PRABAINSIGHT.COM – LEBANON – Kadang konflik itu tidak cuma soal peluru dan wilayah, tapi juga menyentuh hal-hal yang lebih sunyi seperti simbol keyakinan.
Di sebuah desa bernama Debl, sebuah patung Yesus Kristus mendadak jadi pusat perhatian dunia. Bukan karena ziarah atau perayaan, tapi karena sebuah insiden yang terekam kamera dan menyebar cepat di media sosial. Foto itu ditonton jutaan kali, memantik reaksi dari berbagai penjuru, terutama komunitas Kristen.
Yang bikin perkara ini makin serius, Israel Defense Forces tidak membantah kejadian tersebut. Mereka justru mengonfirmasi keaslian gambar yang beredar.
Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa tentara yang terlibat sedang menjalankan operasi militer di wilayah Lebanon selatan. Pihak militer juga menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan tentu setelah proses investigasi selesai dilakukan.
Respons tidak berhenti di level militer. Dari ranah politik, suara ikut bermunculan. Anggota Knesset, Ahmad Tibi, menilai tindakan terhadap simbol keagamaan sebagai hal yang serius. Sementara Ayman Odeh memilih menyindir, seolah sudah bisa menebak bagaimana pembelaan yang akan muncul dari pihak berwenang.
Di luar itu, kekhawatiran lebih luas ikut mencuat. Sejumlah kelompok dan pengamat Kristen melihat insiden ini bukan sekadar kejadian tunggal, melainkan bagian dari pola yang lebih besar terkait perlakuan terhadap simbol keagamaan di wilayah konflik.
Reaksi bahkan sampai ke komunitas Katolik di Amerika Serikat. Mereka menilai peristiwa ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan berbagai pembatasan yang sebelumnya sudah terjadi.
Data dari kelompok hak asasi manusia pun menambah lapisan cerita. Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat ratusan insiden yang menargetkan komunitas keagamaan di kawasan tersebut. Di Yerusalem, laporan tentang pelecehan terhadap rohaniwan hingga pembatasan akses ke situs suci bukan lagi hal baru.
Sementara itu, di Lebanon selatan sendiri, komunitas Kristen di wilayah seperti Alma al-Shaab, Rmeich, Debl, Qlayaa, hingga Ain Ebel ikut merasakan dampak eskalasi konflik sejak Maret 2026. Meski situasi tidak menentu, sebagian warga memilih tetap bertahan—entah karena keyakinan, atau karena memang tidak punya banyak pilihan lain.











