Menu

Mode Gelap
KKN Berujung Teror: Cermin Terkutuk yang Membuat Penghuninya Gila dan Mati Gantung Diri Reformasi Pajak Kendaraan Jabar: Kemudahan untuk Warga, dan Ancaman Bagi Calo Drama Dean James di Go Ahead Eagles: Tak Disanksi KNVB, Tapi Status Kewarganegaraan Jadi Sorotan Di Balik Konflik Kerajaan, Ini Permintaan Terakhir Ratu Elizabeth II yang Bikin Haru Kamu Ngerasa Gerah dan Panas? Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Cuaca yang Makin Menyengat Dari Layanan Kesehatan hingga Kurban, Kemas Foundation Bangun Gerakan Kebaikan Berkelanjutan

Kolom Angker

KKN Berujung Teror: Cermin Terkutuk yang Membuat Penghuninya Gila dan Mati Gantung Diri

badge-check


					Foto: ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto: ilustrasi (Istimewa)

KOLOM ANGKER – Mobil kami melaju pelan saat memasuki Desa Setu Wetan. Awalnya biasa saja suara mesin, obrolan ringan, jalanan yang masih ramai. Tapi semakin dalam kami masuk… semuanya berubah.

Aspal menghilang. Berganti tanah kering berdebu.
Rumah-rumah mulai jarang.
Langit… entah kenapa terlihat lebih redup.

Dan saat mobil berhenti

BRAK!

Pintu terbuka sendiri.

Kami semua terdiam.

“Angin…” kata seseorang mencoba menenangkan. Tapi tak ada angin. Bahkan daun pun tak bergerak.

Sejak detik itu… sesuatu terasa salah.

Rumah yang kami tempati berada di ujung desa. Terpencil. Dikelilingi rumpun bambu tinggi yang saling bergesekan.

Srak… srek… srrrkk…

Suara itu seperti bisikan panjang.
Seperti ada yang berbicara… tapi tak ingin dimengerti.

Di halaman berdiri pohon nangka tua. Besar. Akar-akar menjalar keluar tanah seperti tangan yang mencoba meraih sesuatu.

Dan tepat di dalam rumah itu… semuanya dimulai.

Pemilik rumah seorang bapak tua memberi kami aturan. Suaranya pelan. Terlalu pelan.

Hingga ia berhenti di satu kalimat.

“Di kamar ujung… ada cermin.”

Sunyi.

“Jangan dibuka.”

Aku sempat bertanya.
Dia menatapku lama.

Lalu

“JANGAN.”

Suaranya berubah. Lebih dalam. Lebih berat.

Seolah bukan dia yang berbicara.

Cermin itu tertutup kain hitam. Tebal. Seperti sengaja disembunyikan.

Tapi aku pernah melihatnya.

Sekilas.

Dan saat itu

DUK!

Seperti ada sesuatu yang mengetuk dari dalam kaca.

Aku membeku.

Saat kuperhatikan lagi… tidak ada apa-apa.

Tapi satu hal yang pasti

Cermin itu… tidak retak.

Minggu pertama berjalan normal.

Sampai Lastri datang.

Hari itu sore menjelang malam. Langit oranye redup. Aku masuk rumah dan langsung merasakan sesuatu

Dingin.

Lembap.

Seperti rumah itu… baru saja “dibuka” oleh sesuatu.

Aku berjalan ke kamar belakang.

Dan berhenti.

Kain hitam itu… sudah terbuka.

Lastri berdiri di depan cermin.

Mengelapnya perlahan.

SREET… SREET…

Suara kain bergesekan dengan kaca terasa terlalu keras… terlalu jelas…

“Lastri…” panggilku.

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu

KREK!

Lehernya menoleh patah ke arahku.

Senyumnya lebar.

“Tuh kan… bagus.”

Matanya kosong.

Kosong… tapi seperti ada yang melihatku dari dalam sana.

Malam itu, Maghrib

Lastri hilang.

Kami mencarinya ke seluruh rumah.

Tidak ada.

Sampai

KREK…

Pintu terbuka pelan.

Lastri berdiri di sana.

Basah.

Kotor.

Dan di tangannya

Ayam hidup.

Yang lehernya… sudah robek.

“Tri…?”

Dia tidak menjawab.

Dia tersenyum.

Lalu

KRAKK!!

Dia menggigit leher ayam itu.

Darah menyembur.

Suara tulang patah terdengar jelas.

KRAK! KRAK!

Dia mengunyah.

Pelan.

Nikmat.

Kami menjerit.

Dan saat itu… dia menoleh ke kami.

Dengan mulut penuh darah.

Matanya… bukan miliknya lagi.

Sejak itu, Lastri berubah.

Dia sering duduk di depan cermin.

Berjam-jam.

Tanpa bergerak.

Kadang terdengar suara nyanyian.

Pelan…

Merdu…

Tapi bukan suara Lastri.

Lebih tua.

Lebih dalam.

Seperti suara perempuan yang sudah mati ratusan tahun.

Hujan deras turun suatu sore.

Angin mengamuk.

Bambu bergesekan keras.

SRAAAK! SREEEK!

Seperti ribuan suara berbisik bersamaan.

Kami semua berkumpul.

Kecuali Lastri.

Tiba-tiba

DOR!

Pintu terbuka keras.

Lastri berlari keluar.

Membawa tali.

Dia berdiri di tengah hujan.

Menari.

Tertawa.

Suaranya melengking

“HA… HA… HA…!”

Dia mengikat tali ke lehernya.

Berjalan ke pohon nangka.

Kami berteriak.

Menariknya.

Tubuhnya berat.

Sangat berat.

Seperti ada yang ikut menarik dari arah pohon itu

Malam Jumat Kliwon.

Puncaknya.

Lastri masuk kamar cermin.

Tidak keluar.

Tidak bersuara.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Aku dan dua teman mendekat.

Pintu sedikit terbuka.

Aku dorong pelan.

KREEEK…

Dan kami melihatnya.

Lastri duduk.

Di depan cermin.

Diam.

Tapi

Pantulan di cermin…

Bukan dia.

Itu perempuan lain.

Wajahnya pucat.

Matanya cekung.

Mulutnya bergerak.

Seperti sedang berbicara.

Dengan Lastri.

Kami membeku.

Dan perlahan…

Perempuan itu menoleh.

Menatap kami.

Matanya membesar.

Senyumnya melebar

SREEETTT!!

Suara seperti kaca digores dari dalam.

Dan

Lastri ikut menoleh.

Tapi bayangannya…

Tidak bergerak.

Dia masih menatap kami.

Masih tersenyum.

Tiba-tiba

KLIK!

Lastri berdiri.

Di tangannya… gunting.

Kami mundur.

Tapi dia tidak mendekat.

Dia tertawa.

Pelan.

Lalu

Dia menusukkan gunting ke arah matanya sendiri.

“LAS TRI!!”

Kami berlari.

Menahan tangannya.

Gunting hampir masuk.

Hampir.

Beberapa milimeter lagi

Dan saat itu

BRAK!

Salah satu teman menutup cermin dengan kain hitam.

Seketika

Lastri jatuh.

Lemas.

Seperti… sesuatu baru saja keluar dari tubuhnya.

Keesokan harinya, kami tahu semuanya.

Rumah itu sudah kosong hampir 10 tahun.

Enam keluarga pernah tinggal di sana.

Dan semuanya…

Kehilangan satu orang.

Dengan cara yang sama.

Gantung diri.

Di pohon nangka itu.

Dan cermin itu

Bukan cermin biasa.

Itu…

Pintu.

Kami pergi hari itu juga.

Tanpa menoleh lagi.

Tanpa pamit.

Karena saat aku terakhir keluar dari rumah itu—

Aku sempat melihat ke jendela.

Dan di dalam sana…

Di balik kain hitam yang menutup cermin—

Ada sesuatu yang bergerak.

Pelan.

Seolah… sedang mencoba membuka.

Sampai sekarang…

Aku tidak pernah berani menatap cermin terlalu lama.

Karena aku tahu

Kadang…

Pantulan kita…

Bisa terlambat.

Dan saat itu terjadi

Mungkin…

Itu bukan kita lagi.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pocong Menangis di Kota Mati Lampung

7 April 2026 - 15:04 WIB

“Kami Ditolong… atau Dijebak? Kisah Melahirkan di Rumah Sakit Gaib”

2 April 2026 - 16:39 WIB

Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

26 Maret 2026 - 16:05 WIB

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Trending di Kolom Angker