Menu

Mode Gelap
GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

Regional

Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

badge-check

Kisah polisi gadungan yang berhasil menyusup ke Mako Brimob selama sebulan, ikut latihan, tinggal di barak, hingga akhirnya terbongkar gara-gara minta rokok. Perbesar

Kisah polisi gadungan yang berhasil menyusup ke Mako Brimob selama sebulan, ikut latihan, tinggal di barak, hingga akhirnya terbongkar gara-gara minta rokok.

PRABAINSIGHT.COM – Kalau ini film, mungkin judulnya Catch Me If You Can: Versi Barak. Tapi ini bukan layar lebar. Ini kejadian nyata, lengkap dengan seragam, barak, dan senjata laras panjang.

Seorang warga sipil bernama Indra Hikmal Adam (23) sukses menjalani hidup sebagai anggota Brimob palsu tapi meyakinkan selama satu bulan penuh di Batalyon B Resimen III Pelopor Mako Korbrimob. Ia tinggal di barak, ikut latihan, bahkan tidur sebantal dengan anggota Brimob asli. Semua tampak berjalan normal. Terlalu normal, malah.

Kisah ini kemudian viral di media sosial. Bukan karena aksi heroik, tapi karena satu pertanyaan sederhana yang bikin banyak orang mengernyit: kok bisa?

Menyusup Tanpa Banyak Tanya

Indra, atau yang kemudian dikenal dengan inisial IHA, masuk ke lingkungan Mako Korbrimob dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan atribut kepolisian lengkap dan berperilaku seperti anggota Brimob remaja pada umumnya. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya terlalu jauh.

Bahkan, dalam sejumlah foto yang beredar, IHA terlihat berpose bersama anggota Brimob lain sambil memegang senjata laras panjang. Senjata itu, kata informasi yang beredar, dipinjam dari anggota Brimob asli. Dipinjam. Begitu saja.

Selama sebulan, IHA ikut latihan fisik, berbaur, dan menjalani rutinitas barak tanpa status resmi. Sebuah pencapaian yang, kalau dipikir-pikir, lebih cocok masuk CV ketimbang berita kriminal.

Terbongkar Gara-Gara Rokok

Penyamaran rapi itu akhirnya runtuh bukan karena teknologi canggih atau audit ketat, melainkan karena minta rokok.

Pada Rabu, 23 November 2023, pukul 15.59 WIT, seorang anggota Brimob bernama Brigadir Heri Kusmawan merasa ada yang janggal saat IHA meminta rokok di Barak Remaja. Wajahnya terasa asing. Getarannya beda.

Kecurigaan itu kemudian dikoordinasikan dengan Provos. Tak lama, penyamaran IHA resmi tamat.

IHA diamankan dan dibawa ke Ruang Provos Pas Pelopor, lalu menjalani interogasi oleh AKP Wirudo bersama Paminal Mako Korbrimob.

Bukan Anggota, Tapi Bukan Baru

Dari hasil pemeriksaan, diketahui IHA lahir di Ternate, 15 April 2001, beralamat di Kelurahan Fitu, Kota Ternate Selatan. Statusnya jelas: warga sipil.

Yang bikin alis makin naik, menurut sumber internal, IHA pernah ditangkap dalam kasus serupa. Artinya, ini bukan eksperimen pertama. Lebih mirip ulangan dengan level yang lebih nekat.

Dalam penanganan kasus ini, Brimob menyita 38 barang bukti, mulai dari atribut kepolisian, alat komunikasi, dokumen identitas, hingga barang pribadi lainnya.

Latihan Bareng, Status Bohongan

Selama berada di Mako, IHA ikut latihan bareng anggota Brimob remaja di Batalyon B Resimen III Pelopor. Ia menjalani semuanya seolah-olah memang bagian dari institusi tersebut.

Baru setelah seorang senior menaruh curiga, kepingan cerita mulai terangkai. Dan benar saja, di balik seragam itu tak ada NRP. Tak ada penugasan. Tak ada surat apa pun.

Kini, IHA masih menjalani pemeriksaan oleh Provos Brimob.

Publik Bertanya, Institusi Dievaluasi

Kasus ini tentu mengundang tanya publik. Bukan soal keberanian IHA semata, tapi tentang keamanan dan pengawasan di salah satu markas pasukan elite kepolisian.

Bagaimana mungkin seorang warga sipil bisa menyusup, tinggal, berlatih, bahkan memegang senjata selama sebulan tanpa terdeteksi?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tak sesederhana cerita ini. Tapi satu hal pasti: kadang, kebobolan besar datang bukan dari serangan frontal, melainkan dari wajah yang terlalu akrab untuk dicurigai.

Dan dari satu batang rokok yang diminta di sore hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Deni Muhammad Ali Ditunjuk Jadi Ketua Panitia Muaythai Porprov Jabar 2026

3 Agustus 2026 - 21:40

Perumda Tirta Bhagasasi Kena ‘Stroke Berat’, Utang Naik Laba Anjlok

3 Agustus 2026 - 14:52

Trending di News