Menu

Mode Gelap
“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

News

In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6

badge-check


					Try Sutrisno ketika menjadi ajudan Presiden Soeharto. (soeharto.co). Perbesar

Try Sutrisno ketika menjadi ajudan Presiden Soeharto. (soeharto.co).

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Indonesia berduka. Wakil Presiden RI ke-6, Try Sutrisno, meninggal dunia pada 2 Maret 2026 di Jakarta Pusat dalam usia 90 tahun. Purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat itu dikenal sebagai salah satu figur militer paling berpengaruh pada era Orde Baru, sebelum menjabat Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto periode 1993–1998.

Jenazah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta.

Dari Kurir Perang hingga Pucuk Pimpinan ABRI

Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try tumbuh dalam suasana revolusi. Di usia belasan tahun, ia sempat menjadi kurir bagi satuan militer saat agresi militer Belanda. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) dan lulus pada 1959.

Karier militernya terbilang menanjak stabil. Ia pernah bertugas di berbagai wilayah strategis sebelum menempati jabatan penting, di antaranya:

  • Panglima Kodam IV/Sriwijaya
  • Panglima Kodam V/Jaya
  • Kepala Staf TNI Angkatan Darat (1986–1988)
  • Panglima ABRI ke-9 (1988–1993)

Sebagai Panglima ABRI, Try menghadapi berbagai dinamika keamanan nasional, termasuk konflik di Aceh dan Timor Timur. Salah satu peristiwa paling disorot dalam masa kepemimpinannya adalah Insiden Dili 1991 di Timor Timur yang menuai kecaman internasional.

Kontroversi Tanjung Priok 1984

Saat menjabat Pangdam V/Jaya, Try juga berada dalam pusaran peristiwa Tanjung Priok 1984. Kerusuhan yang berujung pada penembakan massa itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah hubungan negara dan kelompok masyarakat pada era tersebut.

Pemerintah kala itu menyatakan puluhan orang meninggal dunia, sementara sejumlah pihak menyebut angka korban jauh lebih besar. Peristiwa tersebut terus menjadi bahan kajian dan evaluasi sejarah hingga kini.

Momen Politik: “Didahului” ABRI

Nama Try Sutrisno mencuat dalam Sidang Umum MPR 1993 ketika fraksi ABRI secara mengejutkan mencalonkannya sebagai Wakil Presiden sebelum Presiden Soeharto menyampaikan pilihan resminya. Langkah itu disebut-sebut sebagai manuver politik penting di tubuh kekuasaan saat itu.

Akhirnya, Try resmi menjabat Wakil Presiden RI ke-6 pada 11 Maret 1993. Ia mendampingi Soeharto hingga 11 Maret 1998, sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie.

Di masa krisis finansial Asia 1997–1998, nama Try sempat disebut-sebut sebagai figur potensial penerus kepemimpinan nasional. Namun pada akhirnya Soeharto memilih Habibie sebagai wakil presiden periode berikutnya.

Aktif Pasca-Reformasi

Setelah purnatugas, Try tetap aktif di ruang publik. Ia memimpin Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) dan terlibat dalam sejumlah forum kebangsaan. Pada 2005, ia bersama sejumlah tokoh nasional seperti Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Wiranto membentuk forum Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu yang sempat mengkritisi kebijakan pemerintah saat itu.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Try menikah dengan Tuti Sutiawati pada 1961 dan dikaruniai tujuh anak. Salah satu menantunya adalah mantan Kepala Staf TNI AD, Ryamizard Ryacudu.

Sepanjang kariernya, Try menerima berbagai tanda jasa dalam dan luar negeri, termasuk Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Republik Indonesia Adipradana, hingga penghargaan kehormatan dari sejumlah negara sahabat.

Warisan Sejarah

Sebagai prajurit yang meniti karier dari bawah hingga menjadi Panglima ABRI dan Wakil Presiden, Try Sutrisno meninggalkan jejak panjang dalam sejarah militer dan politik Indonesia.

Di satu sisi, ia dikenang sebagai figur disiplin dan loyal terhadap negara. Di sisi lain, sejumlah kebijakan dan peristiwa pada masa kepemimpinannya tetap menjadi bagian dari refleksi perjalanan demokrasi Indonesia.

Kepergiannya menutup satu lagi bab penting generasi perwira yang membentuk wajah Indonesia pada era Orde Baru. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

28 April 2026 - 20:49

Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS

28 April 2026 - 18:14

Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta

28 April 2026 - 17:51

BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur

28 April 2026 - 17:29

Akhir 22 Tahun “Zona Abu-Abu”: UU PPRT Resmi Disahkan, Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Perlindungan Nyata

26 April 2026 - 23:13

Trending di News