Menu

Mode Gelap
Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

News

Ketum SBSI 92 Sunarti Ingatkan Dampak Konflik Global dan Ancaman Hoaks

badge-check

Ketum SBSI 92 Sunarti mengingatkan dampak konflik global terhadap Indonesia serta bahaya hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi memicu perpecahan. Perbesar

Ketum SBSI 92 Sunarti mengingatkan dampak konflik global terhadap Indonesia serta bahaya hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi memicu perpecahan.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Dunia lagi nggak santai. Konflik di luar negeri makin panas, ekonomi global goyang, dan efeknya pelan-pelan ikut nyiprat ke Indonesia. Tapi masalahnya, kata Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 92, kita ini bukan cuma lagi kena dampak dari luar di dalam negeri juga lagi ribut sendiri.

Ketua Umum SBSI 92, Sunarti, melihat situasi sekarang agak absurd. Di satu sisi, dunia internasional lagi tegang, dari konflik Amerika Serikat, Israel, sampai Iran yang bikin suasana global makin sumpek. Di sisi lain, di Indonesia malah sibuk debat kusir yang kadang ujungnya nggak jelas.

“Yang di luar sana udah cukup bikin pusing, jangan ditambah kita sendiri saling curiga,” kira-kira begitu pesan yang mau disampaikan.

Masalahnya bukan sekadar beda pendapat. Tapi cara kita menyikapi informasi yang makin ke sini makin liar. Mulai dari hoaks, fitnah, sampai ujaran kebencian yang beredar deras di media sosial—dan seringnya, dipercaya mentah-mentah.

Belum lagi isu-isu yang sebenarnya bisa dibahas santai tapi malah jadi bahan bakar emosi. Dari polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo sampai kasus kekerasan terhadap aktivis, semuanya seperti jadi ajang adu opini. Tambah ruwet karena sekarang ada “bantuan” teknologi seperti AI, yang kalau dipakai sembarangan bisa bikin yang palsu terasa meyakinkan.

Akhirnya, publik bukan makin paham, tapi makin capek. Energi habis buat debat, bukan buat cari solusi.

Sunarti mengingatkan, kondisi kayak gini gampang banget dimanfaatkan. Bukan cuma buat cari sensasi, tapi juga buat kepentingan politik. Polarisasi? Ya jelas makin dalam. Sedikit-sedikit curiga, sedikit-sedikit baper.

Padahal, kata dia, kritik itu tetap penting. Negara juga butuh dikritik. Tapi kalau kritiknya berubah jadi nyinyir, apalagi sampai menyebar kebencian, ya sama saja bikin suasana makin keruh.

Intinya sederhana, tapi sering dilupakan: nggak semua yang viral itu benar.

Di tengah situasi global yang lagi nggak pasti, SBSI 92 mengajak masyarakat buat sedikit lebih waras nggak gampang kepancing, nggak buru-buru percaya, dan kalau bisa, nggak ikut-ikutan memperkeruh suasana.

Karena kalau bukan kita yang nahan diri, ya siapa lagi? Indonesia ini sudah cukup ribet tanpa harus ditambah drama dari hasil forward-an yang belum tentu jelas asal-usulnya. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Trending di Nasional