Menu

Mode Gelap
Sandri Rumanama: Jangan Cuma Umur Dinas yang Bertambah, Struktur Polri Juga Harus Berubah. Ngaku Kompol Saat Melamar, Ternyata Cuma Calo Samsat: Kisah Pahit ASN yang Terjebak Pernikahan Penuh Kekerasan SIAGA 98 Dorong Kementerian Keamanan untuk Awasi Sektor Keamanan Nasional Tujuh Tahun Driver Legend Indonesia, Dari Aksi Jalanan hingga Advokasi Ojol Nasional Mau Jadi Polisi? DPR Putuskan Lulusan SMA Masih Bisa Masuk Polri, Usulan S1 Tak Lolos Dari Jalanan Buruh ke Istana: Said Iqbal Resmi Jadi Penasihat Khusus Presiden Prabowo Bidang Ketenagakerjaan

Film

Blok M Mendadak Mistis: Luna Maya Perkenalkan Film “Santet Dosa di Atas Dosa”

badge-check


					Luna Maya perkenalkan film horor Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa di Blok M. Simak sinopsis dan jadwal tayang film produksi Soraya Intercine Films di Lebaran 2026. Perbesar

Luna Maya perkenalkan film horor Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa di Blok M. Simak sinopsis dan jadwal tayang film produksi Soraya Intercine Films di Lebaran 2026.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau biasanya orang ke Blok M buat jajan takoyaki atau nongkrong habis pulang kantor, Kamis malam (26/2) kemarin suasananya agak beda. Di bawah Stasiun MRT Blok M, tiba-tiba muncul sosok perempuan dengan aura anggun sekaligus bikin merinding. Bukan hantu sungguhan, tenang. Itu Luna Maya yang lagi “memanggil” kembali legenda horor Indonesia: Suzzanna.

Momen itu bukan sekadar aksi kejut-kejutan. Luna membuka poster raksasa film terbarunya, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, produksi Soraya Intercine Films. Film ini dijadwalkan tayang Lebaran 2026 dan disebut sebagai satu-satunya proyek Luna tahun ini. Jadi, kalau kangen lihat Luna di layar lebar, ya inilah jatahnya.

Blok M, Tempat Nongkrong yang Disulap Jadi Panggung Horor

Blok M bukan lokasi sembarangan. Ia semacam titik temu lintas generasi: dari anak Jaksel sampai bapak-bapak yang masih hafal lagu 80-an. Di tempat seikonik itu, Luna merasa pas mengenalkan kembali sosok Suzzanna figur yang bahkan setelah wafatnya tetap jadi mitologi hidup di perfilman Indonesia.

“Beliau itu ikon. Sudah enggak ada pun, tetap jadi legenda,” kira-kira begitu pengakuan Luna soal alasan menghidupkan lagi karakter tersebut.

Di poster film, ada detail yang bikin penggemar lama langsung sadar: bunga melati. Roncean melati yang melingkar di tubuh Luna bukan cuma aksesori estetik, tapi simbol yang lekat dengan sosok Suzzanna di film-film klasiknya. Bahkan, Luna mengaku sempat “mencicipi” melati saat syuting. Rasanya pahit, katanya, tapi aromanya wangi. Sebuah metafora yang cocok untuk cerita filmnya: cantik, tapi getir.

Santet, Dendam, dan Cinta yang Salah Waktu

Di film yang disutradarai Azhar Kinoi Lubis ini, Luna memerankan Suzzanna perempuan yang hidupnya berantakan karena ambisi seorang penguasa desa bernama Bisman (Clift Sangra). Demi kuasa, Bisman menyantet ayah Suzzanna sampai tewas. Dari situ, dendam tumbuh bukan sebagai bisikan, tapi sebagai keputusan.

Suzzanna belajar santet. Ia ingin membalas. Tapi seperti biasa, hidup tidak pernah sesederhana mantra dan asap kemenyan. Dalam perjalanan balas dendam itu, ia justru jatuh cinta pada Pramuja, pria religius yang diperankan Reza Rahadian. Pramuja tidak tahu rahasia gelap perempuan yang dicintainya.

Di sinilah film ini mencoba naik level. Bukan cuma horor dengan efek suara “duar!” mendadak, tapi juga konflik batin: memilih melanjutkan dendam atau mengubur semuanya demi cinta.

Horor-Aksi Rasa Lebaran

Film bergenre horor-aksi ini diproduseri Sunil Soraya, dengan naskah digarap Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya. Deretan pemainnya pun bukan kaleng-kaleng: Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, sampai Aziz Gagap.

Dengan komposisi seperti itu, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa jelas tidak sekadar menjual nama besar IP lama. Ia mencoba meramu ulang warisan horor klasik Indonesia dengan kemasan yang lebih modern tanpa melepas aroma melati yang jadi identitas.

Nostalgia yang Diracik Ulang

Menghidupkan kembali Suzzanna tentu bukan perkara mudah. Ia bukan sekadar karakter, melainkan memori kolektif penonton Indonesia. Tantangannya bukan cuma menyeramkan, tapi juga meyakinkan.

Luna tampaknya sadar betul akan beban itu. Membawa poster raksasa ke Blok M mungkin terdengar sederhana, tapi secara simbolik seperti pesan: legenda ini tidak dikurung di masa lalu. Ia turun ke jalan, menyapa generasi baru yang mungkin lebih akrab dengan MRT daripada layar tancap.

Lebaran 2026 nanti, pilihan tontonan keluarga kemungkinan besar akan ramai. Tapi kalau ingin sesuatu yang bukan sekadar jump scare, melainkan juga soal cinta, kuasa, dan konsekuensi dari dendam film ini tampaknya patut masuk daftar.

Dan siapa tahu, setelah keluar bioskop, aroma melati tiba-tiba terasa lebih berarti. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Kupeluk Kamu Selamanya”: Film Tentang Ibu yang Terlalu Kuat Sampai Lupa Boleh Rapuh

25 April 2026 - 11:19

BPI 2026–2030 Resmi Dibentuk, Fauzan Zidni Siapkan Jurus Besar: dari Sekolah Film ke Luar Negeri hingga Perang Lawan Pembajakan

25 April 2026 - 11:09

Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan

21 April 2026 - 11:48

Film Na Willa Satukan Kembali Reda Gaudiamo dan Sahabat Lama, Tangis Pecah di Bioskop

1 April 2026 - 10:03

Lewat ‘Na Willa’, Bioskop Lebaran Tahun Ini Punya Cerita Hangat tentang Dunia Anak

9 Maret 2026 - 14:11

Trending di Film