Menu

Mode Gelap
Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 Luncurkan MPL 2026, Bantu Warga dan Dorong UMKM Bocoran Rahasia Mossad: Hacker Pro-Palestina Handala Serang Sistem dan Data Laura Gelinsky Siskaeee Sindir Polisi Lamban Tangkap Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus: “Giliran Bokep Bisa Cepat” Jelang Lebaran, Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik 29 Persen: Mudik Makin Mahal Prabowo Digugat ke PTUN Gara-Gara Teken Perjanjian Dagang RI-AS Tanpa DPR, Publik: Ini Negara atau Startup? Iran Kirim Sinyal Keras ke Ukraina: Jika Bantu Israel Pakai Drone, Bisa Dianggap “Target Sah”

Prabers

Sejarah Jurnalis Pertama di Dunia: Dari Tembok Roma ke Halaman Google News

badge-check


					Sejarah Jurnalis Pertama di Dunia: Dari Tembok Roma ke Halaman Google News Perbesar

PRABA INSIGHT- Kalau kamu kira jurnalisme itu baru muncul sejak ada podcast, Twitter, atau thread X soal “pengalaman mistis kos-kosan Jogja”, kamu salah besar, sobat waras.

Jurnalisme itu sudah eksis sejak sebelum Indonesia merdeka. Bahkan sebelum Belanda tahu caranya membajak rempah.

Faktanya, sejarah mencatat bahwa profesi jurnalis dan media massa sudah ada sejak zaman Romawi Kuno, dengan aktor utama yang mungkin kamu kenal dari pelajaran sejarah: Julius Caesar. Iya, Caesar yang suka perang itu.

Jadi, siapa jurnalis pertama di dunia? Dan apa media pertama yang bisa kita sebut sebagai “koran” dalam artian modern?

🧔 Julius Caesar: Diktator yang Sekaligus Pencetus Jurnalisme.

Jauh sebelum wartawan turun ke jalan untuk liputan demo buruh, Caesar sudah bikin papan informasi publik bernama Acta Diurna sekitar tahun 59 Sebelum Masehi.

Isinya? Mulai dari pengumuman resmi, keputusan hukum, hingga kabar kematian dan pesta nikah.

Bayangkan ini sebagai versi kuno dari kanal “berita penting hari ini” yang ditempel di pusat kota Roma, semacam pengumuman RW tapi dikurasi ala Senat Romawi.

📌 Fun fact: Acta Diurna ini dipajang di tempat umum, biasanya di Forum Romanum. Jadi siapa pun bisa baca. Nggak perlu langganan. Nggak ada paywall.

Walau Caesar mungkin lebih cocok disebut sebagai “komandan pers kerajaan” ketimbang jurnalis, tapi konsep “mengabarkan hal penting ke publik” jelas dimulai darinya. Bahkan UNESCO mencatat ini sebagai salah satu akar awal jurnalisme.

📰 Johann Carolus: Bapak Media Cetak Dunia

Kalau Caesar adalah jurnalis by kekuasaan, maka Johann Carolus adalah jurnalis by profesi.

Dia orang Jerman yang hidup di kota Strasbourg (yang dulu masuk Kekaisaran Romawi Suci, sekarang Prancis), dan pada tahun 1605, ia menerbitkan surat kabar berjudul “Relation aller Fürnemmen und gedenckwürdigen Historien”.

Tenang, kamu nggak harus bisa baca Jerman untuk tahu ini penting.

Surat kabar Carolus ini adalah yang pertama di dunia yang dicetak secara komersial dan terbit berkala, mirip banget dengan model media modern saat ini.

Isinya laporan berita dari berbagai wilayah Eropa, mulai dari politik, militer, hingga peristiwa menarik lainnya.

📚 UNESCO secara resmi mengakui media ini sebagai surat kabar cetak pertama dalam sejarah jurnalistik dunia

Dan ya, Carolus juga tercatat sebagai jurnalis profesional pertama yang hidup dari hasil menjual berita. Bukan dari buzzeran atau endorse skincare.

📈 Dari Media Tembok ke Media Sosial

Seiring waktu, model media berkembang dari kertas, ke radio, ke TV, lalu ke platform digital.

Tapi esensinya tetap sama: mengabarkan sesuatu yang penting, informatif, dan (kadang) bikin heboh.

Dan walau kini jurnalisme dilanda badai disinformasi, buzzer politik, hingga clickbait berlumpur, jejak sejarah tetap mengingatkan bahwa profesi ini lahir dari niat mulia: mencatat peristiwa, menyebarkannya, dan menjaga nalar publik tetap hidup.

Jadi, kalau ada yang bilang jurnalis itu cuma “tukang nulis yang sok tahu”, kasih tahu saja sejarahnya panjang. Bahkan lebih tua dari nasi padang.

🔍 Rangkuman Sejarah Jurnalisme Dunia

  • Tokoh / Media Tahun Kontribusi
  • Julius Caesar 59 SM Membuat Acta Diurna, cikal bakal pengumuman publik
  • Johann Carolus 1605 Menerbitkan koran cetak pertama di dunia
  • Relation (nama medianya) 1605 Media pertama yang diakui UNESCO sebagai surat kabar resmi.

Wartawan Bukan Profesi Musiman

Jurnalisme bukan pekerjaan iseng-iseng berhadiah. Ia lahir dari kebutuhan zaman, bukan dari tren semata.

Dan yang jelas, eksistensinya lebih tua dari semua drama politik lokal yang tayang setiap pemilu.

Jadi, lain kali kalau kamu lihat jurnalis ngejar narasumber sampai parkiran atau motret spanduk dewan yang salah ketik, ingatlah: mereka adalah penerus Caesar dan Carolus cuma beda zaman dan baju dinas.

 

Penulis : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

10 Januari 2026 - 13:43 WIB

Dari Palet Warna sampai Janji Suci, Hari Kedua BRI The BFF Festival 2025 Bikin Senayan Riuh

17 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Trending di Prabers