Menu

Mode Gelap
Rumah Dokter Tua di Pakem Orderan yang Tidak Pernah Selesai 4 Prajurit BAIS TNI Jadi Terdakwa, Motif Penyiraman Aktivis KontraS Diduga Dendam Pribadi Bongkar Kelicikan Ade Armando, Potong Ceramah JK Demi Adsense dan Balas Dendam Politik. Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes Proyek Motor Listrik Rp1,2 Triliun untuk BGN Disorot, Kantor Pemenang Tender Mendadak Dijaga Aparat Ahmad Luthfi Kampanye Hemat Energi Naik Sepeda Ratusan Juta, Publik: Ini Hemat atau Gaya?

Internasional

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

badge-check


					Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa) Perbesar

Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – Kalau biasanya orang ribut soal tiket konser yang dibatasi, di Yerusalem ceritanya jauh lebih serius: akses ibadah pun ikut disaring. Dan bukan ibadah biasa, tapi momen sakral seperti Minggu Palma sampai Paskah.

Dalam laporan terbaru Maret–April 2026, situasi kebebasan beribadah umat Kristiani di Yerusalem lagi nggak baik-baik saja. Tegang, kalau mau diringkas dalam satu kata.

Pemerintah Israel memberlakukan pembatasan ketat bagi jemaat yang ingin mengikuti Misa Minggu Palma di Kota Tua. Ibadah yang seharusnya jadi momen refleksi justru berubah jadi urusan izin dan akses.

Yang bikin situasi ini makin terasa “nggak biasa”, bukan cuma jemaat biasa yang terdampak. Pejabat tinggi gereja pun ikut kena.

Salah satunya adalah Pierbattista Pizzaballa. Ia dilaporkan sempat dihentikan aparat keamanan saat berjalan menuju lokasi ibadah, bahkan diminta berbalik arah. Kalau sudah sampai level ini, rasanya bukan sekadar pengaturan teknis.

Bukan cuma Minggu Palma, pembatasan juga merembet ke situs paling sakral bagi umat Kristiani, yaitu Gereja Makam Kudus. Tempat yang biasanya jadi pusat perayaan Paskah itu dilaporkan mengalami penutupan atau setidaknya pembatasan akses yang signifikan.

Bayangkan: momen paling penting dalam kalender iman, tapi jalannya malah dipersempit.

Dari sisi pemerintah Israel, alasan yang disampaikan sebenarnya klasik: keamanan. Mereka mengklaim pembatasan dilakukan demi menjaga keselamatan jemaat di tengah situasi yang dianggap sensitif.

Masalahnya, bagi para pemimpin gereja, alasan itu terasa kurang pas. Mereka menilai langkah tersebut berlebihan dan tidak sebanding dengan risiko yang ada. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ini dianggap bukan sekadar pengamanan, tapi sudah menyentuh ranah pembatasan hak beribadah.

Reaksi pun datang, bukan cuma dari internal gereja, tapi juga dari komunitas internasional yang mulai ikut angkat suara.

Di titik ini, kita jadi sadar satu hal: di beberapa belahan dunia, menjalankan ibadah bukan cuma soal iman, tapi juga soal akses, izin, dan kadang negosiasi dengan keadaan.

Dan ironisnya, semua itu terjadi di kota yang selama ini dikenal sebagai simbol spiritual bagi banyak agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein Files, DOJ Buka Dokumen Lama yang Seret Nama Elite Dunia

12 April 2026 - 13:05

Konflik NATO Memanas: Donald Trump Sebut Anggota “Pengecut” Usai Tolak Serang Iran, Emmanuel Macron Balas Seret Isu Pribadi

12 April 2026 - 12:55

Ogah dituduh, Israel Bantah Terlibat, Tuding Hizbullah Tanggung Jawab Ledakan yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon Selatan

1 April 2026 - 12:13

Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 3 Prajurit TNI, 5 Lainnya Terluka

31 Maret 2026 - 17:11

Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

26 Maret 2026 - 08:45

Trending di Internasional