Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

News

Eks Ketua SP JICT Ermanto Usman Ditemukan Tewas di Bekasi, Kasus Kontrak Rp4,08 Triliun Kembali Disorot

badge-check

Tragedi kematian Ermanto Usman di Bekasi memunculkan kembali polemik skandal perpanjangan kontrak JICT senilai Rp4,08 triliun yang pernah ia kritik selama bertahun-tahun. Perbesar

Tragedi kematian Ermanto Usman di Bekasi memunculkan kembali polemik skandal perpanjangan kontrak JICT senilai Rp4,08 triliun yang pernah ia kritik selama bertahun-tahun.

PRABAINSIGHT.COM | BEKASI – Subuh di Bekasi seharusnya berjalan seperti biasa: udara agak dingin, suara ayam kampung yang tidak pernah sinkron dengan jam biologis manusia, dan beberapa warga yang mulai menyalakan motor untuk berangkat kerja. Namun pada Senin pagi, 2 Maret 2026, ketenangan itu pecah di Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening.

Di sebuah rumah yang tampak biasa saja dari luar, tragedi terjadi. Ermanto Usman (65) ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan dalam keadaan kritis. Peristiwa itu segera mengubah pagi sunyi menjadi penuh garis polisi, bisik-bisik warga, dan satu pertanyaan besar: ini benar perampokan, atau sesuatu yang jauh lebih rumit?

Tetangga Biasa, Tapi Riwayatnya Tidak Biasa

Bagi warga sekitar, Ermanto adalah sosok pensiunan yang terlihat kalem. Tidak banyak bicara, tidak pula membuat gaduh lingkungan. Tipe orang yang mungkin hanya terlihat saat menyapu halaman atau sekadar menyapa tetangga.

Namun di dunia pelabuhan dan pergerakan buruh, nama Ermanto bukan orang sembarangan. Ia pernah menjadi Ketua Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT). Dan di masa jabatannya, ia dikenal sebagai orang yang tidak terlalu suka diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya janggal.

Terutama ketika menyangkut perpanjangan kontrak pengelolaan JICT yang nilainya mencapai Rp4,08 triliun.

Keluarga Tidak Percaya Ini Sekadar Kejahatan Jalanan

Di depan rumah yang sudah dipasang garis polisi, Fiandy A Putra (33), anak sulung Ermanto, terlihat mencoba menahan emosi.

Ia tidak percaya ayahnya hanya menjadi korban kriminal biasa.

Menurutnya, ayahnya sudah lama pensiun. Ia tidak punya musuh dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ada satu hal yang sejak dulu memang melekat pada sosok Ermanto: keberaniannya menyuarakan sesuatu yang menurutnya tidak benar.

Keluarga merasa ada banyak hal janggal dalam kejadian tersebut. Cara pelaku masuk ke rumah, titik serangan yang mematikan, hingga hilangnya ponsel korban membuat dugaan peristiwa ini lebih dari sekadar pencurian.

Dalam istilah dunia investigasi, kejadian seperti ini sering dikaitkan dengan upaya “pembungkaman”.

Cerita Lama yang Kembali Menghantui

Untuk memahami kenapa kasus ini langsung menyita perhatian, kita perlu mundur ke sekitar satu dekade lalu.

Pada 2014, Ermanto termasuk orang yang paling vokal menolak perpanjangan kontrak pengelolaan terminal peti kemas antara PT Pelindo II dan perusahaan pelabuhan internasional Hutchison Port Holdings.

Penolakannya bukan sekadar protes biasa.

Tahun 2015, ia bahkan memimpin aksi mogok kerja dan menggugat manajemen setelah diberhentikan dari pekerjaannya. Alasan pemecatannya dianggap berkaitan dengan sikapnya yang terlalu keras mengkritik kebijakan tersebut.

Dua tahun kemudian, pada 2017, Badan Pemeriksa Keuangan merilis audit investigatif yang mengungkap adanya potensi kerugian negara sekitar Rp4,08 triliun terkait proses perpanjangan kontrak tersebut.

Temuan itu membuat polemik semakin panas.

Dari Saksi DPR hingga Aktivis Digital

Nama Ermanto kembali muncul dalam berbagai forum ketika DPR membentuk panitia khusus untuk membahas persoalan tersebut.

Di hadapan anggota parlemen, ia memberikan kesaksian terkait kondisi di lapangan serta sejumlah hal yang menurutnya janggal dalam proses perpanjangan kontrak.

Meski kemudian ia pensiun, ternyata Ermanto tidak benar-benar berhenti mengikuti perkembangan kasus itu.

Dalam beberapa bulan terakhir sebelum kematiannya, ia diketahui kembali aktif menyuarakan kritik di berbagai platform digital. Ia mempertanyakan kenapa rekomendasi politik terkait kasus tersebut terasa berjalan lambat.

Bagi sebagian orang, aktivitas itu mungkin sekadar opini seorang pensiunan. Tapi bagi yang memahami dunia korporasi besar dan politik ekonomi, orang yang menyimpan data lama sering kali dianggap terlalu berbahaya untuk diabaikan.

Ponsel yang Hilang dan Misteri yang Tertinggal

Salah satu hal yang memunculkan banyak spekulasi adalah hilangnya ponsel korban.

Keluarga menduga perangkat tersebut mungkin berisi komunikasi penting atau dokumen digital yang sedang dikumpulkan Ermanto dalam beberapa bulan terakhir.

Jika benar demikian, maka motif kejadian ini bisa jauh lebih kompleks daripada sekadar kejahatan rumah tangga.

Seorang pensiunan yang menyimpan potongan informasi sering kali lebih menakutkan bagi pelaku kejahatan kerah putih dibanding seorang aktivis yang hanya berteriak di jalan.

Kini Semua Mata Tertuju ke Polisi

Saat ini penyelidikan berada di tangan Subdit Jatanras Polda Metro Jaya.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya bisa sangat panjang: apakah kasus ini akan berhenti pada pelaku lapangan yang diduga masuk ke rumah korban, atau justru membuka cerita yang lebih besar?

Karena jika benar kematian ini berkaitan dengan sesuatu yang lebih dalam, maka tragedi di Bekasi itu bukan hanya soal satu keluarga yang kehilangan ayahnya.

Melainkan juga tentang risiko yang harus dibayar seseorang ketika mencoba terlalu dekat dengan sesuatu bernilai Rp4 triliun.

Dan di negeri ini, kita tahu satu hal: kadang orang yang terlalu banyak tahu justru yang paling cepat dibungkam.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja

7 Agustus 2026 - 20:39

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Trending di News