KOLOM ANGKER – Mobil kami melaju pelan saat memasuki Desa Setu Wetan. Awalnya biasa saja suara mesin, obrolan ringan, jalanan yang masih ramai. Tapi semakin dalam kami masuk… semuanya berubah.
Aspal menghilang. Berganti tanah kering berdebu.
Rumah-rumah mulai jarang.
Langit… entah kenapa terlihat lebih redup.
Dan saat mobil berhenti
BRAK!
Pintu terbuka sendiri.
Kami semua terdiam.
“Angin…” kata seseorang mencoba menenangkan. Tapi tak ada angin. Bahkan daun pun tak bergerak.
Sejak detik itu… sesuatu terasa salah.
Rumah yang kami tempati berada di ujung desa. Terpencil. Dikelilingi rumpun bambu tinggi yang saling bergesekan.
Srak… srek… srrrkk…
Suara itu seperti bisikan panjang.
Seperti ada yang berbicara… tapi tak ingin dimengerti.
Di halaman berdiri pohon nangka tua. Besar. Akar-akar menjalar keluar tanah seperti tangan yang mencoba meraih sesuatu.
Dan tepat di dalam rumah itu… semuanya dimulai.
Pemilik rumah seorang bapak tua memberi kami aturan. Suaranya pelan. Terlalu pelan.
Hingga ia berhenti di satu kalimat.
“Di kamar ujung… ada cermin.”
Sunyi.
“Jangan dibuka.”
Aku sempat bertanya.
Dia menatapku lama.
Lalu
“JANGAN.”
Suaranya berubah. Lebih dalam. Lebih berat.
Seolah bukan dia yang berbicara.
Cermin itu tertutup kain hitam. Tebal. Seperti sengaja disembunyikan.
Tapi aku pernah melihatnya.
Sekilas.
Dan saat itu
DUK!
Seperti ada sesuatu yang mengetuk dari dalam kaca.
Aku membeku.
Saat kuperhatikan lagi… tidak ada apa-apa.
Tapi satu hal yang pasti
Cermin itu… tidak retak.
Minggu pertama berjalan normal.
Sampai Lastri datang.
Hari itu sore menjelang malam. Langit oranye redup. Aku masuk rumah dan langsung merasakan sesuatu
Dingin.
Lembap.
Seperti rumah itu… baru saja “dibuka” oleh sesuatu.
Aku berjalan ke kamar belakang.
Dan berhenti.
Kain hitam itu… sudah terbuka.
Lastri berdiri di depan cermin.
Mengelapnya perlahan.
SREET… SREET…
Suara kain bergesekan dengan kaca terasa terlalu keras… terlalu jelas…
“Lastri…” panggilku.
Dia diam.
Beberapa detik.
Lalu
KREK!
Lehernya menoleh patah ke arahku.
Senyumnya lebar.
“Tuh kan… bagus.”
Matanya kosong.
Kosong… tapi seperti ada yang melihatku dari dalam sana.
Malam itu, Maghrib
Lastri hilang.
Kami mencarinya ke seluruh rumah.
Tidak ada.
Sampai
KREK…
Pintu terbuka pelan.
Lastri berdiri di sana.
Basah.
Kotor.
Dan di tangannya
Ayam hidup.
Yang lehernya… sudah robek.
“Tri…?”
Dia tidak menjawab.
Dia tersenyum.
Lalu
KRAKK!!
Dia menggigit leher ayam itu.
Darah menyembur.
Suara tulang patah terdengar jelas.
KRAK! KRAK!
Dia mengunyah.
Pelan.
Nikmat.
Kami menjerit.
Dan saat itu… dia menoleh ke kami.
Dengan mulut penuh darah.
Matanya… bukan miliknya lagi.
Sejak itu, Lastri berubah.
Dia sering duduk di depan cermin.
Berjam-jam.
Tanpa bergerak.
Kadang terdengar suara nyanyian.
Pelan…
Merdu…
Tapi bukan suara Lastri.
Lebih tua.
Lebih dalam.
Seperti suara perempuan yang sudah mati ratusan tahun.
Hujan deras turun suatu sore.
Angin mengamuk.
Bambu bergesekan keras.
SRAAAK! SREEEK!
Seperti ribuan suara berbisik bersamaan.
Kami semua berkumpul.
Kecuali Lastri.
Tiba-tiba
DOR!
Pintu terbuka keras.
Lastri berlari keluar.
Membawa tali.
Dia berdiri di tengah hujan.
Menari.
Tertawa.
Suaranya melengking
“HA… HA… HA…!”
Dia mengikat tali ke lehernya.
Berjalan ke pohon nangka.
Kami berteriak.
Menariknya.
Tubuhnya berat.
Sangat berat.
Seperti ada yang ikut menarik dari arah pohon itu
Malam Jumat Kliwon.
Puncaknya.
Lastri masuk kamar cermin.
Tidak keluar.
Tidak bersuara.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Aku dan dua teman mendekat.
Pintu sedikit terbuka.
Aku dorong pelan.
KREEEK…
Dan kami melihatnya.
Lastri duduk.
Di depan cermin.
Diam.
Tapi
Pantulan di cermin…
Bukan dia.
Itu perempuan lain.
Wajahnya pucat.
Matanya cekung.
Mulutnya bergerak.
Seperti sedang berbicara.
Dengan Lastri.
Kami membeku.
Dan perlahan…
Perempuan itu menoleh.
Menatap kami.
Matanya membesar.
Senyumnya melebar
SREEETTT!!
Suara seperti kaca digores dari dalam.
Dan
Lastri ikut menoleh.
Tapi bayangannya…
Tidak bergerak.
Dia masih menatap kami.
Masih tersenyum.
Tiba-tiba
KLIK!
Lastri berdiri.
Di tangannya… gunting.
Kami mundur.
Tapi dia tidak mendekat.
Dia tertawa.
Pelan.
Lalu
Dia menusukkan gunting ke arah matanya sendiri.
“LAS TRI!!”
Kami berlari.
Menahan tangannya.
Gunting hampir masuk.
Hampir.
Beberapa milimeter lagi
Dan saat itu
BRAK!
Salah satu teman menutup cermin dengan kain hitam.
Seketika
Lastri jatuh.
Lemas.
Seperti… sesuatu baru saja keluar dari tubuhnya.
Keesokan harinya, kami tahu semuanya.
Rumah itu sudah kosong hampir 10 tahun.
Enam keluarga pernah tinggal di sana.
Dan semuanya…
Kehilangan satu orang.
Dengan cara yang sama.
Gantung diri.
Di pohon nangka itu.
Dan cermin itu
Bukan cermin biasa.
Itu…
Pintu.
Kami pergi hari itu juga.
Tanpa menoleh lagi.
Tanpa pamit.
Karena saat aku terakhir keluar dari rumah itu—
Aku sempat melihat ke jendela.
Dan di dalam sana…
Di balik kain hitam yang menutup cermin—
Ada sesuatu yang bergerak.
Pelan.
Seolah… sedang mencoba membuka.
Sampai sekarang…
Aku tidak pernah berani menatap cermin terlalu lama.
Karena aku tahu
Kadang…
Pantulan kita…
Bisa terlambat.
Dan saat itu terjadi
Mungkin…
Itu bukan kita lagi.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











