PRABA INSIGHT – JAKARTA – Jumat siang yang seharusnya tenang di SMAN 72 Jakarta mendadak berubah jadi kepanikan. Suara ledakan memecah khotbah Jumat di masjid sekolah yang berlokasi di kompleks Kodamar, Kelapa Gading. Beberapa detik kemudian, suara ledakan kedua menyusul membuat orang-orang berlarian keluar dengan dada berdebar.
Beberapa hari setelahnya, Polda Metro Jaya akhirnya menemukan sosok di balik peristiwa ini. Bukan teroris, bukan geng kriminal, melainkan seorang anak sekolah. Polisi menyebutnya sebagai Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) istilah resmi untuk anak yang diduga terlibat tindak pidana.
“Berdasarkan keterangan saksi, terdapat dugaan ada perbuatan melawan hukum yang patut diduga melanggar norma hukum,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, dalam konferensi pers, Selasa (11/11/2025).
Namun, di balik istilah hukum yang kaku itu, ada cerita yang lebih manusiawi. Polisi menemukan bahwa tindakan pelaku ini diduga berawal dari dorongan emosional sebuah rasa kesepian dan keterasingan yang menumpuk dalam kesehariannya.
“Yang bersangkutan merasa sendiri, merasa tidak ada tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik di keluarga, tempat tinggal, maupun sekolah. Ini jadi perhatian juga untuk menyikapi hal tersebut,” ujar Iman.
Singkatnya, anak ini tidak sedang ingin membuat keributan, tapi sedang mencoba berteriak lewat cara yang salah. Dan sayangnya, suara itu baru terdengar setelah semuanya terlambat.
Luka yang Tak Hanya Fisik
Ledakan itu membuat 96 orang jadi korban, sebagian besar siswa. Berdasarkan data Posko Pelayanan Polri di RS Islam Cempaka Putih, hingga Senin (10/11/2025) pagi, 67 orang sudah diperbolehkan pulang, sementara 29 lainnya masih dirawat di tiga rumah sakit di Jakarta Pusat.
- RS Islam Cempaka Putih: 43 pasien (14 dirawat, 29 pulang)
- RS Yarsi: 15 pasien (14 dirawat, 1 pulang)
- RS Pertamina Jaya: 7 pasien (6 dirawat, 1 intensif)
Angka-angka ini memang terdengar statistik, tapi di balik setiap angka ada kisah: ada orang tua yang panik, guru yang menangis, dan teman sekelas yang mungkin masih belum percaya bahwa pelakunya adalah orang yang mereka kenal.
Catatan yang Harus Didengar
Polisi menyebut temuan ini jadi alarm penting: anak muda hari ini bukan hanya butuh pelajaran eksak, tapi juga ruang aman untuk bercerita.
“Setiap rupiah uang rakyat, termasuk dana pendidikan, harus tepat sasaran,” ujar Iman, menekankan pentingnya sinergi semua pihak dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan suportif.
Kasus ini bukan cuma soal hukum, tapi soal kemanusiaan. Tentang bagaimana satu anak bisa merasa begitu sendiri di tengah ribuan orang, dan bagaimana dunia orang dewasa sering kali lupa mendengar sebelum semuanya terlambat.(Van)










