Menu

Otomatis
Breaking News

News

Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional

badge-check

Pendiri Haidar Alwi Institute R. Haidar Alwi saat memberikan keterangan kepada awak media saat Rakernas perdana Haidar Alwi Institute di Jakarta, Senin (9/2/2026). Perbesar

Pendiri Haidar Alwi Institute R. Haidar Alwi saat memberikan keterangan kepada awak media saat Rakernas perdana Haidar Alwi Institute di Jakarta, Senin (9/2/2026).

PRABAINSIGHT- JAKARTA – Jika politik adalah soal membaca zaman, maka Haidar Alwi Institute memilih membacanya lewat satu forum resmi bernama Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Bertempat di sebuah hotel di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026), organisasi ini menggelar Rakernas perdana dengan agenda yang terdengar akrab: konsolidasi, refleksi, dan tentu saja, dukungan.

Pendiri Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, membuka Rakernas dengan narasi besar tentang perubahan zaman. Dunia bergerak cepat, geopolitik memanas, dan Indonesia seperti biasa perlu tetap tenang sambil memastikan semua pihak berada di barisan yang sama.

“Ini Rakernas pertama kami. Banyak perkembangan akhir-akhir ini,” ujar Haidar, sebuah kalimat yang jika diterjemahkan bebas, berarti: ada banyak hal yang perlu disikapi secara serius, dan tidak bisa hanya diselesaikan lewat grup WhatsApp.

Rakernas ini, menurut Haidar, bukan sekadar agenda organisasi. Forum tersebut juga menjadi medium untuk menegaskan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, lengkap dengan rujukan ke Asta Cita konsep yang belakangan cukup sering disebut, meski tafsirnya bisa berbeda-beda tergantung siapa yang memegang mikrofon.

Dalam Rakernas ini, ada tiga hal penting yang dikonsolidasikan. Salah satunya, tentu saja, penegasan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan lebih dari satu tahun. Dukungan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk yang cukup klasik dalam dunia organisasi: piagam penghargaan.

Presiden Prabowo Subianto mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Modern. Sebuah gelar yang terdengar serius dan penuh optimisme, seolah ingin mengatakan bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal, tapi juga soal narasi.

Tak berhenti di situ, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga menerima penghargaan. Haidar menyebut Kapolri sebagai sosok yang dicintai rakyat, dengan sejumlah poin penilaian yang telah dirumuskan. Detail poinnya tidak dijabarkan, tapi publik bisa menebak bahwa stabilitas keamanan menjadi salah satu kata kunci.

Penghargaan berikutnya diberikan kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Dalam versi Rakernas ini, Dasco diposisikan sebagai figur jembatan penghubung antara rakyat, DPR, dan pemerintah. Sebuah peran yang terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya sering kali lebih rumit dari sekadar rapat dengar pendapat.

“Begitu ada masalah, beliau turun dan aktif,” kata Haidar, menegaskan bahwa kehadiran langsung masih menjadi mata uang politik yang paling mudah dikenali publik.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute sekaligus Ketua Panitia Rakernas, Sandri Rumanama, memilih bicara soal angka dan stabilitas. Sekitar 2.000 peserta mengikuti Rakernas ini, baik secara langsung maupun daring. Dari berbagai penjuru Indonesia, mereka disatukan oleh satu gagasan besar: negara yang besar butuh keamanan yang stabil.

Menurut Sandri, Asta Cita tidak akan berjalan jika keamanan dan ketertiban masyarakat goyah. Pernyataan yang terdengar normatif, tapi selalu relevan di negara yang sering ribut bahkan sebelum sarapan.

Ia juga menyinggung pentingnya pemahaman geopolitik global. Sebab, di tengah dunia yang semakin tidak pasti, persatuan nasional masih menjadi resep paling masuk akal meski sering diucapkan dengan nada yang sama dari tahun ke tahun.

Pada akhirnya, Rakernas Haidar Alwi Institute menegaskan satu hal: dukungan politik hari ini tidak lagi cukup hanya dengan pernyataan sikap. Ia perlu dikemas dalam forum, diberi panggung, disertai penghargaan, dan tentu saja, dikonsolidasikan. Selebihnya, publik tinggal menunggu: apakah semua piagam itu akan berumur panjang, atau sekadar cantik dipajang di dinding kantor.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang Aksi 27 Agustus, Ojol Merah Putih Serukan Persatuan dan Tolak Provokasi

24 Agu 2026 - 11:37 WIB

Jelang Aksi 27 Agustus, Ojol Merah Putih Serukan Persatuan dan Tolak Provokasi

Doa Terakhir Risma Sebelum Gempa NTT: ‘Semoga Kampung Kami Tidak Seperti Aceh

23 Agu 2026 - 19:02 WIB

Doa Terakhir Risma Sebelum Gempa NTT: ‘Semoga Kampung Kami Tidak Seperti Aceh

Bencana Kebakaran 72 Ribu Hektare, Haji Isam Disebut Jadi ‘Komandan’? Ini kata Istana

23 Agu 2026 - 18:45 WIB

Bencana Kebakaran 72 Ribu Hektare, Haji Isam Disebut Jadi ‘Komandan’? Ini kata Istana

Pensiun Jadi Kapolri, Listyo Sigit Malah Siap Pimpin Demo Jika Desk Buruh Mandek

23 Agu 2026 - 18:32 WIB

Pensiun Jadi Kapolri, Listyo Sigit Malah Siap Pimpin Demo Jika Desk Buruh Mandek

PN Cikarang Tolak Penangguhan Tahanan Nyumarno dkk di Kasus Pengeroyokan

20 Agu 2026 - 20:48 WIB

PN Cikarang Tolak Penangguhan Tahanan Nyumarno dkk di Kasus Pengeroyokan
Trending di News