PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada banyak cara orang menaruh penyesalan. Ada yang menulis panjang di buku harian, ada yang memendamnya diam-diam. Tapi kadang, penyesalan itu cuma muncul sebagai… titik-titik. Sejenis jeda yang terasa lebih jujur daripada kalimat yang dipaksakan selesai.
Di ujung doa-doa malam yang sering diucapkan dengan mata setengah lelah titik-titik itu jarang benar-benar kosong. Biasanya ada nama seseorang di sana. Orang yang pernah kita sayangi, yang mungkin kini jauh, atau yang sekadar tidak lagi sempat kita temui.
Barangkali kegelisahan semacam itulah yang coba ditangkap oleh Sal Priadi lewat lagu “Ada Titik-Titik di Ujung Doa.” Lagu ini bukan cuma sekadar balada tentang kerinduan, tapi juga tentang ruang sunyi yang sering muncul ketika seseorang mencoba berdamai dengan jarak.
Pada 11 Maret 2026, Sal akhirnya merilis video musik lagu tersebut sebagai penutup perjalanan album keduanya, Markers and Such, Pens, Flashdisks. Album yang sering disingkat MASPF itu memang terasa seperti kumpulan catatan kecil: tentang perasaan yang kadang tidak selesai, tentang kenangan yang tidak selalu rapi.
Video musik “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” sendiri digarap oleh Bernardus Raka sutradara yang sudah cukup akrab menerjemahkan emosi lagu menjadi cerita visual. Alih-alih membuat video klip yang sekadar estetis, Raka memilih pendekatan yang lebih manusiawi: sederhana, tapi menghantam pelan-pelan.
Cerita dalam video berdurasi 8 menit 9 detik itu berpusat pada seorang bapak yang bekerja sebagai sopir truk. Hidupnya, seperti banyak pekerja jalanan lain, diisi perjalanan panjang dan waktu pulang yang sering tertunda. Dari situ, konflik yang muncul bukanlah ledakan drama besar, melainkan pergulatan batin yang sunyi—jenis perasaan yang sering dipendam oleh orang dewasa.
Sepanjang video, penonton diajak melihat bagaimana jarak perlahan menggerogoti hubungan seseorang dengan orang-orang yang ia cintai. Tidak ada dialog yang terlalu meledak-ledak, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa dekat: rasa bersalah yang tidak sempat diucapkan, rindu yang terlambat disampaikan, dan doa-doa yang selalu menyelipkan nama yang sama di ujungnya.
Persis seperti judul lagunya kadang, memang selalu ada titik-titik di ujung doa. (Van)











