KOLOM ANGKER – Di sebuah desa tua di Jawa Tengah, berdiri sebuah rumah kayu besar yang sudah lama dibiarkan renta oleh waktu. Dulu, rumah itu adalah pusat hiruk-pikuk: suara gamelan, tabuhan kendang, dan lantunan suluk Mbah Wiryo seorang dalang yang namanya bahkan disebut dengan bisik-bisik hormat. Setelah Mbah Wiryo meninggal, rumah itu berubah drastis.
Suasana ramai lenyap. Berganti dengan keheningan lengket yang membuat bulu kuduk berdiri.
Warga desa sepakat: rumah itu didiami sesuatu yang tidak lagi manusia.
Pulangnya Ardi dan Aroma Dupa dari Tempat yang Harusnya Mati
Beberapa tahun kemudian, cucunya, Ardi, pulang. Ia datang bukan karena rindu, tetapi karena warisan yang harus dibereskan.
Saat Ardi membuka pintu rumah untuk pertama kalinya, udara dingin menyerbu keluar bersama aroma dupa yang… segar. Segar seolah baru dinyalakan, padahal seluruh jendela sudah tertutup debu tebal.
Di ruang tengah, ia menemukan kotak besar berisi wayang kulit peninggalan sang kakek. Deretan wajah berlakon menatapnya: ksatria, punakawan, raksasa, hingga satu tokoh yang membuat jantung Ardi jatuh ke perutnya wayang berwajah mengerikan dengan mata merah dan taring panjang.
Wayang itu tidak seperti tokoh biasa.
Ia seperti menatap balik.
Malam Pertama Gamelan dari Ruang yang Mati
Ardi memutuskan tinggal beberapa hari. Namun malam pertama saja sudah menjadi peringatan.
Saat mencatat barang, terdengar suara gamelan dari arah pendopo pelan, bergetar, seperti dimainkan tangan tak terlihat.
Ardi mendekat. Langkahnya terasa seperti dipaksa ke sana.
Begitu tiba, suara itu berhenti.
Namun yang membuat darahnya membeku adalah satu wayang yang kini tergantung di tengah pendopo: Werkudara.
Padahal jam sebelumnya, semua wayang masih berada di dalam kotak.
Malam Kedua Lakon di Balik Kelambu
Ardi terbangun oleh suara dalang: lantang, berirama, seperti seseorang sedang memainkan lakon. Suara itu datang dari ruang tengah.
Ketika ia mengintip dari balik pintu, ia melihat bayangan tangan bergerak di balik kelambu wayang.
Naik.
Turun.
Memukul-mukul kayon.
Seperti ada seseorang berada di dalam kelambu itu.
Namun ketika lampu dinyalakan
tidak ada siapa-siapa.
Kelambu kosong. Panggung tidak tersentuh.
Tetapi Ardi yakin: seseorang atau sesuatu tadi ada di sana.
Sepanjang malam, suara bisikan memanggil namanya:
“Ardiii…”
Begitu dekat. Hingga ia tidak berani memejamkan mata.
Peringatan dari Pak Gimin
Esok paginya, Pak Gimin datang. Suaranya bergetar saat berkata:
“Wayang-wayang itu punya ‘jiwa’, Di. Mbah-mu dulu melakukan ritual khusus. Ada lakon-lakon yang tidak boleh dibuka… apalagi dimainkan.”
Ardi merinding, tapi masih mencoba menertawakan ketakutannya.
Ia tak tahu bahwa malam itu akan mengubahnya selamanya.
Malam Ketiga Wayang yang Bangun
Lampu mati tiba-tiba. Kegelapan menelan seluruh rumah.
Di tengah gulita, Ardi mendengar langkah kaki berat di ruang tengah.
Terlalu berat untuk manusia.
Terlalu lambat untuk makhluk hidup.
Kemudian:
Tok-tok-tok.
Seperti kayon dipukul.
Lalu tawa kecil. Tawa punakawan nyaring dan tidak wajar.
Mendekat.
Semakin dekat.
Dengan gemetar, Ardi menyalakan senter ponselnya.
Saat cahaya menyorot panggung…
Ia terpaku.
Jantungnya serasa ditarik ke luar tubuh.
SEMUA WAYANG telah berdiri rapi, menghadap ke arahnya.
Seolah menyambut kedatangannya.
Tapi yang paling membuatnya hampir muntah ketakutan:
Wayang bertaring menghilang.
Tokoh itu entah di mana.
Ketukan Pintu Pukul 3 Pagi
Hujan deras memaksa Ardi bertahan.
Suara gamelan kembali terdengar, makin lama makin kencang seperti seluruh pasukan karawitan bermain di dalam rumah.
Bayangan wayang menari panjang di dinding, padahal tidak ada sumber cahaya.
Tepat pukul 3 pagi
tok… tok… tok…
Seseorang mengetuk pintu. Ritmis, seperti aba-aba sebelum pentas.
Ardi membeku.
Pintu bergetar.
Seperti didorong sesuatu dari luar sesuatu yang bukan manusia.
Pagi Dan Wayang yang Berjalan Sendiri
Saat cahaya matahari muncul, Ardi hendak kabur. Namun kotak wayang kini terbuka. Wayang bertaring berdiri tegak di atas meja menatap ke jendela.
Ketika Ardi melihat pantulan kaca jendela…
Ada wajah lain berdiri tepat di belakangnya.
Mata cekung.
Kulit keriput.
Tersenyum pucat.
Wajah Mbah Wiryo.
Ardi menoleh tidak ada siapa-siapa.
Namun udara tiba-tiba membeku.
Aroma dupa berubah menjadi bau tanah basah.
Wayang itu… bergerak sedikit.
Terlalu nyata untuk dibilang angin.
Jejak Kaki Wayang
Di halaman, Ardi melihat jejak kecil-kecil bukan manusia bergerak menuju kolong rumah.
Ketika ia mengarahkan senter ke bawah:
SESUATU BERLARI CEPAT, SEPERTI WAYANG HIDUP.
Ardi menjerit.
Kembali Bersama Pak Gimin Lakon Dimulai Sendiri
Mereka kembali ke rumah untuk menutup kotak wayang. Namun begitu masuk:
Panggung wayang sudah siap.
Lampu minyak menyala sendiri.
Wayang bertaring berdiri di tengah panggung posisi utama seorang tokoh yang hendak dipentaskan.
Pak Gimin membaca doa keras. Tapi suara gamelan juga ikut meninggi, seolah melawan.
Wayang-wayang lain mulai bergoyang.
Bukan seperti digerakkan tangan manusia,
melainkan seperti ada nafas di bawah panggung.
Ardi berlari, namun sebelum keluar
Suara berat terdengar dari balik panggung:
“Lakon belum selesai, Nak…”
Ia mengenali suara itu.
Suara kakeknya.
Ardi Tak Pernah Kembali
Setelah kabur, Ardi tidak pernah kembali.
Rumah itu dibiarkan kosong.
Warga desa melarang siapa pun mendekat.
Beberapa yang nekat mengaku mendengar gamelan dari dalam.
Ada yang melihat bayangan wayang bergerak sendiri.
Namun yang paling menyeramkan adalah kesaksian seorang pemuda:
Ia melihat sosok lelaki tua duduk sendirian di pendopo, memainkan wayang bertaring dalam gelap.
Hanya ditemani cahaya bulan.
Tanpa gamelan.
Tanpa suara.
Hanya tatapan mata merah wayang yang menyala.
Saat pemuda itu berkedip, sosok itu hilang.
Panggung kosong.
Wayang-wayang tergantung diam.
Diam… atau pura-pura diam.
Sampai hari ini, tidak seorang pun tahu apakah wayang bertaring itu sudah tidur kembali—atau masih menunggu seseorang menyelesaikan lakon terlarang itu.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











