Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Internasional

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

badge-check

Dana Rp263 triliun untuk Gaza dilaporkan dialihkan ke Israel. Simak kronologi, sumber laporan, dan dampaknya bagi krisis kemanusiaan.(Istimewa) Perbesar

Dana Rp263 triliun untuk Gaza dilaporkan dialihkan ke Israel. Simak kronologi, sumber laporan, dan dampaknya bagi krisis kemanusiaan.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – Kadang, yang bikin dunia geleng-geleng bukan cuma perang, tapi juga arah uangnya. Di Washington, D.C., kabar yang beredar sejak 18 April 2026 ini rasanya seperti plot twist yang terlalu gelap untuk sekadar disebut kebijakan.

Nama Donald Trump kembali jadi sorotan. Bukan karena kampanye atau pidato kontroversial, tapi karena laporan yang menyebut dana jumbo sekitar 17 miliar dolar AS (kurang lebih Rp263,5 triliun) yang awalnya dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi di Jalur Gaza, justru dialihkan ke Israel.

Informasi ini pertama kali mencuat dari media Lebanon, Al Akhbar, lalu ikut digaungkan oleh Press TV dan CGTN. Kombinasi sumber ini saja sudah cukup bikin publik mengernyit: ini bukan kabar receh.

Apalagi, waktu kemunculannya berbarengan dengan memanasnya konflik kawasan termasuk eskalasi serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari. Di tengah situasi seperti itu, kabar soal “pengalihan dana” jadi terdengar bukan sekadar teknis anggaran, tapi keputusan yang sarat konsekuensi politik.

Yang bikin makin pahit, dana itu bukan angka kecil yang bisa hilang di catatan kaki laporan. Dana tersebut dikumpulkan dari kesepakatan internasional dalam forum global seperti World Economic Forum Annual Meeting di Davos, Januari lalu. Rencananya cukup mulia: membantu sekitar 350 ribu keluarga di Gaza, menyediakan hunian sementara, hingga membangun ulang infrastruktur yang hancur.

Tapi realitasnya? Nol besar.

Nickolay Mladenov, yang menjabat sebagai perwakilan tinggi Dewan Perdamaian bentukan AS, secara terbuka menyatakan bahwa dana tersebut sudah “habis total”. Pernyataan itu disampaikan langsung kepada komite administratif Gaza yang dipimpin Ali Shaath.

Kalimat “habis total” di sini terasa lebih dingin dari sekadar laporan keuangan. Karena di balik angka itu, ada ratusan ribu keluarga yang tadinya berharap bisa punya atap lagi, punya listrik lagi, atau sekadar hidup tanpa bayang-bayang reruntuhan.

Lebih ironis lagi, laporan menyebut belum ada satu pun program bantuan yang benar-benar berjalan. Tidak ada pembangunan, tidak ada distribusi signifikan, tidak ada tanda-tanda bahwa dana sebesar itu pernah menyentuh tanah Gaza.

Di sisi lain, reaksi global mulai bermunculan. Bukan cuma soal kemarahan, tapi juga soal kepercayaan. Publik internasional mulai mempertanyakan: kalau dana kemanusiaan saja bisa “berubah arah”, lalu apa yang bisa benar-benar dipegang dari komitmen global?

Situasinya makin rumit karena pengelola bantuan di Gaza disebut-sebut diminta untuk diam dan menghentikan aktivitas. Dalam bahasa sederhana: jangan ribut, jangan bergerak. Padahal, tanpa aliran dana yang jelas, kondisi kemanusiaan di sana justru berpotensi makin memburuk.

Pada akhirnya, cerita ini bukan cuma soal angka triliunan rupiah yang berpindah jalur. Ini soal bagaimana harapan bisa dikumpulkan di satu meja konferensi internasional—lalu menguap begitu saja sebelum sempat sampai ke orang-orang yang paling membutuhkan.

Dan seperti biasa, yang paling terdampak bukan mereka yang duduk di ruang rapat, tapi mereka yang bahkan tak punya kursi untuk sekadar duduk dengan tenang di rumahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

20 Juli 2026 - 20:13

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Juni 2026 - 18:44

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Edoardo Agnelli: Pewaris Juventus yang Masuk Islam, Dicoret dari Keluarga, lalu Tewas Misterius

26 Mei 2026 - 20:24

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Trending di Internasional