Menu

Mode Gelap
Dari Surat Forum Travel sampai Fee Percepatan, Begini Kronologi Kasus Haji yang Menjerat Eks Menag Yaqut Setelah Lama Ribut Soal Ijazah, Rismon Sianipar Akhirnya Datangi Rumah Jokowi di Solo Samsung Galaxy S26 Ultra Punya Kamera 200MP Lebih Terang, Hasil Uji DxOMark: iPhone 17 Pro Masih Unggul Penuh Makna, Video Musik “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” dari Sal Priadi Tampilkan Pergulatan Batin Seorang Ayah Grand Opening Watch Club Puri Indah Mall: Diskon, Undian Jam Tangan, dan Koleksi Premium Peneliti Temukan Hacker Iran Sudah Menyusup ke Sistem Bank, Perusahaan, dan Bandara AS

News

Ahmad Yani: Anak Emas Sukarno yang Justru Jadi Target PKI

badge-check


					Kisah Ahmad Yani, jenderal muda kesayangan Sukarno yang tegas menolak PKI, gugur tragis pada malam G30S, kini dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.(Foto: Istimewa) Perbesar

Kisah Ahmad Yani, jenderal muda kesayangan Sukarno yang tegas menolak PKI, gugur tragis pada malam G30S, kini dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT – Kalau ada jenderal muda yang punya “paket lengkap” tegas, disiplin, rapi, dan dicintai Presiden Sukarno nama itu adalah Ahmad Yani. Lahir di Purworejo tahun 1922, Yani tumbuh sebagai sosok yang tekun dan visioner. Perjalanan hidupnya menuntunnya ke dunia militer, dari masa pendudukan Jepang hingga berdiri tegak bersama Tentara Republik Indonesia.

Dari Medan Perang ke Istana

Nama Yani melambung ketika berhasil meredam pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dan PRRI di Sumatera. Strateginya yang jitu membuat Presiden Sukarno meliriknya. Bung Karno melihat aura berbeda dalam diri Yani: modern, sopan, tapi tetap disiplin ala militer sejati.

Tak heran, pada 1962 Sukarno mengangkatnya sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, menggantikan Jenderal Nasution. Sejak itu, bayangan Bung Karno hampir selalu ditemani sosok Yani. Saking dekatnya, orang-orang menjulukinya “anak emas Sukarno.” Bahkan Bung Karno pernah bilang pada Nasution, kalau suatu hari kesehatan tak lagi memungkinkan, Ahmad Yani-lah yang seharusnya jadi penerusnya.

Setia ke Presiden, Tegas ke PKI

Meski dekat dengan Bung Karno, Yani bukan tipe pengikut buta. Ia menolak gagasan PKI soal “Angkatan Kelima”—buruh dan tani bersenjata—karena dianggap mengancam netralitas militer. Sikapnya itu bikin PKI gerah. Buat mereka, Yani adalah penghalang utama ambisi politik.

Malam 30 September: Dari Jemputan Jadi Eksekusi

Malam 30 September 1965, suasana Jakarta tenang. Di rumah dinasnya di Jalan Latuharhary, Yani tengah beristirahat. Lalu pasukan Cakrabirawa datang, mengaku hendak menjemputnya untuk bertemu Bung Karno.

Yani, yang sudah biasa dekat dengan Presiden, tak menaruh curiga. Begitu keluar, peluru menembus tubuhnya. Ia tewas seketika di hadapan keluarga. Jenazahnya lalu dibawa ke Lubang Buaya, bergabung dengan para jenderal lain yang gugur.

Bung Karno Menangis

Kabar kematiannya mengguncang republik. Yani, jenderal muda yang digadang-gadang sebagai calon besar pengganti Sukarno, justru jatuh secara tragis. Saat menziarahi makam Yani, Bung Karno tak kuasa menahan air mata. Momen itu jadi salah satu peristiwa langka: Presiden yang biasanya gagah, menangis di depan publik.

Warisan Sang Pahlawan

Kini, Ahmad Yani dikenang sebagai Pahlawan Revolusi. Kisahnya adalah ironi sejarah: kedekatan dengan Sukarno tidak menyelamatkan nyawanya. Justru karena ia terlalu berpengaruh, terlalu dekat dengan Presiden, dan terlalu berbahaya bagi PKI, Yani jadi target utama.

Warisan yang ditinggalkan Yani bukan sekadar pangkat atau jabatan, melainkan teladan seorang prajurit: profesional, sederhana, dan teguh menjaga kehormatan Angkatan Darat serta bangsa Indonesia.

 

Penulis : Ristanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Surat Forum Travel sampai Fee Percepatan, Begini Kronologi Kasus Haji yang Menjerat Eks Menag Yaqut

12 Maret 2026 - 14:36 WIB

Setelah Lama Ribut Soal Ijazah, Rismon Sianipar Akhirnya Datangi Rumah Jokowi di Solo

12 Maret 2026 - 11:29 WIB

Peneliti Temukan Hacker Iran Sudah Menyusup ke Sistem Bank, Perusahaan, dan Bandara AS

11 Maret 2026 - 11:09 WIB

Terungkap! Inilah Pembunuh Ermanto, Pensiunan Karyawan JICT yang Tewas di Bekasi

11 Maret 2026 - 10:09 WIB

BGN Hentikan Sementara 1.512 SPPG Program MBG, Terkendala Sertifikat Sanitasi hingga IPAL

11 Maret 2026 - 03:18 WIB

Trending di News