Menu

Mode Gelap
“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu” Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak 133 Rekening Judi Online Disikat Bareskrim, Rp 58 Miliar Lebih Akhirnya Balik ke Negara Rudal Iran Hantam Pelabuhan Haifa? Dentuman di Pesisir Israel Bikin Ketegangan Timur Tengah Makin Panas Bahlil: Stok BBM Nasional Masih Aman, Pemerintah Klaim Cukup untuk 20 Hari ke Depan Serangan Iran Diklaim Tembus Sistem Pertahanan, Panglima Udara Israel Tomer Bar Dilaporkan Tewas

Kolom Angker

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

badge-check


					Foto ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto ilustrasi (Istimewa)

KOLOM ANGKER – Nama saya Rama Sudharma. Jika Anda membaca tulisan ini, mungkin saya sudah tidak mampu menjelaskan apa pun lagi. Saya menulis dengan tangan gemetar, kepala berdenyut seperti ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam pikiran saya.

Saya tidak tahu apakah yang saya alami ini sekadar trauma… atau sesuatu dari Hutan Cangar memang mengikuti saya pulang.

Yang jelas, sejak malam itu, saya tidak pernah benar-benar sendirian lagi.

Awal yang Terlalu Tenang

Saya datang ke Hutan Cangar, Jawa Timur, untuk pekerjaan sederhana: mendokumentasikan jalur hutan dan spot wisata alam. Saya seorang fotografer freelance pekerjaan yang sering membawa saya ke tempat sepi.

Hari itu terlalu sempurna untuk sebuah bencana.

Langit biru.

Udara dingin yang bersih.

Dan suara air dari sungai kecil di kejauhan.

Tidak ada tanda apa pun bahwa tempat itu… hidup.

Namun semuanya berubah ketika saya berjalan terlalu jauh dari jalur wisata.

Awalnya hanya angin.

Tapi bukan angin biasa.

Angin itu terasa berat… seperti hembusan napas makhluk besar yang berdiri sangat dekat di belakang saya.

Daun-daun bergerak.

Tapi tidak ada suara gesekan.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Sesuatu Mengikuti

Langkah kaki saya terdengar di tanah basah.

Tok… tok… tok…

Namun beberapa detik kemudian…

Ada suara lain.

Tok… tok…

Langkah tambahan.

Tepat di belakang saya.

Saya berhenti.

Suara itu ikut berhenti.

Saya menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Hanya pepohonan tinggi yang berdiri seperti barisan tubuh hitam menatap saya.

Lalu

KRAK!

Ranting patah di balik semak.

Saya menyorotkan kamera.

Tidak ada apa-apa.

Tapi perasaan itu semakin kuat.

Saya tidak sedang berjalan di dalam hutan.

Saya seperti berjalan di dalam sesuatu yang sedang mengawasi saya.

Bayangan di Kamera

Saya mencoba fokus bekerja.

Memotret lumut di batang pohon.

Jalur tanah yang licin.

Batu besar yang tertutup dedaunan.

Namun setiap kali saya mengecek hasil foto…

Ada sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Bayangan panjang.

Hitam.

Terlalu tinggi untuk manusia.

Kadang hanya muncul di antara batang pohon.

Kadang seperti berdiri jauh di belakang saya.

Saya berpikir itu hanya efek cahaya.

Sampai satu foto membuat tangan saya membeku.

Di antara pepohonan…

Ada sosok tinggi kurus, hitam pekat seperti bayangan yang tidak memiliki bentuk pasti.

Dan saya bisa merasakan…

Dia sedang menatap saya dari dalam foto itu.

Suara yang Memanggil

Hutan tiba-tiba menjadi sunyi.

Tidak ada burung.

Tidak ada serangga.

Bahkan angin pun berhenti.

Lalu suara itu datang.

Pelan.

Serak.

Seperti tenggorokan yang dipenuhi lumpur.

“Rama…”

Saya membeku.

Suara itu sangat dekat.

Seperti seseorang berdiri tepat di belakang saya.

Saya menoleh cepat.

Tidak ada siapa pun.

Namun beberapa detik kemudian suara itu muncul lagi.

Lebih panjang.

Lebih dekat.

“Raaamaaa…”

Suara itu bukan suara manusia.

Terlalu dalam.

Terlalu berat.

Seperti keluar dari tubuh yang sudah lama mati.

Langkah yang Meniru

Saya mulai berjalan cepat.

Tok… tok… tok…

Lalu…

Tok… tok… tok… tok…

Langkah lain ikut berjalan.

Jika saya melangkah satu kali…

Ada dua langkah menjawab dari belakang.

Jika saya berhenti…

Langkah itu berhenti juga.

Dan ketika saya menoleh lagi

Sebuah pohon besar di belakang saya bergoyang perlahan.

Seolah sesuatu yang sangat tinggi baru saja bersembunyi di baliknya.

Gubuk yang Tidak Ada di Peta

Saya akhirnya berlari tanpa arah.

Semak berduri menyayat kaki saya.

Ranting memukul wajah saya.

Namun saya tidak peduli.

Saya hanya ingin keluar dari tempat itu.

Setelah beberapa menit berlari, saya tiba di area yang jauh lebih gelap.

Pohon-pohon rapat seperti dinding.

Dan di tengahnya…

Ada sebuah gubuk kayu tua.

Gubuk kecil.

Lapuk.

Pintunya menggantung setengah lepas.

Yang aneh…

Saya yakin tempat itu tidak ada di peta.

Lalu bau itu datang.

Bau tanah basah bercampur daging busuk.

Seperti sesuatu yang mati lama di dalamnya.

Saya mundur perlahan.

Namun

CREEEEKKK…

Pintu gubuk itu bergerak sendiri.

Berderit.

Pelan.

Dan terbuka sedikit.

Dari dalam kegelapan…

Terdengar napas panjang.

Sangat panjang.

Seperti seseorang yang baru bangun setelah tidur bertahun-tahun.

Jejak di Belakang Saya

Saya hendak berlari lagi.

Namun saat menoleh ke tanah

Saya melihat sesuatu yang membuat darah saya membeku.

Jejak kaki.

Jejak kaki wanita.

Kecil.

Namun sangat dalam di tanah.

Seolah pemiliknya memiliki berat yang tidak masuk akal.

Dan jejak itu…

Berhenti tepat di belakang saya.

Seolah seseorang berdiri hanya beberapa sentimeter dari punggung saya.

Kemudian suara itu berbisik lagi.

Tepat di telinga saya.

Dingin.

Lembab.

“Rama… masuk…”

Pelarian

Saya berlari sekuat tenaga.

Menabrak semak.

Terjatuh.

Bangkit lagi.

Hutan terasa seperti menahan saya.

Akar-akar kecil seperti mencengkeram kaki saya dari dalam tanah.

Namun akhirnya saya melihat cahaya.

Lampu kuning dari pos jaga hutan.

Saya keluar dengan napas putus-putus.

Penjaga hutan menatap saya seperti melihat mayat hidup.

Dia bilang wajah saya pucat seperti orang yang baru ditarik keluar dari kuburan.

Saya tidak menjelaskan apa pun.

Saya hanya ingin pulang.

Teror yang Mengikuti

Namun teror itu tidak berhenti di hutan.

Setiap malam saya melihat gubuk itu dalam mimpi.

Pintunya terbuka.

Dan sesuatu berdiri di dalamnya.

Kadang saya mendengar suara perempuan berbisik di kamar mandi.

Kadang di balik tirai kamar.

Kadang tepat di belakang telinga saya saat saya makan.

Beberapa pagi saya menemukan daun basah di lantai kamar.

Padahal jendela tertutup.

Foto Terakhir

Seminggu kemudian saya membuka galeri kamera.

Dan menemukan satu foto baru.

Saya yakin…

Saya tidak pernah mengambil foto itu.

Foto gubuk di hutan.

Namun pintunya terbuka lebih lebar.

Di dalam kegelapan itu…

Ada wajah pucat.

Mata cekung.

Menatap langsung ke kamera.

Di bagian bawah foto ada goresan seperti tulisan kuku:

“Kamu belum kembali.”

Saya tidak tidur sejak melihat foto itu.

Dan sekarang…

Saat saya menulis ini…

Saya mendengar sesuatu di luar kamar.

Langkah kaki.

Pelan.

Ringan seperti perempuan.

Namun berat seperti sesuatu yang tidak seharusnya berjalan.

…sebentar.

Ada yang mengetuk jendela.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan suara itu kembali memanggil

Dengan nada yang sama seperti di hutan.

“Raaamaaa…”


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Teror Mencekam Lantai 15 Sudirman–Thamrin: Sosok Pria Melayang dan Wanita di Plafon Menghantui Shift Malam

26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Teror Erangan Babi di Ujung Senja: Ritual Terlarang yang Membuka Pintu Kegelapan di Sebuah Kampung Sunyi

26 Februari 2026 - 14:08 WIB

Kisah Horor Shift Malam Pabrik Keramik: Dari Kecelakaan Berdarah ke Teror Nyata

19 Februari 2026 - 18:04 WIB

Kisah Kota Gaib di Jalan Lintas Selatan Jawa

19 Februari 2026 - 17:50 WIB

Trending di Kolom Angker