PRABA INSIGHT- Biasanya, kalau ada suara dari speaker di GBK, isinya entah pengumuman lari 5K, peringatan jaga kebersihan, atau lagu-lagu EDM ringan biar semangat jogging. Tapi sore itu, warga yang lagi olahraga di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) malah dapet bonus suara yang… uhuk… bukan buat semua umur.
Betul, saudara-saudara. Speaker GBK tiba-tiba mutar suara tak senonoh. Dan bukan, ini bukan bagian dari kampanye edukasi kesehatan reproduksi, tapi suara yang bikin telinga mendidih dan orang tua buru-buru tutupin kuping anaknya.
Video kejadian ini langsung viral di media sosial. Warga yang awalnya niat sehat malah berubah jadi saksi hidup dari salah satu insiden paling absurd di dunia tata suara publik. Jangankan fokus jogging, lari pun jadi kikuk karena suasana tiba-tiba berasa seperti adegan pembuka film dewasa.
GBK: Kami Khilaf, Kami Salah, Kami Minta Maaf
Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) pun tak tinggal diam. Mereka langsung mengeluarkan pernyataan resmi: minta maaf sebesar-besarnya.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas insiden pemutaran konten audio tidak pantas yang sempat terdengar melalui pengeras suara di kawasan publik GBK,” tulis mereka dalam keterangan resmi, Minggu (13/7/2025).
Kepala Divisi Humas, Hukum, dan Administrasi GBK, Asep Triyadi, menjelaskan bahwa ini murni kesalahan teknis. Katanya, petugas yang mengurus playlist pakai platform musik berbayar bebas hak cipta, tapi lalai melakukan pengecekan. Hasilnya? Playlist habis, sistem auto-play jalan, dan… ya gitu deh.
“Aplikasi secara acak memutar audio yang tidak layak untuk diputar di ruang publik,” jelas Asep. Gagal fokus? Ya petugasnya juga, tampaknya.
Langkah Darurat: Dari Evaluasi hingga Penyaringan Audio Dewasa
Setelah insiden yang bikin malu stadion se-Indonesia itu, PPKGBK langsung ambil tiga langkah darurat:
1. Teguran keras kepada petugas playlist. Kita doakan petugasnya tetap kuat menghadapi grup WhatsApp keluarga.
2. Kurasi ulang seluruh audio. Kini yang boleh diputar hanya playlist resmi GBK. Tidak ada lagi “bonus track” dari dunia entah-berantah.
3. Pembatasan akses pemutaran audio. Mulai sekarang, cuma petugas terlatih yang boleh nyetel suara, dan semuanya harus pakai media offline. Jadi, kalau ada suara aneh lagi, berarti hantu—bukan Spotify.
Asep menegaskan bahwa GBK bukan tempat sembarangan. Ini ruang publik yang dihormati, digunakan semua kalangan, termasuk anak-anak dan kakek-nenek yang cuma pengin duduk-duduk santai.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan berkomitmen memperkuat pengawasan serta kualitas pelayanan,” tegas Asep.
GBK: Bukan Tempat Karaoke Nakal
PPKGBK menyatakan akan terus menjunjung tinggi standar etika dan profesionalisme. Mereka berjanji akan menjaga GBK tetap menjadi tempat yang ramah, bersih, dan PG-13.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan masyarakat dan akan terus menjaga GBK sebagai ruang publik yang aman dan nyaman bagi semua,” kata Asep, kali ini tanpa suara latar aneh-aneh.
Penulis : Deny Darmono | Editor : Ivan