KOLOM ANGKER – Hujan turun seperti kutukan malam itu. Bukan sekadar deras, tapi seperti langit sedang menumpahkan seluruh amarahnya ke Desa Karang Gintung. Petir menyambar perbukitan tanpa henti, menerangi lereng-lereng basah yang sejak dulu dipercaya menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar mati.
Saya masih kecil ketika pertama kali mendengar cerita tentang tanah itu.
Tentang makam-makam lama yang bergerak sendiri di tengah malam.
Tentang mayat-mayat yang hilang tertelan longsor.
Dan tentang suara tangisan yang kadang terdengar dari bawah tanah ketika hujan turun terlalu lama.
Dulu, Karang Gintung hanyalah desa sunyi di perbukitan. Jalan setapak berlumpur membelah kebun singkong dan rumpun bambu yang selalu bergesekan ditiup angin. Saat malam datang, kabut turun begitu tebal sampai lampu rumah warga tampak seperti kunang-kunang redup di tengah gelap.
Orang-orang tua di desa kami percaya tanah di sini “hidup”.
Bukan hidup seperti tanah biasa.
Tapi hidup karena menyimpan terlalu banyak kematian.
Puluhan tahun sebelum Pak Sawon datang, longsor besar pernah menghantam lereng pemakaman desa. Hujan turun tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti. Pada malam terakhir, suara gemuruh terdengar dari bukit seperti ribuan orang berteriak bersamaan dari dalam tanah.
Lereng makam runtuh.
Kuburan-kuburan tua meluncur turun bersama lumpur hitam dan pohon-pohon besar yang tercabut dari akarnya. Warga yang nekat melihat dari kejauhan mengaku menyaksikan nisan bergerak seperti diseret sesuatu dari bawah tanah.
Sebagian makam pecah.
Sebagian jenazah keluar dari liang.
Dan sebagian lagi… hilang entah ke mana.
Pagi harinya, udara desa berubah aneh.
Bau tanah basah bercampur anyir seperti darah memenuhi perkampungan. Warga menemukan tulang-belulang tersangkut di akar pohon dan kain kafan robek menggantung di semak-semak.
Ada mayat yang ditemukan dalam posisi terbalik.
Ada tengkorak tanpa tubuh.
Ada juga liang kubur kosong, padahal warga yakin jasad di dalamnya belum pernah dipindahkan.
Karena ketakutan, semua sisa jasad akhirnya dikumpulkan dan dimakamkan ulang dalam satu liang besar di atas bukit.
Tapi para tetua desa percaya… tidak semuanya ikut terkubur kembali.
Ada yang masih tertinggal di bawah sana.
Menunggu.
Sejak kejadian itu, tak ada warga yang berani melewati bekas longsoran saat maghrib. Bahkan siang hari pun tempat itu terasa dingin seperti tidak pernah disentuh matahari. Kabut selalu turun lebih cepat di sana, dan angin yang berhembus membawa bau busuk samar seperti bangkai lama yang terkubur.
Beberapa orang mengaku melihat pocong berdiri di antara pohon pisang.
Ada yang mendengar suara orang menggali tanah tengah malam.
Dan ada pula yang bersumpah pernah melihat perempuan bermulut sobek berdiri di pinggir jalan sambil tertawa tanpa suara.
Lalu datanglah Pak Sawon.
Pendatang keras kepala yang membeli tanah bekas longsoran itu tanpa peduli semua cerita yang beredar.
Ia membangun kebun albasia dan pisang. Setiap hari ia bekerja dari pagi sampai malam, seolah tanah itu hanyalah lahan biasa.
Padahal warga tahu…
Tanah itu tidak pernah benar-benar kosong.
Suatu sore di warung kopi, beberapa orang mencoba memperingatkannya.
“Pak… jangan bangun rumah di sana,” kata seorang warga pelan. “Tempat itu masih ada penghuninya.”
Pak Sawon cuma tertawa kecil.
“Hantu itu cuma cerita orang takut.”
Kalimat itu menjadi awal dari semuanya.
Rumahnya akhirnya berdiri.
Bangunannya besar untuk ukuran desa. Dinding bata kokoh, atap tinggi, dan halaman luas menghadap lereng bekas makam. Dari kejauhan rumah itu tampak megah… tapi entah kenapa selalu terlihat gelap, bahkan saat matahari bersinar terang.
Gangguan dimulai beberapa minggu setelah mereka pindah.
Awalnya hanya suara langkah kaki di atap saat tengah malam.
Lalu suara kursi diseret sendiri.
Piring berpindah tempat.
Pintu terbuka perlahan padahal terkunci rapat.
Namun yang paling mengerikan adalah suara panggilan.
Suara itu meniru suara anggota keluarga.
Persis.
Suatu malam saya sendiri mengalaminya.
Saat melewati depan rumah Pak Sawon, saya mendengar ibu saya memanggil dari arah kebun.
“Nak…”
Suara itu lirih. Basah. Seperti keluar dari mulut orang yang tenggorokannya penuh lumpur.
Saya hampir menjawab.
Tapi tubuh saya mendadak dingin ketika sadar… ibu saya sedang di rumah.
Dan suara itu datang dari arah bekas makam.
Malam-malam berikutnya, teror semakin menjadi.
Warga mulai melihat sosok berdiri di teras rumah Pak Sawon saat hujan turun. Kadang menyerupai istrinya. Kadang menyerupai anaknya, Daryati.
Tapi saat didekati…
Tidak ada siapa-siapa.
Suasana rumah itu berubah seperti hidup dalam mimpi buruk yang tidak pernah selesai.
Anak-anak berhenti bermain di sekitar sana.
Orang dewasa memilih memutar jalan lebih jauh.
Bahkan anjing-anjing desa tidak pernah mau mendekati pagar rumah itu. Mereka hanya berdiri jauh sambil melolong ke arah rumah kosong tersebut setiap malam.
Lalu terjadilah kejadian yang membuat Pak Sawon mulai kehilangan keberaniannya.
Sore itu hujan gerimis turun tipis. Langit merah pucat seperti daging mentah. Pak Sawon sendirian di rumah karena istri dan anaknya sedang menginap di rumah saudara.
Ia mendengar suara perempuan bersenandung dari dalam kamar.
Pelan.
Merdu.
Namun nadanya terdengar patah-patah seperti kaset rusak.
Saat mengintip dari pintu, ia melihat seseorang duduk di depan cermin.
Daryati.
Rambut panjangnya terurai menutupi punggung.
Tubuhnya diam sambil menyisir rambut perlahan.
Pak Sawon sempat heran.
Bukankah anaknya sedang pergi?
“Daryati…”
Tak ada jawaban.
Sosok itu tetap menyisir rambut.
Perlahan.
Pelan.
Kreeet…
Kreeet…
Suara sisir terdengar seperti menggores tulang.
Pak Sawon melangkah mendekat.
Dan saat itulah semuanya berubah.
Di pantulan cermin, wajah anaknya bukan wajah manusia lagi.
Mulutnya robek sampai ke telinga.
Kulit wajahnya hancur seperti mayat busuk yang digali dari kubur.
Bola matanya putih seluruhnya.
Dan yang paling mengerikan…
Sosok itu tersenyum.
Bukan kepada bayangannya.
Tapi langsung kepada Pak Sawon melalui pantulan cermin.
Pak Sawon menjerit dan lari keluar rumah tanpa berani menoleh.
Sejak hari itu, penampakan mulai muncul dalam berbagai rupa.
Kadang warga melihat “Pak Sawon” berdiri di kebun saat maghrib, padahal Pak Sawon sedang berada di desa sebelah.
Kadang terdengar suara Daryati menangis dari sumur belakang rumah, meski anak itu sedang tidur di dalam.
Dan kadang…
Ada yang melihat seseorang berdiri di jendela lantai atas sambil tersenyum terlalu lebar.
Puncaknya terjadi pada malam paling mengerikan yang pernah dialami Desa Karang Gintung.
Hujan turun sangat deras malam itu. Angin mengguncang pohon-pohon albasia sampai terdengar seperti suara orang meratap.
Pak Sawon pulang dari kenduri sekitar jam sebelas malam.
Saat sampai di depan rumah, suasana terasa aneh.
Tidak ada suara jangkrik.
Tidak ada suara angin.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Ia mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
Beberapa detik kemudian pintu terbuka perlahan.
Dan Pak Sawon langsung membeku.
Yang berdiri di balik pintu adalah dirinya sendiri.
Wajahnya sama.
Tubuhnya sama.
Bahkan sorot matanya sama.
Sosok itu tersenyum tipis.
“Masuk, Won…”
Suaranya identik.
Persis.
Pak Sawon mundur gemetar. Napasnya memburu. Tubuhnya lemas seperti seluruh darahnya disedot keluar.
Lalu sosok itu membuka mulut lebih lebar.
Terlalu lebar.
Sampai rahangnya berbunyi patah.
Pak Sawon menjerit dan berlari kembali ke rumah kenduri.
Beberapa warga yang mendengar ceritanya akhirnya ikut kembali ke rumah untuk memastikan.
Dan itulah kesalahan terbesar mereka.
Karena ketika sampai di depan rumah…
Mereka melihat tiga tubuh tergantung di teras.
Pak Sawon.
Istrinya.
Dan Daryati.
Tubuh mereka bergoyang perlahan tertiup angin malam.
Leher mereka terpuntir tidak wajar.
Mata mereka terbuka lebar.
Mulut mereka tersenyum.
Air hujan menetes dari ujung kaki mereka ke tanah berlumpur.
Tik…
Tik…
Tik…
Salah satu warga bersumpah melihat tubuh-tubuh itu bergerak sendiri seperti mencoba turun dari tali.
Semua orang langsung lari tunggang-langgang.
Ada yang muntah di jalan.
Ada yang menangis histeris.
Dan Pak Sawon sendiri jatuh pingsan di tengah hujan.
Menjelang subuh, ia ditemukan tergeletak dekat kebun dengan tubuh dingin membiru.
Sejak malam itu, rumah tersebut benar-benar ditinggalkan.
Namun teror tidak pernah berhenti.
Kadang terdengar suara orang berjalan di dalam rumah kosong.
Kadang lampu menyala sendiri padahal listrik sudah diputus bertahun-tahun.
Dan saat hujan turun menjelang maghrib…
Beberapa warga masih melihat sosok perempuan berdiri di jendela lantai atas.
Diam.
Memperhatikan jalan.
Mulutnya robek sampai ke telinga.
Pak Sawon sempat mencoba meminta bantuan kyai dan paranormal. Ritual dilakukan berkali-kali. Ayat suci dibacakan semalaman.
Tapi setiap ritual selesai, selalu ada suara ketukan dari bawah lantai rumah.
Tok…
Tok…
Tok…
Seolah sesuatu di bawah tanah sedang mengetuk dari dalam kubur.
Salah satu orang pintar akhirnya berkata dengan wajah pucat:
“Yang tinggal di sini bukan satu…”
“…dan mereka tidak mau pergi.”
Kini rumah itu masih berdiri di tengah semak liar dan pohon albasia yang menghitam dimakan usia. Atapnya sebagian runtuh. Jendelanya pecah. Tapi anehnya, kadang terlihat seperti ada bayangan berjalan di balik tirai saat malam hujan.
Tidak ada warga yang berani mendekat.
Tidak ada yang mau membeli tanah itu.
Karena semua orang di Karang Gintung tahu…
Ada sesuatu yang masih tinggal di sana.
Sesuatu yang terkubur bersama makam-makam lama.
Dan setiap kali saya melewati jalan dekat rumah itu saat maghrib, saya selalu merasa ada mata yang mengawasi dari balik jendela gelap.
Menunggu.
Memperhatikan.
Seolah berharap saya berhenti berjalan… dan masuk ke dalam rumah itu.
Karena mungkin…
penghuni rumah Pak Sawon belum selesai mencari teman baru.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











