KOLOM ANGKER – Jakarta tak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin tetap menyala bahkan ketika sebagian besar manusia memilih memejamkan mata.
Tapi ada satu gedung di antara deretan pencakar langit itu…
yang justru bangun saat malam tiba.
Dan yang terjaga di dalamnya bukan hanya manusia.
Shift Malam
Jam delapan malam aku justru berangkat kerja, menembus padatnya arus pulang kantor. Ironis memang. Orang lain pulang, aku masuk.
Basement satu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu neon berkedip sekali.
Krek…
Aku menoleh.
Kosong.
“Yon, jaga pos dulu. Hamdan patroli,” kata Amri.
“Oke, Mas.”
Aku berganti seragam. Sudah hampir setahun bekerja di sini sebagai sekuriti. Gedung ini megah, bersih, profesional. Siang hari terasa normal.
Tapi malam?
Gedung ini seperti punya napas sendiri.
Kadang terdengar suara langkah di lantai kosong.
Kadang lift berhenti di lantai yang tak dipanggil.
Kadang CCTV menangkap bayangan… yang tak tercatat di log akses.
Lantai 15 – Monitor yang Menyala
Jam menunjukkan 22.58.
Radio berbunyi.
“Pos satu, di sini Hamdan.”
“Di sini Yono. Ada apa, Dan?”
“Gw di lantai 15. Coba cek ruangan staf PT Sentosa. Ruang kaca pojok… ada orang nggak?”
Aku membuka tampilan CCTV lantai 15.
Kosong.
Ruang staf gelap.
Ruang kaca GM juga gelap.
“Nggak ada siapa-siapa, Dan.”
Hening beberapa detik.
“Komputernya nyala nggak?”
Aku perbesar layar.
Monitor mati.
“Enggak.”
Napas Hamdan terdengar berat di radio.
“Standby ya. Jangan ke mana-mana.”
Radio terputus.
Beberapa menit kemudian
BRAK!!!
Suara keras terdengar samar dari speaker CCTV. Seperti pintu dibanting.
Aku membeku.
Layar tetap kosong.
Pengakuan Hamdan
Menjelang tengah malam Hamdan kembali ke pos. Wajahnya pucat.
Dia bercerita.
Saat keluar lift di lantai 15, lampu lobby sudah mati. Ruang staf gelap. Tapi di ujung ruang kaca GM monitor komputer menyala.
Cahayanya putih kebiruan.
Hamdan masuk.
Sepi.
Hanya suara langkahnya sendiri.
Tap… tap… tap…
Lalu dari pintu mushala dan ruang meeting
Seorang pria keluar.
Tinggi. Besar. Kemeja putih. Dasi gelap.
Berjalan lurus ke ruang kaca.
Tanpa suara langkah.
Tanpa bayangan di lantai.
Hamdan ingin menyapa.
Tapi sesuatu terasa salah.
Pria itu duduk.
Lalu perlahan menoleh.
Menatap Hamdan.
Matanya kosong.
Hitam.
Bukan hitam normal.
Hitam tanpa pantulan cahaya.
Hamdan menyalakan senter ke arah kakinya.
Dan di situlah
DUARRR!
Pria itu melayang.
Kakinya tak menyentuh lantai.
Hamdan lari.
Menghubungiku.
Tapi itu belum selesai.
Karena saat ia mengintip lagi dari balik pintu
Sosok itu sudah berdiri tepat di depan pintu.
Sangat dekat.
Senyumnya melebar.
Lalu dalam sepersekian detik
WHUUSSS!!!
Ia melayang cepat ke arah kaca pintu.
Hampir menabrak wajah Hamdan.
Kalau saja pintu itu bukan kaca tebal
mungkin wajahnya sudah berhadapan langsung.
Siang Hari yang Lebih Mengerikan
Beberapa bulan sebelumnya, aku sendiri mengalami hal yang jauh lebih buruk.
Hari libur. Siang hari.
Sekitar jam satu.
Iwan memintaku mengecek lantai 15. Katanya tadi pagi ada dua karyawan masuk.
Lift terbuka.
Lobby kosong.
AC mati.
Udara pengap.
Aku masuk ke ruang staf.
Kosong.
Tapi terdengar suara air mengalir.
Dari tempat wudhu.
Aku menutup keran yang terbuka.
Dan saat itulah aku melihat ke mushala.
Dua perempuan bermukena.
Sedang sholat.
Menghadap kiblat.
Tenang.
Aku lapor lewat radio.
“Dua perempuan lagi sholat.”
Radio hening.
Lalu suara Iwan terdengar pelan.
“Yon… yang masuk tadi pagi dua laki-laki. Mereka udah pulang.”
Jantungku berhenti sepersekian detik.
Hendra ikut menyahut di radio.
“Lantai 15 kosong dari jam sebelas.”
Kosong?
Aku menoleh lagi ke mushala.
Mereka masih ada.
Lalu radio berbunyi lagi.
“Yon… CCTV mushala kosong. Nggak ada siapa-siapa.”
Dingin menjalar dari tengkukku.
Kalau CCTV kosong…
Lalu siapa yang sedang sholat?
Aku memberanikan diri melangkah kembali melewati mushala.
Dan saat aku menoleh
Mereka sudah tidak menghadap kiblat.
Mereka menghadap ke arahku.
Wajah pucat.
Mata cekung.
Tersenyum.
Tersenyum terlalu lebar.
“Kamu lihat kami?”
Suara itu terdengar. Padahal bibir mereka tak bergerak.
Aku mundur.
Langkahku tercekat ketika sampai di lorong tangga darurat.
Dua perempuan berdiri membelakangiku.
Diam.
Menatap langit-langit.
Aku ikut melihat ke atas.
Dan
JEDUARRR!!!
Seorang perempuan berambut panjang menempel di plafon.
Tubuhnya terbalik.
Wajahnya menghadap ke bawah.
Rambutnya menjuntai hampir menyentuh wajahku.
Matanya terbuka lebar.
Hitam seluruhnya.
Mulutnya tersenyum.
Terlalu lebar.
Terlalu panjang.
Aku menjerit.
Dan dua perempuan di depanku perlahan menoleh.
Wajah mereka kini retak.
Kulitnya seperti terkelupas.
Senyum mereka melebar hingga hampir ke telinga.
Dalam satu kedipan
Mereka sudah sangat dekat.
Sangat dekat.
Napas mereka terasa di wajahku.
“Ikut kami…”
Aku menerobos di antara mereka dan berlari menuruni tangga darurat.
Saat sampai di lantai bawah—
Radio berbunyi sendiri.
Tanpa ada yang menekan.
“Yon…”
Itu suaraku sendiri.
Tapi aku tidak sedang berbicara.
Sampai Sekarang
Lantai 15 masih digunakan.
Karyawan tetap bekerja seperti biasa.
Siang hari terlihat normal.
Malam hari… terasa berbeda.
Kadang monitor komputer menyala sendiri.
Kadang CCTV memperlihatkan sosok duduk di ruang kaca.
Kadang terdengar suara langkah di lorong mushala.
Dan beberapa sekuriti baru mengundurkan diri setelah shift malam pertama mereka.
Karena mereka semua mengatakan hal yang sama
Saat lift tertutup dan mulai turun…
Di pantulan pintu stainless steel—
Ada seseorang berdiri di belakang mereka.
Tersenyum.
Padahal mereka sendirian.
Dan kalau suatu malam kamu bekerja lembur di kawasan Sudirman–Thamrin…
Lalu melihat monitor menyala di ruangan kosong
Jangan dekati.
Karena mungkin
Yang duduk di depan layar itu…
sedang menunggumu melihatnya.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











