Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Regional

Usai Bantuan Pemprov Dihentikan, Operasional Masjid Agung Bandung Bergantung pada Donasi

badge-check

Pengelola Masjid Agung Bandung mengandalkan donasi jemaah usai dukungan dana Pemprov dihentikan. Kebutuhan operasional masjid capai Rp200 juta per bulan. Perbesar

Pengelola Masjid Agung Bandung mengandalkan donasi jemaah usai dukungan dana Pemprov dihentikan. Kebutuhan operasional masjid capai Rp200 juta per bulan.

PRABAINSIGHT.COM – Bandung –Masjid Agung Bandung kembali dihadapkan pada kenyataan yang tak selalu khusyuk: urusan operasional yang butuh duit, sementara sokongan dari pemerintah provinsi sudah dicabut. Dalam situasi itu, Ketua Nadzir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, memilih jalan yang paling klasik sekaligus paling jujur mengajak umat turun tangan langsung.

Bagi Roedy, masjid bukan sekadar bangunan megah untuk difoto atau singgah sebentar selepas salat Jumat. Ia adalah warisan sejarah yang hidup, bernapas, dan tentu saja butuh biaya agar tetap berdiri dengan layak. Setiap bulan, pengelola Masjid Agung Bandung harus memutar otak untuk menutup kebutuhan operasional sekitar Rp200 juta.

Uang sebanyak itu bukan untuk hal muluk-muluk. Isinya cukup membumi: merawat bangunan yang tak lagi muda, membayar gaji lebih dari 20 pegawai, serta menutup tagihan listrik dan air yang, seperti biasa, tak pernah mau libur.

“Ini bangunan warisan yang harus diketahui kondisinya oleh publik dan seluruh pemangku kepentingan. Mau tidak mau, jemaah kami dorong untuk bersedekah karena kebutuhan operasional seperti listrik dan air tetap harus dibayar,” kata Roedy, tanpa basa-basi.

Sejak Januari, pengelola masjid praktis hidup dari semangat gotong royong. Tak ada lagi dana rutin dari pemerintah daerah. Yang tersisa hanyalah kencleng, donasi jamaah, serta kerja sama dengan pihak luar yang masih punya kepedulian pada keberlangsungan masjid bersejarah ini.

“Mulai Januari ini kami hanya mengandalkan kencleng, donasi, dan kerja sama dengan pihak luar yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan masjid,” ujar Roedy menegaskan.

Di tengah gemerlap wacana pembangunan dan proyek besar, Masjid Agung Bandung kini berdiri dengan pesan sederhana: merawat warisan tak cukup dengan nostalgia. Ia butuh kepedulian nyata, bahkan dari recehan yang dimasukkan ke kencleng, agar tetap bisa menjadi rumah ibadah bukan sekadar monumen masa lalu.


Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28

25 Juli 2026 - 00:52

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Benteng Keluarga dan Raperda LGBTQ Kota Bekasi ala Chairun Nisa

11 Juli 2026 - 12:09

Kabar Baik: Lulusan BLK Indramayu Siap Gaspol Garap Daihatsu Langsung di Jepang!

2 Juli 2026 - 19:16

Trending di News