Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Internasional

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

badge-check

Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa) Perbesar

Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – Kalau biasanya orang ribut soal tiket konser yang dibatasi, di Yerusalem ceritanya jauh lebih serius: akses ibadah pun ikut disaring. Dan bukan ibadah biasa, tapi momen sakral seperti Minggu Palma sampai Paskah.

Dalam laporan terbaru Maret–April 2026, situasi kebebasan beribadah umat Kristiani di Yerusalem lagi nggak baik-baik saja. Tegang, kalau mau diringkas dalam satu kata.

Pemerintah Israel memberlakukan pembatasan ketat bagi jemaat yang ingin mengikuti Misa Minggu Palma di Kota Tua. Ibadah yang seharusnya jadi momen refleksi justru berubah jadi urusan izin dan akses.

Yang bikin situasi ini makin terasa “nggak biasa”, bukan cuma jemaat biasa yang terdampak. Pejabat tinggi gereja pun ikut kena.

Salah satunya adalah Pierbattista Pizzaballa. Ia dilaporkan sempat dihentikan aparat keamanan saat berjalan menuju lokasi ibadah, bahkan diminta berbalik arah. Kalau sudah sampai level ini, rasanya bukan sekadar pengaturan teknis.

Bukan cuma Minggu Palma, pembatasan juga merembet ke situs paling sakral bagi umat Kristiani, yaitu Gereja Makam Kudus. Tempat yang biasanya jadi pusat perayaan Paskah itu dilaporkan mengalami penutupan atau setidaknya pembatasan akses yang signifikan.

Bayangkan: momen paling penting dalam kalender iman, tapi jalannya malah dipersempit.

Dari sisi pemerintah Israel, alasan yang disampaikan sebenarnya klasik: keamanan. Mereka mengklaim pembatasan dilakukan demi menjaga keselamatan jemaat di tengah situasi yang dianggap sensitif.

Masalahnya, bagi para pemimpin gereja, alasan itu terasa kurang pas. Mereka menilai langkah tersebut berlebihan dan tidak sebanding dengan risiko yang ada. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ini dianggap bukan sekadar pengamanan, tapi sudah menyentuh ranah pembatasan hak beribadah.

Reaksi pun datang, bukan cuma dari internal gereja, tapi juga dari komunitas internasional yang mulai ikut angkat suara.

Di titik ini, kita jadi sadar satu hal: di beberapa belahan dunia, menjalankan ibadah bukan cuma soal iman, tapi juga soal akses, izin, dan kadang negosiasi dengan keadaan.

Dan ironisnya, semua itu terjadi di kota yang selama ini dikenal sebagai simbol spiritual bagi banyak agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

20 Juli 2026 - 20:13

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Juni 2026 - 18:44

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Edoardo Agnelli: Pewaris Juventus yang Masuk Islam, Dicoret dari Keluarga, lalu Tewas Misterius

26 Mei 2026 - 20:24

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Trending di Internasional