PRABAINSIGHT.COM – Kalau ada satu cerita lama yang masih bikin banyak orang menggeleng sampai hari ini, kasus Sum Kuning jelas masuk daftar teratas.
Peristiwa yang viral di Yogyakarta pada 1970 itu bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ia lebih mirip potret buram tentang bagaimana hukum bisa kehilangan arah bahkan ketika korban sudah berdiri di depan mata.
Korban dalam kasus ini adalah Sumariem, seorang gadis penjual telur yang hidupnya berubah drastis setelah menjadi korban penculikan dan pemerkosaan massal oleh sekelompok pemuda bermobil.
Harusnya, cerita berhenti di sana: korban melapor, pelaku diburu, keadilan ditegakkan.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Alih-alih mendapatkan perlindungan, Sumariem malah terseret ke dalam pusaran yang lebih gelap. Investigasi di lapangan mengarah pada dugaan bahwa para pelaku bukan orang sembarangan melainkan anak-anak pejabat dan tokoh berpengaruh.
Dan di titik itu, arah cerita mulai berubah.
Saat Sumariem melaporkan kejadian tersebut, respons aparat justru jauh dari kata empatik. Bukannya mengejar pelaku, ia malah diperlakukan layaknya tersangka. Interogasi yang dijalani disebut tidak manusiawi tekanan mental hingga dugaan penyiksaan fisik dilakukan agar ia mengaku bahwa kasus tersebut hanyalah rekayasa.
Narasi pun dibentuk.
Sumariem dituduh sebagai bagian dari kelompok terlarang, seolah-olah ia sedang menjalankan misi untuk merusak citra aparat dan pejabat. Tuduhan yang bukan hanya berat, tapi juga efektif untuk meruntuhkan kredibilitas korban di mata publik.
Puncaknya, pengadilan justru menjatuhkan vonis penjara kepada Sumariem dengan tuduhan memberikan keterangan palsu.
Sebuah keputusan yang, sampai sekarang, masih dianggap sebagai tamparan keras bagi rasa keadilan.
Kemarahan publik saat itu tak bisa dibendung. Gelombangnya bahkan sampai ke telinga Hoegeng Imam Santoso Kapolri yang dikenal dengan reputasi kejujuran yang nyaris legendaris.
Hoegeng kemudian membentuk tim khusus bernama “Tim Pemeriksa Sum Kuning” untuk mengurai benang kusut kasus ini dan mengungkap siapa sebenarnya pelaku di balik tragedi tersebut.
Namun, di sinilah konflik mulai memanas.
Ketika penyelidikan mulai mengarah pada nama-nama yang punya kedekatan dengan kekuasaan, langkah Hoegeng justru menemui hambatan. Bukan hambatan biasa, tapi tekanan politik yang jauh lebih besar dari sekadar kasus kriminal.
Tak lama kemudian, penanganan kasus ini diambil alih oleh Kopkamtib otoritas militer yang kala itu punya pengaruh besar.
Dan seperti banyak cerita serupa di masa itu, ujungnya terasa pahit.
Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri. Sebuah keputusan yang hingga kini diyakini banyak pihak sebagai bagian dari upaya menghentikan pengungkapan kebenaran.
Kasus Sum Kuning bukan cuma cerita lama.
Ia adalah pengingat: ketika hukum bertemu kekuasaan, yang sering kalah bukan fakta—tapi keberanian untuk membelanya.











