga terpaksa turun ke badan jalan.

PRABAINSIGHT.COM – BANTEN – Di banyak kota, trotoar itu sering jadi makhluk paling tersakiti. Fungsinya jelas: tempat pejalan kaki melintas dengan aman dan bermartabat. Tapi praktiknya? Kadang berubah jadi lahan parkir, kadang jadi lapak dadakan, dan di Pandeglang ironisnya disebut warga malah kepakai buat aktivitas pos polisi.

Warga mengeluhkan keberadaan pos polisi milik Satlantas Polres Pandeglang di sekitar lampu merah Alun-alun Pandeglang. Masalahnya bukan soal ada polisi berjaga. Masalahnya, menurut warga, posisi dan pemanfaatannya dinilai menutup trotoar yang seharusnya jadi hak pejalan kaki.

Pantauan di lokasi menunjukkan trotoar yang mestinya steril untuk orang jalan kaki justru digunakan sebagai area parkir kendaraan dinas. Akibatnya, warga yang melintas terpaksa turun ke badan jalan. Bukan cuma repot, tapi juga berisiko apalagi di kawasan lampu merah yang arus kendaraannya cukup ramai.

Asep, salah satu warga Pandeglang, menyebut trotoar adalah fasilitas umum yang mestinya tak boleh dialihfungsikan, siapa pun pelakunya.

“Trotoar itu hak pejalan kaki. Kalau tertutup bangunan, orang mau jalan kaki atau olahraga jadi terhambat. Mau tidak mau harus turun ke jalan,” ujar Asep saat ditemui di lokasi, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, kondisi ini bukan kejadian baru. Sudah cukup lama berlangsung tanpa ada penertiban. Ia berharap ada tindakan tegas dari Satpol PP sebagai penegak peraturan daerah.

“Siapa pun yang melanggar, mau itu bangunan liar atau instansi, harusnya ditertibkan. Aturannya kan sama,” tegasnya.

Keluhan ini kembali memantik pertanyaan klasik di ruang publik: kalau trotoar saja tak bisa dijaga fungsinya, lalu di mana lagi pejalan kaki harus merasa aman? Di tengah kampanye kota ramah pejalan kaki dan keselamatan lalu lintas, ironi seperti ini terasa seperti lelucon yang kurang lucu.

Dan seperti biasa, yang paling dulu mengalah adalah warga dengan langkah kaki yang terpaksa turun ke aspal.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Delapan Jam Menunggu Kamar Rawat, Dihujat karena BPJS, Kisah Yurizal Berakhir Pilu

5 Agustus 2026 - 10:48

Trending di News